Bukan “Kiamat”, Penerapan AI Justru Dinilai Jadi Peluang Besar bagi Industri Perbankan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor perbankan bukan berarti akan menjadi “kiamat” bagi industri. Sebaliknya, teknologi ini justru membuka peluang untuk menciptakan layanan yang lebih personal dan efisien bagi nasabah.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel Ricky Satria mengungkapkan, AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, termasuk untuk memberikan penawaran produk keuangan yang lebih tepat sasaran kepada masyarakat.
“Saya sih tidak melihat ini (AI) kiamat, tapi malah menjadi opportunity bagaimana menjual produk yang lebih terpersonalisasi” ujarnya, dalam webinar bertajuk ‘Prinsip-Prinsip Penerapan AI pada Bank di Indonesia,” Rabu (9/7/2025).
Baca Juga
Google Hadirkan Inovasi AI untuk 'Search' dan YouTube, Apa Saja Kelebihannya?
Ricky mencontohkan, dalam pengajuan kredit modal kerja misalnya, AI dapat menghitung risiko secara lebih akurat sehingga bunga kredit bisa disesuaikan secara individual. “Saya mungkin dilihat risikonya besar sehingga bunga yang dikasih ke saya misalnya 8,25%, sementara orang lain bisa saja diberikan bunga 7%. Karena berbagai data diramu,” sambung dia.
Lebih jauh, teknologi ini juga bisa menjawab tantangan inklusi keuangan di Indonesia, terutama bagi pelaku UMKM yang selama ini sulit mendapatkan akses terhadap kredit perbankan.
“Misalnya, dia pakai salah satu layanan QRIS sebagai merchant, di dalamnya ada fitur minta kredit, disediakan juga dashboard produk apa yang dijual, lalu kantor cabang terdekat langsung menelepon, daan lain sebagainya. Ini akan sangat membantu,” kata Ricky.
Ia juga melihat peran teknologi sebagai akselerator untuk menyesuaikan layanan perbankan dengan kebutuhan generasi milenial dan digital native yang kini mendominasi populasi di Indonesia.
“Dunia keuangan masih akan dibutuhkan sampai kapanpun, hanya terjadi perubahan karena market-nya berubah. Karena sekarang generasi milenial kita itu hampir 60%,” ucap Ricky.
Baca Juga
OJK: Kinerja Intermediasi Perbankan Relatif Stabil dengan Profil Risiko yang Terjaga di Mei 2025
Sementara itu, Pakar Perbankan Digital sekaligus Penulis Buku AI for Bankers Bayu Prawira Hie mengingatkan adanya risiko mikro dan sistemik dari penerapan AI yang tidak dipersiapkan oleh masing-masing bank secara matang.
“Kalau kiamat mikro bisa saja terjadi buat bank yang tidak siap. Karena di dunia digital ini risikonya besar sekali, sekali masuk (hacker) bisa diambil besar sekali jumlahnya,” katanya.
Bayu menyoroti pentingnya kesiapan para pimpinan bank dalam menghadapi transformasi digital, termasuk melalui asesmen kematangan digital atau maturity assessment of bank yang selama ini belum maksimal di level direksi dan komisaris.
“Biasanya mereka mengira itu hanya laporan compliance, audit, atau dari divisi yang di bawah. Padahal direksi dan komisaris itu penting untuk ikut,” ujarnya.
Di sisi bersamaan, ia juga menyoroti potensi risiko sistemik jika penggunaan AI di bank-bank nasional terlalu bergantung kepada vendor tertentu. “Kalau bank-bank di Indonesia ini pakai vendor AI dengan sistem yang sangat terbatas itu bisa terjadi risiko sistemik yang susah diidentifikasi dan tentunya selalu dicegah oleh otoritas,” ucap dia.
Namun begitu, ia menilai AI bukan ancaman langsung bagi eksistensi perbankan. “Kalau kita lihat AI ini apakah kemudian menjadi ancaman untuk perbankan secara keseluruhan, secara khusus AI tidak ya,” kata Bayu.
Seperti diketahui, penerapan AI yang masif di berbagai sektor, termasuk perbankan, menjadi tantangan tersendiri. Sebagian publik khawatir terhadap eksistensi perbankan ke depan, bahkan ada yang menganggap AI akan menjadi “kiamat” bagi industri ini seiring dengan risiko keamanan siber dan potensi peretasan oleh hacker.

