Ketika Dunia Nyaris “Kiamat”
JAKARTA, investortrust.id - Empat tahun silam, dunia nyaris “kiamat”. Jutaan orang meninggal, ratusan juta masuk rumah sakit, perekonomian terjun bebas, menuju titik nadir.
Adalah pandemi Covid-19 yang membuat dunia nyaris terhenti. Covid-19, salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah umat manusia, tak cuma merenggut jutaan nyawa, tapi juga meluluhlantakkan tatanan sosial dan ekonomi di seluruh dunia.
Covid-19 bermula dari virus misterius yang tiba-tiba muncul di Wuhan, China pada November 2019. Virus ini awalnya menyerang belasan orang dengan gejala penyakit mirip pneumonia, demam, kesulitan bernapas, dan gangguan paru-paru.
Dalam hitungan hari, jumlah korban naik berlipat ganda. Sebagian gagal diselamatkan. Virus aneh ini kemudian menyebar cepat ke segenap penjuru dunia, dengan dampak sungguh mengerikan.
“Virus horor” tersebut baru berhasil diidentifikasi pada 31 Desember 2019, setelah korban berjatuhan. Pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menamakan penyakit menular yang mematikan itu sebagai Coronavirus Disease-2019 (Covid-19).
Sebulan setelahnya, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global dan menjadikannya pandemi ke-5 sejak kemunculan pandemi flu pada 1918.
Covid-19 menyebar sangat cepat ke negara-negara lain di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Saat Covid ditetapkan sebagai pandemi global, korban terinfeksi sudah mencapai 121.000 orang. Jumlah kasus di luar Tiongkok melesat 13 kali lipat, jumlah negara yang terinfeksi melonjak 300%. Hanya dalam tempo lima bulan, 213 negara telah terinfeksi Covid-19.
Kewalahan Hadapi Covid
Sejumlah negara di Eropa dan Amerika Latin bahkan sempat kewalahan menyediakan peti mati bagi warganya akibat kasus kematian Covid yang sangat tinggi, di luar perkiraan.
Foto-foto di media massa memperlihatkan jenazah-jenazah dibiarkan tergeletak di pinggir jalan di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador, salah satu negara di Amerika Latin yang paling merana gara-gara Covid.
Italia juga sempat keteteran menghadapi penyebaran Covid-19 meski negara itu memberlakukan lockdown (penguncian wilayah). Hanya dalam sepekan setelah WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global, jumlah kasus corona di Italia mencapai 31 ribu orang, 2.500 di antaranya meninggal dunia.
Kota Bergamo, Italia Utara, merupakan wilayah terdampak paling parah. Tumpukan peti mati berisi tubuh-tubuh manusia yang sudah terbujur kaku bertebaran di kota itu. Jumlah jenazah yang terus bertambah, seperti diberitakan media massa, membuat para pengurus pemakaman dan pengelola rumah duka kewalahan.
Indonesia juga dikepung Covid. Sebagaimana diumumkan Presiden Jokowi, Covid-19 terkonfirmasi resmi masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020 setelah warga Indonesia asal Depok, Jawa Barat, dinyatakan positif terkena virus tersebut.
Jumlah pasien yang terpapar Covid-19 terus bertambah. Pada 9 April 2020, pandemi corona telah menyebar ke 34 provinsi di Indonesia.
Total jenderal, Covid-19 telah meregang nyawa 6,9 juta orang di seluruh dunia, dari sekitar 700 juta orang yang terpapar. Di Indonesia, hingga 22 Juni 2023, Covid menjangkiti 6.811.528orang. Dari jumlah itu, 6.640.426 orang (97,5%) dinyatakan sembuh dan 161.857 orang (2,4%) meninggal dunia.
Syukurlah, per 5 Mei 2023, WHO menyatakan pandemi Covid-19 berakhir. “Kami deklarasikan bahwa Covid-19 sudah bukan darurat kesehatan global," kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mengumumkan berakhirnya pandemi Covid-19 di seluruh dunia pada 5 Mei 2023.
Sebulan kemudian, pada 21 Juni 2023, Presiden Jokowi menetapkan status pandemi Covid-19 di seluruh wilayah NKRI telah berakhir dan mengubah status faktual Covid-19 menjadi penyakit endemi.
Berakhirnya status pandemi di Indonesia ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 17 Tahun 2023 tentang Penetapan Berakhirnya Status Pandemi Covid-19 di Indonesia.
Tak Siap Menghadapi Covid
Seluruh penduduk di muka bumi memang tak siap menghadapi Covid-19, virus yang sama sekali baru, muncul tiba-tiba, menyebar sangat cepat dan masif, menimbulkan kerusakan yang sangat parah di bidang kesehatan, ekonomi, dan sosial.
Ketidaksiapan menghadapi pandemi Covid-19 jelas terlihat pada respons pemerintah berbagai negara yang cenderung lamban. Para pemimpin negara, termasuk di negara-negara maju, tampak gugup dan kalang kabut. Akibatnya, upaya mencegah penyebaran Covid beserta dampaknya terhadap perekonomian menjadi kurang efektif.
Negara-negara di dunia umumnya dihadapkan pada dua persoalan yang sama-sama dilematis dalam merespons pandemi corona. Dilema pertama, apakah harus melakukan pembatasan dan penguncian wilayah secara ekstrem (lockdown) guna mencegah penyebaran Covid dengan konsekuensi ekonomi mengalami stagnasi.
Dilema kedua, apakah membiarkan saja aktivitas ekonomi tetap berjalan, dengan konsekuensi korban Covid terus berjatuhan, yang pada titik tertentu akan membuat kegiatan ekonomi terhenti karena masyarakat takut tertular Covid-19.
“Sebagian negara akhirnya terpaksa melakukan trade off (mengorbankan salah satu aspek) dalam mengatasi pandemi Covid-19,” kata penulis buku Le'Parle Covidnomics, Kamrussamad, kepada investortrust.id.
Pada awal-awal kemunculan Covid, tak semua orang percaya virus itu bisa menular dalam sekejap dan dapat merenggut nyawa dalam hitungan jam.
Presiden Brasil saat itu, Jair Bolsonaro, termasuk yang meremehkan Covid-19. “Virus Corona tidak lain adalah flu ringan saja,” ujar Jair Bolsonaro, tak lama setelah virus corona masuk ke Brasil pada 26 Februari 2020.
Bolsonaro, seperti diberitakan berbagai media massa, malah kerap ikut berdemo sambil mengabaikan protokol kesehatan, untuk menentang kebijakan pemerintah negara bagian yang menerapkan lockdown.
Jair Bolsonaro menganggap lockdown hanya akan merusak perekonomian Brasil. Dengan alasan itu, ia memveto sejumlah pasal dalam RUU protokol kesehatan selama pandemi, seperti pasal tentang kewajiban setiap perusahaan menyediakan masker dan alat pelindung diri dari virus corona bagi para karyawannya.
Bolsonaro tetap memandang remeh Covid meski dirinya dan anggota keluarganya tertular virus tersebut setelah ia menggelar jamuan makan siang bersama Duta Besar AS untuk Brasil saat itu, Todd Chapman dan beberapa menteri, tanpa menggunakan masker, duduk berimpit-impitan.
Faktanya, Brasil menjadi salah satu negara yang paling menderita akibat pandemi Covid-19 dan sempat berada di peringkat ke-2 setelah AS sebagai negara dengan jumlah warga paling banyak terinfeksi virus corona.
Hasil Konspirasi?
Setelah empat tahun berlalu, penyebab pasti kemunculan Covid-19 belum juga terungkap. Saat virus itu merebak, kalangan ilmuwan memiliki asumsi kuat bahwa Covid-19 berasal dari hewan. Apalagi pasien pertama kasus itu disebut-sebut terinfeksi di pasar makanan laut dan margasatwa Huanan di Wuhan, China.
Berbagai spekulasi terus bermunculan bahwa virus corona adalah buah teori konspirasi. Tiga tahun setelah pandemi, Maret 2023, isu teori konspirasi kembali mencuat setelah Energy Department di AS mengonfirmasi laporan rahasia bahwa corona adalah virus yang lolos dari laboratorium.
Meski memiliki tingkat kepercayaan rendah, laporan ini menyegarkan kembali ingatan masyarakat dunia tentang kemunculan Covid-19 yang memicu ketegangan antara pemerintah AS dan China. AS menuduh China bertanggung jawab terhadap penyebaran Covid-19 di seluruh dunia.
AS curiga, virus Corona berasal dari laboratorium pusat penelitian virus di Wuhan yang “bocor” dan menginfeksi warga sipil. Tuduhan dilontarkan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS saat itu, Mike Pompeo yang mengeklaim Washington memiliki bukti bahwa patogen tersebut berasal dari Institut Virologi Wuhan.
Presiden AS kala itu, Donald Trump, juga terang-terangan menyerang Beijing. Trump yakin wabah corona berasal dari laboratorium di Wuhan.
Pemerintah Tiongkok membantah keras tudingan itu. Asisten Menlu China saat itu, Hua Chunying (saat ini Wakil Menlu) menuduh Mike Pompeo sebagai pembohong. China balik menuding militer AS-lah yang pertama kali membawa virus corona ke Kota Wuhan saat ratusan personel militer AS berada di kota itu untuk mengikuti Military World Games pada Oktober 2019.
AS juga menuduh WHO mendukung disinformasi China terhadap keberadaan wabah corona. Donald Trump menganggap WHO berpihak kepada China. Klimaksnya, AS memutuskan mundur dari WHO.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori konspirasi tersebut, Covid-19 mendatangkan teror psikologis tersendiri. Masyarakat menjadi asosial, curiga, waswas, takut, dan tidak percaya kepada orang lain.
“Sebagian masyarakat bahkan tak percaya terhadap keganasan Covid itu sendiri,” tutur penulis buku Le'Parle Covidnomics, Kamrussamad, politikus Partai Gerindra yang baru saja dilantik menjadi anggota DPR untuk kedua kalinya.
Respons Berbeda-beda
Setiap negara memberikan respons berbeda-beda terhadap Covid-19. Sebagian memilih kebijakan ekstrem berupa pembatasan dan penguncian akses wilayah secara ekstrem (lockdown). Sebagian lagi memilih kebijakan yang lebih longgar berupa pembatasan mobilitas manusia secara terukur. Ada pula yang tidak melakukan pembatasan sema sekali.
Negara yang memberlakukan lockdown beranggapan bahwa mata rantai Covid-19 harus diputus. Jika Covid berhasil diisolasi, roda ekonomi bisa tetap berputar.
Sebaliknya, negara yang memberlakukan kebijakan longgar beranggapan bahwa lockdown total akan membuat perekonomian kolaps. Bagi mereka, kebangkrutan ekonomi justru lebih mengerikan alih-alih kerusakan di bidang kesehatan.
Nah, ada pula yang berkeyakinan bahwa penyebaran Covid tak perlu dibendung. Alasannya, pada titik tertentu, penyebaran Covid secara masif akan menghasilkan kekebalan komunal (herd immunity).
Yang pasti, pengetatan yang dilakukan pemerintah di banyak negara, termasuk pengaturan jarak fisik (physical distancing) dan pengaturan jarak sosial (sosical distancing), mengakibatkan terjadinya perubahan dalam tatanan kehidupan sosial dan kegiatan ekonomi.
Di bidang sosial, kebijakan itu mengakibatkan berkurangnya interaksi langsung secara fisik antarmanusia. Interaksi tatap muka dan verbal hanya bisa dilakukan secara terbatas melalui teknologi digital.
Di bidang ekonomi, kebijakan lockdown (total maupun terbatas), sosical distancing, dan physical distancing mengakibatkan berkurangnya kegiatan transaksi jual beli yang berujung pada penurunan kegiatan produksi dan investasi.
Karena itu pula perekonomian global terjerumus ke dalam kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir. Akibat pandemi Covid-19, sebanyak 170 negara pada 2020 mengalami kontraksi ekonomi. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi global negatif 4%.
Covid juga menghancurkan negara-negara ekonomi besar yang tergabung dalam forum G20. Negara-negara G20 rata-rata terkontraksi alias minus 2,07% pada 2020.
Covid turut mengharu biru ekonomi negara-negara maju. Ekonomi Prancis minus 9%, Italia minus 9,2%, Inggris minus 10%, dan Jerman minus 5%. Ekonomi negara-negara berkembang, seperti Brasil, India, dan Meksiko tak luput dari amuk Covid, masing-masing minus 4,5%, minus 8%, dan minus 8,5%.
Hal serupa dialami negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Ekonomi Malaysia negatif 5,8%, Singapura negatif 6%, Thailand negatif 6,6%, dan Filipina minus 9,6%. Vietnam adalah satu-satunya negara Asean yang ekonominya positif pada 2020, yakni tumbuh 2,91%.
Di kawasan Timur Tengah, ekonomi Iran juga minus 1,5%, Qatar minus 4,5%, Uni Emirat Arab minus 6,6%, Kuwait minus 8%, dan Irak negatif 12%.
Bagaimana dengan Indonesia? Ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi 2,07% dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh positif 5,02%. Namun, pada 2021, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sudah kembali tumbuh positif 3,70%.
Bahkan, pada 2022 dan 2023, ekonomi Indonesia masing-masing tumbuh 5,31% dan 5,05%. Pada 2024, ekonomi Indonesia digadang-gadang masih melenggang di atas 5%.
”Keberhasilan Indonesia mengatasi Covid dan memulihkan ekonomi merupakan hasil kerja keras seluruh komponen bangsa,” tegas Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada acara penyerahan penghargaan penanganan Covid-19 di Jakarta, 20 Maret 2023.
Jokowi meminta agar semangat dan cara kerja selama menangani pandemi Covid-19 diteruskan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan lainnya yang dihadapi bangsa Indonesia.
Presiden secara khusus menyampaikan terima kasih sekaligus duka cita kepada tenaga kesehatan yang gugur dalam menangani Covid-19. “Banyak pula pihak yang bekerja melampaui tugas dan fungsinya. Bahkan tak sedikit yang menjadi sukarelawan untuk keselamatan bersama,” ucap Jokowi.**

