Mantan Bos BEI Hazan Zein Mahmud Sebut Kiamat Emiten Batu Bara Masih Jauh, Kenapa?
JAKARTA, investortrust.id – Peluncuran bursa karbon oleh Presiden Joko Widodo merupakan salah satu upaya yang dilakukan Indonesia dalam memangkas emisi sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC).
Diketahui Indonesia menaikan target NDC menjadi 31,89% dengan upaya sendiri dan target sebesar 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.
Selain bursa karbon, berbagai langkah konservasi dan transformasi energi juga dilakukan Indonesia. Upaya serupa dilakukan banyak negara di dunia, namun harus diakui ini tidak mudah, butuh dana besar dan jangka waktu panjang.
Tidak kalah penting tentu saja harus pararel dengan upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mendukung konservasi dan transisi energi. Sebuah pekerjaan yang sangat sulit!
Baca Juga
Atas alasan tadi, Mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Hazan Zein Mahmud meyakini, emiten-emiten berbasis energi fosil masih tetap punya tempat di mata investor. Kinerja mereka tidak akan redup seiring masifnya kampanye dan upaya konservasi energi, bahkan hingga satu dekade ke depan.
‘’Nyala energi fosil nampaknya belum akan redup dalam satu dekade mendatang. Betapapun gencarnya kampanye zero emission di seantero dunia. Betapapun keras nya negara negara berusaha melakukan konversi dan transformasi energi,’’ tulis Hasan Zein dalam sebuah pesan singkat yang diterima Investortrust.id Kamis, (28/9/2023).
Dikatakan, transformasi energi membutuhkan waktu yang panjang dan dana sangat besar. Sementara kebutuhan energi sesuatu yang tidak bisa ditangguhkan.
Lebih lanjut, Hasan yang merupakan dirut pertama BEI yang menjabat di era tahun 1992 – 1997 tersebut mengatakan, produksi listrik dunia pada 2022 tercatat sebesar 29.165 terawatt. Naik 2,3% dibanding tahun sebelumnya.
Dilain sisi diakui, porsi EBT - angin, matahari, panas bumi - memang meningkat, tapi menurut dia batu bara tetap merupakan sumber energi utama, dengan porsi masih lebih dari 35%.
‘’Bahan bakar fosil, saat ini masih merupakan 80% lebih sumber energi global. Sementara pembangkit nuklir menunjukkan penurunan 4%. Cuaca ekstrim juga menurunkan produksi hydropower di China dan India,’’ tuturnya.
Baca Juga
Progres 19%, Proyek Peningkatan Kapasitas Dermaga Gilimanuk Rampung Jelang Nataru
Tingginya harga minyak bumi menunjukkan dilema kampanye energi berkelanjutan, dan sikap ambiguitas pada banyak negara. Investasi baru sektor migas mengalami penurunan, sementara permintaan naik.
"Kesenjangan yang mengerek harga naik. dalam hal minyak bumi, kesenjangan itu makin buruk karena sikap protektif kartel OPEC ++,’’ papar Komisaris Independen PT Wanteg Asset Management tersebut.
Dikatakan, tingginya harga migas dinikmati oleh Rusia yang ternyata dengan cerdik mampu "berkelit" dari sanksi barat. Pada tingkat harga brent mendekati US$ 100, limit harga US$ 60 per barrel yang ditetapkan barat, cenderung dikhianati oleh "konconya" sendiri.
China sebagai konsumen lebih dari 50% batu bara diunia tetap menunjukkan kenaikan impor. Aktivitas ekonomi, cuaca ekstrim dan persoalan kualitas batu bara dalam negeri menjadi pendorong. Impor batu bara China tahun ini diperkirakan naik 100 juta ton, menjadi 330 juta ton.
Karena itu kata dia, emiten yang bergerak di bidang minyak bumi, nampaknya akan menikmati panen raya, paling tidak sampai tahun depan.
"Di industri batu bara, masa keemasan emiten tahun 2022, mungkin tak akan terulang. Tapi kiamat batu bara masih jauh panggang dari api," pungkasnya.

