UOB Prediksi Tren Makan Tabungan Kelas Menengah Berlanjut Sepanjang 2025
JAKARTA, investortrust.id - Tren 'makan tabungan' pada kelompok masyarakat kelas menengah bakal terus berlanjut di tahun 2025 ini. Hal tersebut terjadi karena semakin menurunnya jumlah masyarakat yang memiliki simpanan di atas Rp 100 juta.
"Tren kelas menengah yang makan tabungan itu masih akan terus terjadi di tahun 2025, karena sekalipun terjadi deflasi harga pangan, kenyataannya harga barang-barang yang kita perlukan naik," kata Head of Deposit and Wealth Management PT Bank UOB Indonesia Vera Margaret saat ditemui usai menghadiri media literacy circle bersama Bank UOB di The St. Regis, Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Menurutnya, fenomena makan tabung pada akhirnya turut berkontribusi terhadap menurunnya jumlah masyarakat kelas menengah. Ia mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan jumlah masyarakat kelas menengah menurut dari 52 juta menjadi 47 juta. Belum lagi ditambah dengan masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta terus menurun.
"Kenapa makan tabungan itu terjadi? Ya itu tadi konsumsi, contohnya harga emas naiknya jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan penghasilan sehingga akhirnya pengeluaran lebih besar dibandingkan penghasilan. Pada saat pengeluaran lebih besar dari penghasilan kira-kira mengambil source income uangnya dari mana? Pasti tabungan," jelasnya.
Oleh karena itu dengan situasi inflasi yang diproyeksikan terus meningkat setiap tahunnya, Vera menyebut UOB Indonesia memandang pentingnya perencanaan keuangan yang lebih cermat untuk menjaga stabilitas dan ketahanan finansial kelas menengah.
Pada kesempatan tersebut Vera membagikan rumus perencanaan keuangan yang dibagi ke dalam tiga (3) hal. Pertama, alokasikan dana untuk menabung (savings) sebesar 10-20%. Selanjutnya adalah kebutuhan dasar (needs) berkisar 70-85% serta keinginan (wants) sebesar 5-10%.
"Tujuannya kenapa? Supaya tetap selalu ada sisanya (pendapatan) yang masih bisa ditabungkan berapapun itu," tuturnya.
Baca Juga
Bank UOB Luncurkan Fitur 'Digital Wealth', Nasabah Bisa Investasi Mulai Rp100.000
Sebagai informasi BPS mencatat jumlah penduduk yang tergolong kelas menengah menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Artinya, ada sekitar 9,48 juta orang yang keluar dari kategori kelas menengah dan turun ke kategori yang lebih rendah.
Penurunan ini diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori aspiring middle class atau kelompok yang ada diantara kelas menengah dan rentan miskin. Data BPS menunjukkan pada 2024, sebanyak 137,5 juta orang atau 49,22% dari total penduduk masuk dalam kategori ini.
BPS juga memperingatkan banyak dari penduduk kelas menengah saat ini berada di ambang batas bawah kelompok mereka dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp 2,04 juta per kapita per bulan. Sehingga ada kerentanan jika terganggu, kelompok ini akan masuk kembali ke aspiring middle class.
Sementara itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan nasabah dengan nominal di bawah Rp 100 juta menyusut pada awal 2025. Berdasarkan data distribusi simpanan LPS per Januari 2025, tiering nominal simpanan di bawah Rp 100 juta tercatat minus 2,6% secara bulanan. Angka ini merupakan penurunan tertinggi dibandingkan dengan nominal lainnya.
Total simpanan golongan nasabah ini mencapai Rp 1.078,77 triliun, atau setara dengan 12,1% dari total simpanan yang dicatat LPS sebesar Rp 8.920,28 triliun.
Baca Juga
Indonesia Kehilangan 4% Kelas Menengah, Tingkat Kosumsi Tergerus

