Tabungan Orang Kaya Meningkat meski Terus Berbelanja, Bagaimana Kelas Menengah Bawah?
JAKARTA, investortrust.id - Tabungan orang kaya meningkat meskipun mereka terus berbelanja. Fenomena itu muncul karena hasil investasi orang kaya di pasar modal dalam beberapa tahun terakhir mulai menghasilkan keuntungan alias cuan.
Berkebalikan dengan kondisi orang kaya, kondisi keuangan kelas menengah ke bawah justru makin tergerus hingga minus. Itu terjadi karena kelompok ini perlu memenuhi kebutuhan konsumsi pokoknya.
Hal itu diungkapkan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro dan Kepala Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono saat merilisMandiri Spending Index - Mandiri Macro Outlook 2024 di Jakarta, baru-baru ini.
Andry Asmoro mengatakan, tabungan orang-orang kaya meningkat berkat cuan investasi mereka di pasar modal, khususnya saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
“Kelompok atas yang memang memiliki capital mendapatkan return yang cukup besar dari capital market, dari saham dan SBN,” kata dia.
Baca Juga
Yield SBN Tembus 7,1%, BI: Dana Asing Sepekan Masuk Neto Rp 3,06 Triliun
Andry menjelaskan, SBN menghasilkan keuntungan di atas angka inflasi. Alhasil, meski inflasi naik, kekayaan orang-oreang kaya yang berinvestasi di SBN tetap bertambah.
“Trading di saham, itu juga return-nya lumayan tinggi. Itu yang membuat tabungan orang-orang kaya semakin tebal,” ujar dia.
Para pemilik tabungan di atas Rp 5 miliar, menurut Andry Asmoro, turut menikmati tambahan pendapatan dari durian runtuh alias rezeki nomplok (windfall profit) kenaikan harga komoditas dalam beberapa tahun ke belakang.
“Orang-orang kaya itu masuk ke bisnis batu bara yang mulai menghasilkan keuntungan pada 2021-2022,” tutur dia.
Orang-orang kaya yang memiliki ruang finansial, kata Andry, akan terus membeli aset-aset berharga, termasuk instrumen aman (safe haven), seperti emas dan SBN.
“Bukan cuma ke aset safe haven sebetulnya, tapi ke portofolio investasi. Jadi, orang-orang kaya lebih sadar mem-balance antara menabung dan investasi, apa pun bentuknya,” tandas dia.
Menengah ke Bawah
Di pihak lain, menurut Teguh Yudo Wicaksono, kondisi keuangan masyarakat kelas menengah ke bawah makin parah. “Kondisi ini muncul karena kelompok menengah ke bawah perlu memenuhi kebutuhan konsumsi pokoknya,” tutur dia.
Yudo menunjukkan proporsi tabungan terhadap pendapatan kelas menengah bawah telah minus 22,4%. Sebaliknya, kredit konsumen melonjak 44%.
“Sejak 2017 hingga 2023, rata-rata penghasilan bersih masyarakat tumbuh 15,9%, sedangkan harga barang tumbuh lebih cepat 18,5%. Masyarakat juga menghadapi pinjaman tinggi yang porsinya membesar, sementara proporsi tabungan terhadap pendapatan makin lama makin turun,” papar Yudo.
Baca Juga
Mau Berinvestasi? Yuk Simak Nasihat Terbaik dari Warren Buffett
Mandiri Spending Index menggambarkan konsumen dengan rata-rata tabungan di bawah Rp 1 juta sebagai kelompok bawah, konsumen dengan rata-rata tabungan Rp 1 juta sampai Rp 10 juta sebagai kelompok menengah, dan konsumen dengan rata-rata tabungan di atas Rp 10 juta sebagai kelompok atas.
Per Mei 2024, tabungan kelompok kelas atas naik ke level 109,9 dan indeks belanjanya berada di angka 110. Pada Mei 2023, angka indeks tabungan kelompok itu hanya pada kisaran 90 dan indeks belanjanya terus terjaga di kisaran 100.
Adapun indeks tabungan kelompok kelas menengah turun ke 94 pada Mei 2024 dibanding Mei 2023 pada kisaran 100. Sementara itu, pada 2024 indeks belanja turun ke level 122 dari kisaran 129 pada 2023.

