Kelas Menengah Turun, UOB Soroti Perubahan Perilaku Finansial dan Strategi Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Bank UOB Indonesia, bank asal Singapura yang beroperasi di Indonesia, menilai kelas menengah Tanah Air menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan perilaku finansial pada 2024–2025, sehingga perlu mengadopsi strategi investasi berbasis risiko agar tetap tangguh di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian global.
Executive Director Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menyampaikan jumlah kelas menengah terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. "Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi kelas menengah tercatat 57,3 juta pada 2021, turun menjadi 47,9 juta pada 2024 dan sekitar 46,7 juta pada 2025," kata Emillya dalam diskusi media bertema “How Can the Middle Class Build Resiliency in Economic Volatility” di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, kelompok usia produktif 17–40 tahun masih mendominasi kelas menengah. Kelompok ini menopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara kontribusi kelas menengah dan menuju kelas menengah terhadap PDB mencapai sekitar 44%.
Emillya menjelaskan komposisi pengeluaran kelas menengah masih didominasi kebutuhan dasar. Porsi terbesar dialokasikan untuk makan dan minum sebesar 41,7%, diikuti perumahan 28,5%, dan kebutuhan lainnya 18,8%.
Ia menilai tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat sebagian masyarakat menambah atau mengurangi anggaran dibanding 2024. Fenomena “turun kasta” ke kelompok menuju kelas menengah juga semakin terlihat, mencerminkan daya beli yang tertekan.
Baca Juga
Konsumsi Berkontribusi 54% ke PDB, Posisi Kelas Menengah Makin Krusial
Di sisi lain, perilaku investasi menunjukkan kecenderungan lebih moderat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperlihatkan nilai aktiva bersih reksa dana pasar uang tumbuh 5,1 kali dalam 10 tahun dengan porsi sekitar 23%. Reksa dana pendapatan tetap tumbuh 5 kali dalam periode sama dan menjadi porsi terbesar 38%. Sebaliknya, nilai aktiva bersih reksa dana saham terus menyusut sejak puncaknya pada 2018 dengan porsi tinggal 12%.
“Risk terlebih dahulu baru return,” kata Emillya menegaskan pendekatan investasi yang menurutnya lebih relevan saat ini.
Simpanan dan Ketimpangan Pertumbuhan
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Desember 2025 menunjukkan tren jumlah simpanan meningkat di berbagai kelompok nominal. Namun, pertumbuhan terbesar terjadi pada simpanan di atas Rp 5 miliar, yang tumbuh 23% dalam 1 tahun dan 32% dalam 3 tahun.
Sebaliknya, mayoritas kelompok nominal lain hanya mencatat pertumbuhan 3–5% dalam 1 tahun dan 12–14% dalam 3 tahun. Hal ini mengindikasikan likuiditas kuat lebih terkonsentrasi pada kelompok atas.
Emillya menekankan pentingnya membangun ketahanan finansial melalui dana darurat, asuransi memadai, kontrol utang, dan diversifikasi investasi. “Disiplin, konsisten, dan fokus pada tujuan investasi, bukan sekadar return,” ujarnya.
UOB Indonesia juga mencatat volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat dalam beberapa periode ketidakpastian ekonomi. Berdasarkan data Bloomberg periode 2006–2025, jumlah hari dengan pergerakan IHSG lebih dari ±2% dalam sehari cenderung meningkat saat krisis.
Namun secara historis, periode volatilitas tinggi justru diikuti rata-rata imbal hasil lebih tinggi dalam jangka panjang. Dalam periode 2006–2025, saat jumlah fluktuasi besar lebih dari 10 hari dalam setahun, rata-rata return mencapai 14,2%, dibanding 5,02% pada periode dengan fluktuasi kurang dari 10 hari.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Imbas Ketegangan Timur Tengah, tapi Dampak ke RI Terbatas
Emillya mengatakan pendekatan core allocation dan tactical allocation perlu disesuaikan dengan profil risiko investor, baik konservatif, moderat, maupun agresif. Ia mendorong masyarakat memahami profil risiko sebelum menentukan komposisi aset.
Kesadaran Perencanaan Keuangan
Survei UOB ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 menunjukkan lebih dari 80% responden kelas menengah telah memiliki dana darurat, meski belum optimal. Literasi menabung tergolong baik dengan 88% responden menyatakan aktif menabung.
Pada sisi proteksi, kesadaran terhadap asuransi kesehatan dan jiwa cukup tinggi. Sekitar 75% responden menyatakan masih mampu mengalokasikan hingga 15% dari anggaran untuk premi.
Untuk investasi, kelompok mass affluent memiliki anggaran lebih besar dibanding kelompok mass. Kelompok mass cenderung memilih instrumen konservatif, sementara mass affluent lebih terdiversifikasi dan memiliki profil risiko lebih agresif.
Menurut dia, perubahan lanskap ekonomi menuntut kelas menengah beradaptasi dengan pola pikir investasi yang lebih matang. “Tangguh di tengah ketidakpastian berarti tidak panik, menjaga likuiditas kuat, dan memastikan perlindungan memadai,” katanya.

