Melemahnya Optimisme Pasar Paksa Harga Emas Mengalami Koreksi
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas menjumpai koreksi setelah rally pada dua hari berturut-turut sebelumnya. Saat ini harga emas berada pada level US$ 2.338 dipengaruhi reaksi pasar terhadap beberapa indikator perekonomian Amerika yang akan rilis minggu ini. Jika laporan tersebut berindikasi negatif terhadap laju inflasi AS, maka hal ini berpotensi mengurangi daya tarik emas sebagai safe haven terlepas masih berlanjutnya ketegangan geopolitik.
"Meninjau dari sisi teknis, harga emas berpotensi menemui resistance terdekat pada level US$ 2.405. Namun apabila menemui katalis negatif, maka harga emas berpotensi menemui support terdekat pada level US$ 2.269," tulis riset ICDX, Selasa (14/5/2024).
Sorotan utama akan berada pada laporan CPI AS. Jika laporan tersebut menunjukkan adanya perlambatan inflasi lebih lanjut, maka hal ini dapat memperkuat ekspektasi Bank Sentral AS yang akan bersikap dovish, terutama mengingat melemahnya kondisi pasar tenaga kerja baru-baru ini. Skenario ini biasanya akan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang dan mengurangi opportunity cost dari kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga
Harga Emas Antam Turun Rp 9.000 per Gram, Termurah Rp 712.000
Survei Sentimen Konsumen oleh Universitas Michigan pada hari Jumat menunjukkan penurunan sentimen yang mengejutkan sementara pada saat yang sama ekspektasi inflasi lebih tinggi. Indeks Sentimen Konsumen awal Universitas Michigan untuk bulan Mei turun menjadi 67,4 dari 77,2 ketika para ekonom memperkirakan penurunan yang lebih ringan menjadi 76,0. Pada saat yang sama, komponen ekspektasi inflasi jangka panjang naik menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,0%.
Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi menunjukkan Fed mungkin terus menunda langkah penurunan suku bunga yang diharapkan. Hal ini berdampak negatif bagi Emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan ketertarikan pelaku pasar untuk mengalihkan dananya ke asset dengan imbal hasil.
Sebelumnya, Wakil Ketua Fed Philip Jefferson berbicara kepada media dalam sesi tanya jawab di Cleveland Fed. Dia berkata, “Kami terus mencari bukti tambahan bahwa inflasi akan kembali ke target 2% kami.” Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) diperkirakan akan merilis data inflasi produsen dan konsumen untuk bulan April pada tanggal 14 dan 15 Mei. Jika tekanan harga kembali meningkat, The Fed dapat mempertahankan suku bunga diangka yang tinggi lebih lama.
