BRI Raup Laba Rp 15,9 Triliun, Naik 2,5% di Kuartal I 2024. Apa Komentar Analis?
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meraup laba bersih Rp 15,9 triliun secara konsolidasi pada kuartal I 2024, meningkat 2,5% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 15,5 triliun.
Kenaikan laba bersih ini turut meningkatkan nilai per saham dasar emiten dengan kode saham BBRI ini menjadi Rp 105 per saham dari sebelumnya Rp 103 per saham.
Namun secara kuartalan laba BRI mengalami penyusutan 1,4%. Adapun performa laba bersih BBRI pada kuartal I 2024 ditekan oleh beban provisi yang melonjak menjadi Rp 10,7 triliun, naik 60% secara kuartalan dan 91% secara tahunan.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan perusahaan pada Kamis (25/4), secara konsolidasi, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BRI meningkat 9,7% secara tahunan menjadi Rp 35,95 triliun dari perolehan kuartal pertama 2023 senilai Rp 32,77 triliun.
Hingga Maret 2024, perusahaan tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp 1.308,65 triliun, meningkat 10,9% secara tahunan. Dari segi operasional, kredit yang disalurkan tumbuh 10,9% secara tahunan. Persentase itu sedikit di bawah guidance yang disampaikan manajemen pada awal tahun yang menargetkan pertumbuhan 11%–12%.
Baca Juga
Harga Saham BBRI Masih Dalam Tekanan? Analis Beri Komentar Ini
Dari penyaluran kredit tersebut, sekitar 83,25% disalurkan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang setara Rp 1.089,41 triliun. Sementara dana pihak ketiga BRI tercatat tumbuh lebih kencang 12,80% menjadi Rp 1.416,21 triliun. Total aset perusahan juga meningkat 9,11% menjadi Rp 1.989 triliun.
Dari sisi rasio keuangan, kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) secara gross ada kenaikan menjadi 3,27% dibanding periode Maret 2023 lalu sebesar 3,02%. Sedangkan, NPL net juga naik tipis menjadi 1% dari 0,82% pada kuartal pertama tahun lalu.
Sementara rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menjadi 67,73% pada kuartal I 2024. Sedangkan cost to income ratio (CIR) BRI turun dari 37,37% pada tiga bulan pertama 2023 ke level 34,25% pada tiga bulan pertama tahun ini.
Baca Juga
Saat IHSG Rebound, Asing masih Lanjut Net Sell BBRI dan TLKM
Rasio permodalan BRI atau CAR berada pada level 23,97% dengan rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR 83,28%. Perusahaan juga mencadangkan NPL coverage sebesar 214,26%.
Kemuadian aset bank naik 9,11% menjadi Rp 1.989,07 triliun pada kuartal I 2024. Sementara dari sisi pendanaan, BBRI telah meraup dana pihak ketiga (DPK) Rp 1.416,21 triliun pada tiga bulan pertama 2024, naik 12,8%. Dana murah atau current account saving account (CASA) juga naik 7,8% menjadi Rp 873,29 triliun.
Komentar Analis
Menanggapi hasil kinerja tersebut, Investment Analyst Lead Stockbit Rahmanto Tyas Raharja menilai, hasil kinerja laba bersih BBRI pada kuartal I 2024 di bawah ekspektasi konsensus karena hanya setara 23,6% dari estimasi full year 2024 konsensus yang mencapai Rp 67,4 triliun.
Performa laba bersih tersebut utamanya ditekan oleh peningkatan biaya kredit dari level 2,4% pada kuartal I 2023 dan tahun 2023 menjadi 3,8% pada kuartal I 2024. Nilai itu jauh di atas guidance manajemen pada awal tahun yang menargetkan di kisaran 2,2%–2,3%.
Manajemen BBRI sendiri melakukan revised down untuk beberapa guidance yang telah diberikan awal tahun, yakni:
▪ Loan Growth: dari +11–12% menjadi +10–12%
▪ NIM: dari 7,9–8% menjadi 7,6–8%
▪ Credit Cost: dari 2,2–2,3% menjadi maksimal 3%
▪ NPL: dari 2,7–2,9% menjadi di bawah 3%
“Kami menilai bahwa market telah mengantisipasi hasil kinerja BBRI yang kurang baik ini, dengan harga saham BBRI mengalami penurunan 14,7% bulan ke bulan per Rabu (24/4),” tulis Rahmanto dalam risetnya, Kamis (25/4/2024).
Pada perdagangan Kamis pagi ini pukul 09.09 WIB, harga saham BBRI kembali anjlok 1,91% ke posisi Rp 5.125 per lembar.
