Bos BTN: Kinerja UUS BTN Lagi Bagus-bagusnya
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk Nixon Napitupulu membantah adanya anggapan miring bahwa Unit Usaha Syariah (UUS) BTN berkinerja buruk sehingga muncul dorongan dan rencana merger antara UUS BTN dengan PT Bank Muamalat Tbk.
“UUS kita itu lagi bagus-bagusnya sebenarnya. Jadi kalau ditanya kenapa sih UUS mau nyari atau merger, apakah UUS BTN ada masalah? Jawabannya enggak,” tegas Nixon dalam kesempatan berbuka puasa bersama para pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Selasa (2/4/2024).
“Saya bilang, mungkin ini salah satu UUS terbaik di Indonesia saat ini. Kalau kita lihat kemarin asetnya tumbuh 19,75%. Ini kita memperbaikinya lama dari kerusakan lima tahun lalu,” tutur Nixon.
UUS BTN memang punya kinerja yang cukup apik di 2023. Bisa dilihat dari pembiayaan yang tumbuh berkelanjutan sebesar 17,36% menjadi Rp37,1 triliun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar RP31,6 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) pun terkerek naik sebesar 20,68% menjadi Rp41,8 triliun saat tutup buku tahun lalu.
Baca Juga
Dengan realisasi pembiayaan yang tumbuh tinggi di angka 29,36% menjadi Rp10,6 triliun pada akhir 2023, maka tak heran laba UUS BTN pun cukup mentereng dengan pertumbuhan signifikan sebesar 110,55%, meniadi Rp 702 miliar.
UUS BTN juga terus mencatatkan permintaan kredit berbasis akad syariah. Untuk permintaan KPR syariah misalnya, disebutkan Nixon di sejumlah daerah tertentu seperti Jawa Barat bagian selatan, Mataram, sebagian Sumatera dan sebagian Sulawesi pertumbuhan permintaan mencapai lebih dari 20% setiap tahunnya. “Mereka sudah meminta akadnya dilakukan secara syariah,” kata Nixon.
“Kemudian kalau kita lihat gross ekspansinya atau gross disbursement kreditnya tumbuh tumbuh 29%. Kemudian DPK nya masih tumbuh 20%, jadi dananya masih tumbuh bagus. Kemudian labanya nihi menarik, (tumbuh) 110%,” imbuh Nixon.
Untuk meningkatkan mitigasi risiko, manajemen emiten berkode BBTN ini berharap bisa meningkatkan pencadangan dalam dua tahun ke depan sebesar Rp1 triliun. Perseroan juga akan berupaya terus memperbaiki dana murah atau CASA.
