Ternyata Ini Penyebab Return Unit Link Kurang Menguntungkan di 2023
JAKARTA, investortrust.id - Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito membeberkan penyebab rendahnya hasil investasi (return) unit link pada 2023. Salah satunya karena kinerja saham kurang menggembirakan.
Hal itu diungkapkan Parto dalam focus group discussion (FGD) bertajuk "Tahun Kebangkitan Unit Link" yang digelar investortrust.id di The Convergence Indonesia, Jakarta, Senin (19/2/2024).
Dalam dikusi yang dipandu Chief Executive Officer (CEO) Investortrust, Primus Dorimulu itu, Parto Kawito menjelaskan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, indeks LQ45 hanya membukukan tingkat pertumbuhan reta-rata tahunan pada jangka waktu tertentu atau compounded annual growth rate (CAGR) sekitar 3,2% per tahun.
"Kinerja unit link bisa berbeda dengan indeks. Jadi, untuk mengalahkan indeks saja pun cukup sulit,” tutur dia.
Bahkan, menurut Parto, sejumlah unit link membukukan return minus. Apalagi jika dikurangi biaya asuransi (cost of insurance/COI). “Jadi, mereka akan tambah minus lagi. Nah, mungkin saat investor membeli reksa dana saham, mungkin mereka tidak mendapat informasi yang lengkap bahwa produk ini mengandung risiko," papar dia.
Parto Kawito menambahkan, unit link ber-underlying asset reksa dana pendapatan tetap (fixed income) memiliki risiko lebih rendah. “Kalau memilih reksa dana pendapatan tetap, saya kira ya selamat karena return-nya sekarang lebih tinggi," ujar dia.
Dalam setahun terakhir, kata Parto, unit link berbasis saham hanya mencetak return sekitar 2,4%. "Untuk yang balance sekitar 2,7%, sedangkan pendapatan tetap malah 4%-an,” ucap dia.
Menurut Parto, para investor sebaiknya berinvestasi pada produk-produk investasi secara bertahap. “Sesuai teori kan mulai dari pendapatan tetap atau pasar uang dulu, supaya nggak kaget," tandas dia.
Parto Kawito mengakui, kinerja saham selama tahun berjalan (year to date/ytd) sudah sangat bagus. "Mungkin tahun ini return saham bisa mencapai 8-9%," ujar dia.
