Literasi Tinggi tapi Minat Asuransi Rendah, AAJI Ungkap Akar Masalahnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Minat masyarakat Indonesia terhadap kepemilikan asuransi dinilai masih rendah, meski tingkat literasi keuangan secara umum sudah tergolong tinggi. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang asuransi sebagai kebutuhan sekunder atau bahkan sebagai luxury (keinginan mewah) ketimbang sebagai instrumen proteksi dasar.
Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Novita J. Rumngangun menjelaskan bahwa perbedaan persepsi ini berakar dari cara pandang masyarakat terhadap bentuk produk.
"Kalau saya beli tas, kelihatan tasnya. Kalau saya beli mobil, saya bisa pegang mobilnya. Tapi ini (asuransi) membeli komitmen, bukan hanya janji," ujar Nona sapaan karib Novita dalam Podcast Konvergensi di Kantor Investortrust, Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, masyarakat yang bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga harus menyadari pentingnya proteksi masa depan. Asuransi berfungsi sebagai jaring pengaman agar standar hidup keluarga tetap terjaga apa pun kondisi yang terjadi di kemudian hari.
Baca Juga
AAJI Tanggapi Isu Klaim Asuransi Ditolak: Transparansi Nasabah dan Edukasi Jadi Kunci
Untuk mengubah pola pikir publik agar memandang asuransi sebagai kebutuhan utama, AAJI menggencarkan kampanye bertajuk "Bukti Bukan Janji" dengan tema "Klaim Dibayar, Integritas Dijaga". Kampanye ini tidak hanya berfokus pada edukasi manfaat asuransi, tetapi juga menjawab keraguan masyarakat terkait kepastian pencairan klaim, mengingat produk asuransi berbentuk janji komitmen jangka panjang.
Pengawasan OJK Semakin Ketat
Menanggapi bayang-bayang kasus kegagalan perusahaan asuransi di masa lalu yang sempat menurunkan kepercayaan publik, AAJI memastikan bahwa industri saat ini telah memasuki babak baru yang jauh lebih sehat. Nona memberikan apresiasi tinggi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas pengawasan ketat yang dilakukan terhadap tata kelola (good governance) seluruh praktisi industri.
"Dan asosiasi juga sekarang semakin luar biasa, bagaimana benar-benar merangkul kami pelaku asuransi, merangkul bersama untuk apa? Untuk sama-sama benar-benar menyadari bahwa kita ini tidak sendiri. Kita ini bersama-sama," jelas Nona.
