BCA (BBCA) Optimistis Pertumbuhan Kredit 2026 Tembus Double Digit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA optimistis soal penyaluran pertumbuhan kredit untuk tahun 2026. Meski demikian, BCA dikatakan Direktur BCA Vera Eve Lim belum akan merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah ditetapkan perseroan.
Vera menjelaskan, awal mulanya BCA memproyeksikan pertumbuhan kredit pada kisaran 8% hingga 10%. Namun, melihat tren pemulihan dan perkembangan positif hingga memasuki kuartal ketiga, manajemen menyakini kinerja penyaluran kredit dapat mencapai angka double digit.
"Di rencana awal kami adalah 8-10%, namun mempertimbangkan perkembangan memasuki kuartal ketiga, perkiraan untuk 2026 bisa mencapai double digit, yaitu di kisaran 10% sampai 12%," ujar Vera dalam Paparan Kinerja Kuartal III 2026 yang digelar secara virtual, Selasa (27/10/2026).
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, BCA dan entitas anak membukukan pertumbuhan kredit 12,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.063 triliun per September 2026. Penyaluran kredit secara pruden dilakukan ke berbagai sektor, mulai dari korporasi, komersial, dan UKM ditopang likuiditas dan pendanaan solid yang terlihat dari kenaikan giro dan tabungan (CASA) hingga 10,4% menjadi Rp 1.103 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) naik 8% YoY mencapai Rp 1.301 triliun.
Baca Juga
Laba BCA (BBCA) Naik 4,2% Tembus Rp 45,2 Triliun di Kuartal III 2026, Kredit Tumbuh 12,6%
Prospek NIM dan Kualitas Aset (NPL) Terjaga
Seiring dengan kenaikan target kredit, BCA memproyeksikan Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) akan tetap stabil. Menurut Vera, pertumbuhan kredit yang solid akan membantu menjaga NIM berada di level yang tidak jauh berbeda dibandingkan capaian pada kuartal ketiga.
Dari sisi kualitas aset, risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) juga berada dalam kondisi yang terjaga dan terkendali.
Baca Juga
"Kami memandangnya dengan pertumbuhan kredit, NIM ini akan terjaga di kisaran yang tidak jauh berbeda dari kuartal ketiga. Dan NPL juga stabil, hari ini NPL ada di kisaran 1,8%. Target kami NPL itu ada di kisaran 1,8 sampai 2%," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Vera menyampaikan apresiasinya terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang terus memberikan stimulus bagi industri perbankan nasional, salah satunya melalui penyesuaian Giro Wajib Minimum (GWM).
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia yang selalu mendukung pertumbuhan industri perbankan. Pelonggaran GWM 2% tentu berdampak positif kepada BCA, di mana dari perhitungan terakhir, kami mendapat kelonggaran kira-kira mendekati 1%," tutur Vera.
