Bagikan

Bank Jago Tumbuh “Double-double Digit” Berkat 3 Direction

Poin Penting

Bank Jago mencatat pertumbuhan “double-double digit” pada kuartal I-2026, dengan laba bersih naik 42%, kredit tumbuh 24%, dan DPK meningkat 23% secara tahunan.
Kinerja tersebut ditopang tiga strategi utama (3 direction), yakni menjaga likuiditas tetap solid, mempertahankan kualitas kredit/NPL rendah, serta menyeimbangkan pertumbuhan dan profitabilitas secara prudensial.
Bank Jago memperkuat posisinya sebagai bank berbasis teknologi melalui inovasi produk, integrasi ekosistem digital, dan pengembangan layanan berbasis AI untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

JAKARTA, investortrust – Di tengah ketidakpastian global yang kian menjadi dan kenormalan baru (new normal) yang terus berubah, Bank Jago berpegang pada tiga arahan (direction). Itulah yang senantiasa mengawal pertumbuhan tinggi tech-based bank tersebut, termasuk performa di kuartal I-2026 yang pertumbuhan indikator kuncinya ‘double-double digit”.

Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk, Arief Harris Tandjung menyatakan, ada tiga hal penting yang dijaga betul oleh bank digital tersebut di tengah kondisi global yang sedang tidak baik-baik saja. Tiga strategi utama itu akan dijadikan pegangan sebagai arahan (direction) ke depan agar performa bank menjadi lebih baik dan konsisten tumbuh tinggi.

Pertama adalah menjaga likuiditas tetap solid. “Kita sangat hati-hati menjaga likuiditas. Sebab likuiditas itu menjadi jantung. Ketika likuiditas bermasalah dan kering, maka itu seperti serangan jantung yang bisa kolaps mendadak dan tiba-tiba,” kata Arief dalam silaturahmi dengan senior editor media di kantornya, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk Arief Harris Tandjung (tengah), didampingi Direktur Bank Jago, Sonny Christian Joseph, dan Maya Kartika, Head of Culture, Communication and Sustainability Bank Jago saat berkunjung ke kantor cabang Surabaya, Kamis (30/10/2025).
Source: Investortrust/Hari Gunarto

Atas dasar itu, Arief mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia yang sangat baik dalam menjaga likuiditas perekonomian, lewat berbagai instrumen moneter yang dimiliki. Bank Indonesia tidak tergoda untuk memperketat kebijakan moneter (menaikkan suku bunga), di saat bank sentral negara lain mulai menaikkan suku bunga.

Kedua, Bank Jago konsisten menjada kualitas portofolio. Non performing loan (NPL) dijaga di level rendah sehingga kualitas tetap baik. “NPL itu ibarat kanker. Dia memang menggerogoti dalam jangka lama, dan bisa juga sembuh jika ditangani dengan baik,“ kata Arief menganalogikan.

Direction ketiga adalah menjaga keseimbangan pertumbuhan dan profitabilitas. “Nah, tiga direction itu menjadi guidance kami agar performa ke depan lebih baik lagi. Kami akan selalu pruden meskipun tetap dengan upaya memacu pertumbuhan,” ujar Arief.

Menyikapi kondisi perekonomian Indonesia terkini, Arief menyebut bahwa yang mengkhawatirkan hanya nilai tukar rupiah, sedangkan indikator lain tetap terjaga. Bank Jago selalu mengadakan stressed test dengan 18 indikator yang dipantau terus, ada yang harian, mingguan, atau bulanan.

“Intinya, kita harus pruden, tetap optimistis, dan senantiasa antisipatif. Kita pasang antena tinggi-tinggi dan radar agar selalu siaga dan waspada,“ tutur Arief.

Laba Bersih Melonjak 42%

Menjelaskan kinerja keuangan kuartal I-2026, Arief Harris Tandjung mengakui bahwa pencapaiannya melebihi ekspektasi. Laba bersih bank dengan kode saham ARTO tersebut hingga akhir Maret melambung 42% year-on-year (yoy) menjadi Rp 86 miliar.

Kinerja keuangan PT Bank Jago Tbk kuartal I-2026.
Source: Bank Jago

Kredit bertumbuh 24% yoy ke level Rp 25,2 triliun, dibanding Rp 20,3 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) meningkat 23% yoy menjadi Rp 26,4 triliun per akhir Maret 2026. Komposisi DPK meliputi High Net-Worth Individual (HNWI), korporasi, dan UKM sebesar 56% dan sisanya (44%) dari digital banking.

Pertumbuhan tinggi juga terjadi pada jumlah nasabah, yang per akhir kuartal I-2026 mencapai 19,4 juta, meliputi nasabah kredit (debitur) dan digital banking.

“Dengan semua performa tersebut, di usia kami yang kelima, kami menyatakan bahwa Bank Jago punya hak hidup menjadi key player di segmen technology-based bank,” tegas Arief.

Direktur Bank Jago Sonny Christian Joseph menambahkan bahwa Bank Jago memiliki produk yang variatif dan inovatif yang sangat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Terbukti beberapa produk mencatat pertumbuhan tinggi, seperti Jago Dana Cepat, Jago Dana Siaga, dan sebagainya.

Tiga Fase Perjalanan

Sementara itu, Arief Harris Tanjung mengklasifikasikan perjalanan 5 tahun Bank Jago dalam tiga fase, sejak bank digital ini bertransformasi dari Bank Artos tahun 2020.

Fase pertama 2020-2021, Bank Jago mengumpulkan modal hingga US$ 600 juta untuk mengembangkan bisnis dan infrastruktur. April 2021, Aplikasi Jago diluncurkan sebagai produk utama perbankan digital.

Kemudian Juli 2021 Bank Jago berkolaborasi dengan Bibit/Stockbit dan GoTo, yang menjadi bagian penting pertumbuhan bisnis yang fokus pada kolaborasi dan integrasi dengan ekosistem digital. Pada kuartal IV-2021, Bank Jago mulai mencatatkan laba bersih.

Fase kedua 2022-2024, Bank Jago membangun kemampuan bertumbuh cepat melalui ekosistem. Di fase ini telah terjaring 10 juta nasabah, perluasan kredit melalui kolaborasi dengan mitra, meluncurkan berbagai inovasi seperti GoPay Tabungan, serta memperkuat tata kelola (GCG).

Fase ketiga, yaitu periode 2025 sampai sekarang adalah memperkuat penawaran langsung, mengoptimalkan kemitraan, dan memimpin dengan inovasi.

Ke depan, Bank Jago fokus melengkapi produk direct lending dan wealth Management, serta eksplorasi penggunaan teknologi artificial intelligence (AI) pada proses, produk dan layanan nasabah.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024