Citi Ungkap Tren Baru Pendanaan: Pemerintah dan Swasta Berebut Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Persaingan mendapatkan modal global semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan ekspansi investasi sektor swasta, terutama untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan infrastruktur digital.
Citi menilai, pemerintah dan perusahaan kini harus bersaing memperoleh pendanaan di tengah keterbatasan modal. Pemerintah membutuhkan dana untuk membiayai infrastruktur, ketahanan energi dan pertahanan, sedangkan perusahaan berlomba mengembangkan AI dan pusat data.
“Kami melihat ada perubahan mendasar di pasar modal global,” ujar Global Head of Public Sector Group Citi Stephanie von Friedeburg, dalam keterangan pers, dikutip Senin (19/10/2026).
Baca Juga
Citi Tunjuk Michael Zezas Eks Eksekutif Morgan Stanley Jadi Head of Research
Tingginya suku bunga dolar Amerika Serikat (AS) juga mendorong penerbit dari kalangan pemerintah maupun korporasi melirik pasar mata uang lain, seperti renminbi China (RMB), dolar Australia (AUD), dolar Hong Kong (HKD), dan dolar Singapura (SGD). Strategi pendanaan lintas mata uang dinilai dapat membantu menekan biaya modal sekaligus memperkuat sumber likuiditas.
“Dengan persaingan modal yang semakin ketat, akses terhadap pembiayaan dan solusi pendanaan yang inovatif akan menjadi sangat penting,” kata Stephanie.
Di lain sisi, Citi menyoroti meningkatnya peran dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) dalam membiayai pembangunan, khususnya di kawasan Teluk. Dana itu semakin diarahkan ke infrastruktur domestik, teknologi, dan investasi berbasis AI.
Citi juga mencatat meningkatnya perhatian bank sentral terhadap diversifikasi cadangan devisa dan optimalisasi aset emas melalui strategi lindung nilai, pengelolaan likuiditas, serta pembiayaan dengan jaminan emas.
Baca Juga
Survei Citi: 72% Perusahaan Global Prioritaskan Pelepasan Likuiditas untuk Perkuat Ketahanan Bisnis
Meski wacana dedolarisasi terus berkembang, Citi memperkirakan dolar AS masih akan mempertahankan posisinya sebagai mata uang cadangan dunia, ditopang pasar keuangan AS yang besar dan likuid.
Sementara itu, negara berkembang menghadapi tekanan akibat beban utang dan biaya pinjaman yang tinggi. Citi melihat pembiayaan inovatif, termasuk pertukaran utang untuk pembangunan (debt for development) dan pengelolaan kewajiban utang atau liability management exercise. (LME), dapat menjadi alternatif untuk menjaga ruang fiskal.
Stephanie mengatakan, ke depan investasi AI, ketahanan energi, pembiayaan pemerintah, dan keberlanjutan utang diperkirakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah pasar modal global.
“Kemitraan antara pemerintah dan swasta juga akan memainkan peran yang semakin penting untuk menggalang modal demi mendukung pertumbuhan jangka panjang,” ucapnya.
