Cegah Generasi Muda Terjebak Utang, Kredivo Edukasi Mahasiswa di Ambon
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan pengguna layanan buy now pay later (BNPL) di Indonesia mendorong pentingnya penguatan literasi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda.
Hingga Juli 2026, pembiayaan BNPL tercatat mencapai Rp 31,56 triliun dengan jumlah rekening mencapai 33,55 juta akun. Kondisi itu menjadi perhatian Kredivo memperluas program edukasi keuangan ke Ambon, Maluku.
Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari mengungkapkan, pertumbuhan akses terhadap layanan keuangan digital perlu diikuti kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan secara bertanggung jawab.
“Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai,” ujarnya, dalam keterangan pers, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga
Kredivo Catat Porsi Kredit Produktif Tembus 54,3%, Kontribusi ke PDB Capai Rp 33 Triliun
Berdasarkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), sebanyak 65,7% pengguna Kredivo tergolong well literate secara finansial. Sementara itu, rata-rata rasio utang terhadap pendapatan (debt to income ratio) berada di kisaran 10%-19%.
Laporan yang sama menunjukkan 57% pengguna Kredivo berasal dari kelompok generasi muda. Sebanyak 54,1% pengguna menyebut layanan tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan 32,4% menggunakannya untuk kebutuhan mendesak.
Indina menjelaskan, program edukasi yang dilakukan Kredivo telah berlangsung sejak 2020 di berbagai kota di Indonesia. Di Ambon, program itu sekaligus merespon pertumbuhan pengguna Kredivo.
Jumlah pengguna aktif di Ambon tercatat meningkat sekitar 4,5 kali lipat sepanjang 2022-2025, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia produktif 26-35 tahun.
Baca Juga
Kredivo Catat 54% Pembiayaan Disalurkan untuk Kebutuhan Produktif
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Evelin Watumlawar menilai, pemahaman pengelolaan keuangan perlu dibangun sejak masa kuliah, terutama di tengah tren fear of missing out (FOMO) dan you only live once (YOLO).
“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri,” katanya.
Menurut Evelin, mahasiswa perlu menerapkan responsible borrowing dan smart spending dengan memperhatikan sejumlah hal, mulai dari memastikan legalitas penyedia fintech (financial technology), meminjam sesuai kebutuhan, menyusun anggaran bulanan, memantau arus kas, hingga membedakan kebutuhan dan keinginan.
