Rupiah Masih Alami Pelemahan, Terpuruk di Rp 17.988 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah belum juga menunjukkan keperkasaannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,06% dan berada di posisi Rp 17.988 per dolar AS.
Selain rupiah, beberapa nilai tukar mata uang di kawasan ASia juga menunjukkan pelemahan. Yen Jepang melemah 0,05%, rupee India melemah 0,17%, ringgit Malaysia melemah 0,05%, dolar Singapura melemah 0,05%, dan baht Tailan melemah 0,15%.
Sementara itu, yuan China mengalami penguatan terhadap dolar AS. Yuan menguat 0,06%. Won Korea Selatan juga terpantau menguat 0,01% dan peso Filipina sebesar 0,21%.
Baca Juga
Bank Indonesia to Shield the Rupiah as the Rp 18,000 Threshold Looms
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan adanya penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,22% menjadi 101,2. Kenaikan ini dipicu melambungnya imbal hasil AS.
Saat ini, fokus pasar beralih ke data Job Opening and Labor Turnover Surveys (JOLTS) dan kepercayaan konsumen AS. Selain itu, pasar juga menanti data inflasi pada Rabu dan Non Farm Payroll (NFP) September 2026.
“Jumlah tenaga kerja diperkirakan bertambah sekitar 100 ribu, dengan tingkat pengangguran sebesar 4,2%,” kata Andry.
Baca Juga
Gubernur BI: Rupiah Terus Diperkuat, Kalau Melemah di Luar Kontrol
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat. Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 70,3% untuk setidaknya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober, meningkat dari 57,6% sepekan sebelumnya, seiring aktivitas ekonomi yang tetap tangguh dan tingginya harga energi yang menjaga risiko inflasi tetap tinggi. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Waller, Williams, Bowman, Barr, dan Goolsbee, dijadwalkan menyampaikan pernyataan hari ini.
Harga minyak mentah Brent terkoreksi dari level tertinggi intraday, tetapi tetap berada di level tinggi di US$ 105,3 per barel, naik 0,92%. Harga minyak sempat menembus US$ 108 per barel setelah Presiden AS, Donald Trump menolak proposal Iran, sebelum memangkas kenaikan seiring ekspektasi berlanjutnya perundingan melalui mediator Qatar.
Harga minyak yang bertahan tinggi menjadi salah satu risiko utama kenaikan inflasi global dan imbal hasil obligasi.
Andry menjelaskan bahwa kenaikan secara bersamaan pada imbal hasil US Treasury, DXY, dan harga minyak masih menjadi tekanan eksternal utama, sementara penyempitan spread Surat Berharga Negara (SBN) dengan US Treasury 10 tahun menjadi sekitar 190 bps berpotensi membatasi minat investor asing terhadap obligasi domestik.
Namun, langkah stabilisasi BI dan potensi kemajuan dalam negosiasi AS–Iran dapat membantu meredam volatilitas yang berlebihan.
“Jika USD/IDR menembus level Rp 18.050 secara berkelanjutan, hal tersebut akan mengindikasikan tekanan depresiasi yang lebih kuat. Sebaliknya, penurunan imbal hasil US Treasury atau harga minyak dapat memberikan ruang bagi USD/IDR untuk kembali stabil di bawah level Rp 18.000,” kata dia.
