Tekan TWP90 di Angka 2%, Ini Strategi Fintech Samir Jaga Kualitas Kredit
JAKARTA, investortrust.id - Industri pinjaman daring (pindar) saat ini tengah menghadapi tantangan terkait lonjakan rasio kredit macet atau tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90). Pada Juli 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rata-rata TWP90 industri pindar berada di angka 4,32%. Angka ini naik dibanding Juni 2026 yang berada di posisi 4,26%.
Di tengah tren kenaikan rasio kredit macet tersebut, platform fintech lending Samir justru berhasil membukukan TWP90 di kisaran 2% atau masih berada di bawah capaian rata-rata industri yang saat ini berada di angka 5%. Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengungkapkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi mitigasi risiko yang ketat serta komitmen bersama dengan para pemberi dana (lender).
"Bicara mengenai TWP 2%. Sebetulnya ini adalah bicara bukan hanya dari sisi di depan, tapi juga bagaimana kita punya komitmen bersama dengan lender. Karena beberapa mitigasi tuh sudah disiapkan di depan," ujar Handy dalam acara Media Gathering dan Silaturahmi Jajaran Manajemen Baru Samir di The Michael Resort, Bogor, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga
Salurkan Rp 7,8 Triliun ke 5,3 Juta Akun, Samir Jaga TWP90 Tetap Rendah di Kisaran 2%
Handy menjelaskan bahwa basis lender Samir saat ini sepenuhnya didominasi oleh institusi, baik dari sektor perbankan maupun entitas lembaga keuangan domestik dan asing, tanpa melibatkan lender perorangan. Struktur permodalan institusional ini dipadukan dengan proses identifikasi serta verifikasi konsumen di garda depan (front-end) melalui penerapan e-KYC dan engine credit scoring yang teruji.
Selain seleksi calon peminjam di awal, Samir menjalin kerja sama (gentleman agreement) dengan lender perbankan untuk menerapkan asuransi kredit. Menurut Handy, potensi gagal bayar tetap ada di industri pindar, namun penggunaan asuransi kredit menjadi instrumen vital untuk menyerap risiko tersebut agar tidak membebankan performa portofolio.
Upaya pencegahan dari sisi teknologi dan penjaminan asuransi ini juga diimbangi dengan proses penagihan (collection) yang dilakukan secara berkesinambungan. Kombinasi antara mitigasi di awal, perlindungan asuransi, dan pengawasan penagihan yang konsisten inilah yang menjadi kunci utama Samir dalam menjaga tingkat TWP90 tetap terkendali di angka 2%.
Tantangan Infrastruktur Digital di Luar Jawa
Mengenai ekspansi penyaluran pembiayaan ke luar Pulau Jawa, Samir membenarkan adanya kendala teknis yang dihadapi di lapangan. Sejalan dengan pandangan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), kesiapan infrastruktur digital masih menjadi tantangan utama dalam menjangkau kawasan timur Indonesia.
"Ya memang tantangan terbesar kan adalah ketika kita menyalurkan kredit ke luar Pulau Jawa, tantangan terbesarnya adalah betul kesiapan struktur digital. Ya Bapak mungkin tahu, kita juga sering dengar di Papua lah ya, kita langsung aja to the point ke sana. BTS-BTS berapa sih, Pak, di sana? Sinyal juga masih belum ada, ya. Itu mungkin kesulitan kami untuk bisa menjangkau. Tapi artinya bukan tidak ada potensi, Pak. Di sana potensinya besar," ungkap Handy.
Lebih lanjut, Samir menegaskan komitmennya untuk menyasar segmen unbanked dan underserved, seperti pedagang eceran dan usaha mikro yang tidak memiliki akses ke fasilitas agunan perbankan konvensional untuk memenuhi kebutuhan modal kerja mendesak.
Baca Juga
Perkuat GCG dan Penetrasi Luar Jawa, Samir Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris
Sementara itu, menanggapi tekanan ekonomi yang berpotensi mengganggu daya beli serta kemampuan pengembalian pinjaman pelaku UMKM, Samir menilai kondisi ini dialami oleh seluruh sektor jasa keuangan, baik perbankan maupun multifinance. Untuk menjaga kualitas portofolio pinjaman ke sektor produktif, Samir memilih memperketat penerapan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam proses penilain calon penerima dana.
"Artinya memang sebetulnya kami melihatnya ini adalah sebagai potensi bagaimana pindar ini bisa hadir, sebetulnya sebagai alternatif solusi sebetulnya. Karena kami berharap memang ini menjadi obat lah ya agar kenapa? Agar produktivitas tetap tumbuh. Tapi di lain sisi juga kami juga tetap harus menjaga prinsip kehati-hatian. Ini yang paling penting. Karena ketika memang tekanan ekonominya naik, kita juga tetap harus meningkatkan awareness terhadap kehati-hatian. Jangan sampai adanya kita keluarkan kredit, jangan sampai akhirnya pengembaliannya malahan tidak lancar atau tidak baik. Itu yang nanti akan mengganggu ekosistem yang sehat antara pemberi dana dengan penerima dana. Ya kami terapkan seperti itu," tutur Handy.
