Salurkan Rp 7,8 Triliun ke 5,3 Juta Akun, Samir Jaga TWP90 Tetap Rendah di Kisaran 2%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) berhasil menyalurkan total pembiayaan secara kumulatif sebesar lebih dari Rp 7,8 triliun memasuki usia yang ketujuh tahun pada 9 September 2026. Jumlah tersebut telah disalurkan kepada sebanyak 5,3 juta akun peminjam yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan bahwa total pembiayaan yang disalurkan tersebut rata-rata digunakan untuk kebutuhan pembiayaan produktif bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang secara portofolio sekitar 63% merupakan peminjaman kembali dan 37% lainnya merupakan peminjaman baru dari masyarakat atau UMKM.
Handy menjelaskan, perjalanan Samir dari tahun ke tahun terus dijaga kestabilannya dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan menjalankan keberlangsungan bisnis usahanya dengan patuh pada regulasi sehingga setiap pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang berlangsung setiap tahunnya selalu disertai dengan kualitas dari pembiayaan itu sendiri. Hal ini dapat terlihat dari rasio kredit macet atau TWP90 Samir yang di kisaran 2% atau masih berada di bawah capaian rata-rata industri yang saat ini berada di angka 5%.
Baca Juga
Perkuat GCG dan Penetrasi Luar Jawa, Samir Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris
Menurut Handy, Selama tujuh tahun berdiri, Samir selalu berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan bisnis UMKM yang tidak lagi berfokus di Pulau Jawa melainkan sudah semakin semakin ekspansif di luar Pulau Jawa. Secara portofolio, kontribusi penyaluran pembiayaan kumulatif Samir yang tertinggi di luar Pulau Jawa adalah Sumatra sebesar 16%, kemudian berikutnya yang cukup merata dari Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, dan semakin berimbang antara Papua dan Maluku yang sama-sama sudah menembus angka 1% lebih.
“Gambaran peningkatan dan pemerataan di luar Pulau Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur semakin menunjukkan komitmen Samir untuk mendukung pemerataan ekonomi nasional dan menciptakan inklusi keuangan semakin realistis," ujar Handy dalam acara Media Gathering dan Silaturahmi Jajaran Manajemen Baru Samir di The Michael Resort, Bogor, Jumat (11/9/2026).
Lebih lanjut, Handy menyebut, hadirnya Samir bukan sekadar platform yang memberikan pembiayaan saja, karena ada sekitar Rp 1.650 triliun kebutuhan pembiayaan yang belum terpenuhi bagi UMKM yang tidak terlayani perbankan konvensional dan kekosongan pasokan modal usaha inilah yang diharapkan dapat diisi oleh ekosistem pembiayaan digital.
"Termasuk salah satunya dari Samir sebagai pindar yang sudah berizin dan diawasi oleh OJK,” kata Handy.
Di sisi lain, Handy melihat pertumbuhan pun tetap stabil di profil pengguna Samir yang secara rasio usia peminjam di kisaran 35-54 tahun sebesar 55%, disusul yang berusia 19-34 tahun sebesar 41%, dan selebihnya berada di usia lebih dari 54 tahun yang mencapai 4%.
"Sedangkan dari persentase gender peminjam, saat ini tidak terlalu jauh jaraknya, di mana untuk peminjam laki-laki berada di 55% dan perempuan 45%,” jelas Handy.
Baca Juga
Pindar Samir Salurkan Pembiayaan Rp 2,3 Triliun pada Semester I 2026, Tumbuh 84%
Sedangkan untuk tahun 2026, Handy menyampaikan total penyaluran pembiayaan Samir dari Januari hingga Agustus berhasil mencapai sebesar Rp 3 triliun, atau tumbuh hingga 63% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga sejalan dengan bertambahnya jumlah peminjam yang berasal dari masyarakat atau para pelaku UMKM di Indonesia, yakni sebesar 60% secara tahunan (year on year/yoy).
Selain itu, Handy membeberkan bahwa Samir juga selalu aktif mendukung pemerintah dan OJK dengan berkolaborasi bersama AFPI dan AFTECH dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan literasi dan edukasi finansial untuk membantu masyarakat maupun UMKM agar memahami konsep dasar pengelolaan uang, perbedaan antara layanan keuangan pindar yang legal dan pinjol yang ilegal, serta risiko penggunaan platform pembiayaan digital. Tujuan lainnya, terang Handy, untuk mencegah terjadinya penipuan, kebocoran data, atau masalah kerugian akibat kurangnya wawasan terkait keamanan transaksi finansial digital.
"Sehingga langkah-langkah ini diharapkan mampu menciptakan lanskap keuangan digital yang aman, transparan, dan berkelanjutan," tutur Handy.
