Industri Pindar Tumbuh 25,88%, KrediOne Catat Penyaluran Pembiayaan Rp 7,3 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri pinjaman daring (pindar) terus mencatat pertumbuhan pembiayaan digital, dengan outstanding mencapai Rp 105,14 triliun hingga Juni 2026.
Di tengah pertumbuhan tersebut, PT Inovasi Terdepan Nusantara atau KrediOne membukukan penyaluran pembiayaan Rp 7,3 triliun hingga Agustus 2026, naik Rp 2,7 triliun atau 59,8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan penyaluran pada periode yang sama 2025 sebesar Rp 4,6 triliun.
Pertumbuhan KrediOne berlangsung ketika industri pindar menghadapi tuntutan lebih besar untuk menjaga kualitas pembiayaan, pengelolaan risiko, tata kelola, dan perlindungan konsumen. Otoritas Jasa Keuangan mencatat tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 industri pindar mencapai 4,26% pada Juni 2026. TWP90 merupakan tingkat wanprestasi atau gagal bayar yang telah melewati jatuh tempo lebih dari 90 hari.
Baca Juga
Outstanding Pindar Tembus Rp 105,14 Triliun, Transparansi Jadi Sorotan
CEO KrediOne Kuseryansyah mengatakan pertumbuhan industri menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan digital masih kuat. Namun, peningkatan penyaluran juga diikuti tuntutan agar penyelenggara Pindar menjalankan bisnis secara lebih disiplin.
“Industri Pindar saat ini berada pada fase yang menuntut disiplin lebih tinggi. Pertumbuhan industri menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan digital tetap kuat. Namun pada saat yang sama ekspektasi terhadap kualitas dan tanggung jawab industri juga semakin tinggi. Untuk itu, bagi KrediOne, pertumbuhan harus selalu berjalan bersama dengan pengelolaan risiko, responsible lending, kepatuhan, dan perlindungan konsumen,” ujar Kuseryansyah dikutip Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, dinamika industri mendorong KrediOne untuk lebih selektif dalam mengelola pertumbuhan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Perusahaan tidak hanya mengejar peningkatan volume penyaluran, tetapi juga memperkuat efisiensi, teknologi, kualitas pembiayaan, dan pengelolaan risiko.
“Kami memahami pertumbuhan berkelanjutan tak dibangun dengan mengejar angka penyaluran saja. Dibutuhkan disiplin dalam menentukan prioritas, efisiensi dalam mengelola sumber daya, inovasi dalam teknologi, dan konsistensi dalam menjaga kualitas. Bagi kami, efisiensi bukan berarti berhenti untuk tumbuh, tetapi memastikan setiap langkah pertumbuhan memiliki fundamental kuat,” jelasnya.
Perkuat Kolaborasi dan Literasi Keuangan
Sepanjang 2026, KrediOne terlibat dalam sejumlah agenda bersama OJK dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Agenda tersebut mencakup pembahasan kepatuhan, tata kelola, praktik penagihan yang bertanggung jawab, serta perlindungan konsumen.
Baca Juga
KrediOne Raih Digital Brand Awards 2026, Perkuat Kepercayaan Publik di Industri Pindar
Di sisi literasi dan inklusi keuangan, KrediOne menjalankan sejumlah program edukasi di Bandung, Malang, Jambi, dan Bali. Program tersebut melibatkan civitas akademika dan menyasar generasi muda, komunitas, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Di Bali, KrediOne memperkuat literasi keuangan bagi pelaku UMKM dan kelompok tani melalui rangkaian Fintech Lending Days 2026. Kegiatan tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Kelompok Tani Jambu Kristal Tabanan lewat penandatanganan Memorandum of Understanding atau MoU.
“Kami melihat akses dan literasi sebagai dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Ketika akses pembiayaan semakin terbuka, masyarakat juga harus memiliki pemahaman yang memadai untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan kontribusi terhadap literasi, inklusi, dan penguatan ekosistem,” kata Kuseryansyah.
