Rupiah Menguat, Nilai Tukar Mata Uang Asia Redup
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (1/9/2026). Kurs rupiah naik 0,02% ke posisi Rp 17.719 per dolar AS.
Selain Mata Uang Garuda, penguatan juga terjadi terhadap rupee India. Nilai tukar rupee menguat 0,22%.
Penguatan rupiah terjadi saat melemahnya nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yuan China melemah 0,05% terhadap dolar AS, yen Jepang melemah 0,03%, won Korea Selatan melemah 0,19%, ringgit Malaysia melemah 0,22%. Dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing melemah 0,06% dan 0,09%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencermati bahwa indeks dolar AS (DXY) melemah 0,27% menjadi 99,43 meskipun prospek kebijakan The Fed semakin hawkish. Investor melakukan aksi ambil untung pada dolar dan mengalihkan perhatian ke data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini.
Malam ini, ISM Manufacturing PMI AS diperkirakan berada di level 55,2, dibandingkan 55,6 sebelumnya, sementara lowongan pekerjaan JOLTS diperkirakan sekitar 7,3 juta.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Sementara itu, kntrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan probabilitas lebih dari 65% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2026, dibandingkan sekitar 40% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
Ujian penting berikutnya adalah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat, dengan NFP Agustus 2026 diperkirakan meningkat sekitar 58 ribu setelah turun 23 ribu pada Juli.
Di Timur Tengah, ketegangan kembali meningkat, mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 90/barel. Brent ditutup pada US$ 90,49/barel, naik 2,71%, setelah pasukan AS menyerang peluncur rudal Iran di Pulau Larak dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di Yordania.
Gangguan di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi risiko utama yang dapat mendorong kenaikan harga minyak dan ekspektasi inflasi global.
