Rupiah Menguat di Tengah Pelemahan Mata Uang Asia, Pasar Cermati Defisit AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Rabu (14/1/2026) pagi di tengah tekanan global dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) menyusul dampak membesarnya defisit anggaran Negeri Paman Sam.
Mata uang Indonesia tersebut terapresiasi 0,05% dan berada di level Rp 16.868 per dolar AS berbanding terbalik dengan pergerakan mayoritas mata uang negara mitra dagang yang justru tertekan oleh penguatan dolar AS.
Di pasar regional, tekanan terlihat pada sejumlah mata uang utama Asia dan Eropa. Papan data Bloomberg menunjukkan yuan China melemah 0,02%, euro Uni Eropa turun 0,05%, yen Jepang terkoreksi 0,15%, rupee India melemah 0,03%, dan ringgit Malaysia turun 0,09%. Dolar Singapura dan baht Thailand juga tercatat melemah masing-masing 0,05% dan 0,1%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pergerakan rupiah terjadi di tengah mulai terbitnya berbagai laporan keuangan global dan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia menilai dinamika tersebut menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.
“Kami mencermati mulai terbitnya berbagai laporan keuangan dan mengantisipasi meningkatnya ketidakpastian kebijakan dari Presiden AS, Donald Trump,” ujar Andry.
Baca Juga
Tekanan global semakin terasa setelah Pemerintah AS mencatat defisit anggaran sebesar US$ 144,7 miliar pada Desember 2025. Angka ini meningkat dibandingkan defisit November 2025 yang tercatat US$ 86,7 miliar. Dengan perkembangan tersebut, total defisit anggaran sepanjang 2025 mencapai US$ 1,6 triliun.
Di sisi lain, penerimaan negara Amerika Serikat justru menunjukkan peningkatan. Data menunjukkan pendapatan Pemerintah AS naik 6,6% secara tahunan menjadi US$ 484,4 miliar. Kenaikan ini mencerminkan faktor musiman serta waktu penagihan yang mendukung penerimaan pajak dan bea cukai pada Desember 2025.
Meski tekanan fiskal membayangi, Andry menegaskan kondisi perekonomian global terbukti lebih tangguh dari perkiraan. Hal ini tercermin dalam laporan Global Economic Prospects yang diterbitkan Bank Dunia, yang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam laporan tersebut, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,6% pada 2025. Revisi ini mencerminkan perbaikan prospek ekonomi di sejumlah negara, terutama Amerika Serikat.
Proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2026 naik 0,2 poin persentase dibandingkan estimasi sebelumnya pada Juni, sementara pertumbuhan 2025 diperkirakan akan melampaui proyeksi sebelumnya sebesar 0,4 poin persentase. Revisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi global yang lebih kuat dari perkiraan awal.
Baca Juga
Bank Dunia menyatakan sekitar dua pertiga dari revisi kenaikan tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan, meskipun terjadi gangguan perdagangan akibat tarif. Lembaga itu memperkirakan pertumbuhan PDB AS akan mencapai 2,2% pada 2026, dibandingkan 2,1% pada 2025, masing-masing lebih tinggi 0,2 dan 0,5 poin persentase dari proyeksi Juni.
Namun demikian, Bank Dunia memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global masih terlalu terkonsentrasi di negara maju. Secara keseluruhan, laju pertumbuhan tersebut dinilai masih terlalu lemah untuk menurunkan tingkat kemiskinan ekstrem secara signifikan di banyak negara berkembang.

