Dolar Menguat, Rupiah dan Mata Uang Asia “Nyungsep”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (30/9/2025) seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 10 poin atau 0,06% ke Rp 16.690 per dolar AS pada pukul 09.38 WIB.
Penguatan dolar AS mendorong mayoritas mata uang Asia bergerak melemah. Yen Jepang turun 0,07%, yuan China terdepresiasi 0,07%, won Korea Selatan terkoreksi 0,20%, dan dolar Singapura melemah 0,08%. Sementara itu, peso Filipina dan ringgit Malaysia justru menguat tipis masing-masing 0,09% dan 0,05%.
Direktorat Riset Bank Mandiri mencatat rupiah sempat menguat 0,36% pada Senin (29/9/2025) ke Rp 16.680 per dolar AS. Kenaikan tersebut dipicu pelemahan dolar AS secara global akibat penurunan indeks DXY ke kisaran 98.
Baca Juga
Usai Menkeu dan Gubernur BI Makan Bebek Goreng Bersama, Rupiah Menguat Terbatas
Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, penguatan rupiah pada awal pekan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, khususnya pelemahan dolar AS karena kekhawatiran pasar terhadap potensi penutupan pemerintahan AS (government shutdown) jika Kongres gagal mengesahkan anggaran tahun fiskal.
“Kemungkinan besar, penguatan rupiah hari Senin (29/9/2025) lebih dipengaruhi faktor eksternal yaitu melemahnya indeks dolar AS yang jatuh ke sekitar 98 karena prospek penutupan pemerintahan AS dan data kunci ekonomi AS, seperti non-farm payrolls,” kata Sutopo kepada Investortrust.id.
Ekspektasi pasar dan arus modal
Selain faktor eksternal, kata Sutopo, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi memangkas suku bunga acuan sekitar 40 basis poin (bps) pada akhir 2025 menjadi sentimen tambahan bagi pasar.
Baca Juga
Menurutnya, aliran dana jangka pendek (hot money) juga mulai kembali masuk ke pasar obligasi dan saham domestik, sehingga mendorong permintaan rupiah.
“Pergerakan investor domestik serta arus modal asing ke pasar obligasi dan saham Indonesia dapat memberikan tambahan tenaga bagi rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, pasar saham domestik menunjukkan kinerja positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,3% ke 8.124,25 pada Senin, didorong arus masuk asing bersih senilai Rp 555,6 miliar. Imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun turun 5,4 bps ke 6,37%, sedangkan imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun terkoreksi tipis 0,4 bps ke 4,99%.

