Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.722 per dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (31/8/2026). Posisi rupiah melemah 0,16% ke posisi Rp 17.722 per dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena menguatnya indeks dolar AS atau DXY. Kondisi ini terjadi karena efek serangan AS ke Pulau Larak, Iran.
Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran.
Negosiasi untuk mengakhiri konflik sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Di dalam negerinya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada pemberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap minggunya, dengan tujuan memutus total akses Republik Islam tersebut dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
Baca Juga
Sementara itu, pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole. Warsh menekankan bahwa fokus utama bank sentral saat ini seharusnya adalah stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan September. Warsh masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Ketua Fed tersebut juga mengatakan bahwa sulit untuk menyebut kondisi keuangan saat ini sebagai kondisi yang restriktif, sembari mencatat bahwa pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda adanya pengetatan kebijakan moneter.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.686 Per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi. Adapun, hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat telah mencapai sekitar Rp 233 triliun. Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir tahun dan berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap fiskal pada 2027.
Besarnya risiko subsidi energi Indonesia tidak terlepas dari ketergantungan terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama harga energi global dan nilai tukar rupiah. Terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi. Misalnya seperti harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik. 3 poin
