Bos BRI (BBRI) Ungkap Faktor Pendorong Kenaikan Laba 17,52% di Paruh Pertama 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrut.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) mencatat pertumbuhan laba yang solid di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Pada paruh pertama 2026, laba konsolidasi BRI tumbuh 17,52% secara year on year (yoy) menjadi Rp 31,18 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh sejumlah faktor utama, mulai dari peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), pendapatan berbasis komisi (fee based income), perbaikan struktur pendanaan, hingga pertumbuhan kredit.
Ia mengatakan, pendapatan bank pada dasarnya didorong oleh dua sumber, yaitu NII dan fee based income. Karena itu, BRI terus memperkuat fungsi intermediasi sekaligus meningkatkan kualitas dan efisiensi pendanaan.
“Revenue bank itu di drive oleh net interest income dan fee based income,” ujar Hery, dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 BRI, secara daring, Senin (31/8/2026).
Baca Juga
Tumbuh 17,52%, BRI (BBRI) Cetak Laba Rp 31,18 Triliun di Semester I 2026
Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih BRI tumbuh 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 73,3 triliun.
Menurutnya, salah satu fokus utama transformasi BRI melalui BRIvolution 2.0 adalah memperbaiki struktur pendanaan dengan meningkatkan porsi dana murah atau current account and saving account (CASA) dari dana pihak ketiga (DPK).
BRI, lanjut Hery, terus meningkatkan efektivitas transaction banking untuk mendorong pertumbuhan CASA. Pasalnya, dana murah tidak akan optimal dihimpun apabila rekening operasional dan aktivitas transaksi nasabah tidak berada di BRI.
“DPK murah, baik itu tabungan maupun giro tidak akan bisa di generate oleh sebuah bank kalau transaction banking-nya atau rekening operasionalnya tidak ada di BRI,” katanya.
Untuk memperkuat transaksi nasabah, BRI melakukan pengembangan pada berbagai kanal digital dan layanan transaksi. Salah satunya melalui super app BRImo, baik dari sisi tampilan maupun fitur.
Hery menjelaskan, semakin tinggi volume dan frekuensi nasabah melalui ekosistem BRI, semakin besar pula saldo yang tersimpan di bank. Selain BRImo, BRI juga mengandalkan jaringan electronic data capture (EDC), BRILink, QRIS, serta berbagai kanal transaksi lainnya.
Upaya tersebut turut mendorong peningkatan CASA ratio BRI dibandingkan tahun sebelumnya. “Kita mampu meningkatkan CASA ratio kita ke posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Itu yang pertama,” ucapnya.
Baca Juga
Lewat Skema Joint Financing dengan BRI (BBRI), BRI Finance Perkuat Pembiayaan Segmen Komersial
Kredit Tumbuh, UMKM Tetap Jadi Fokus
Selain itu, pertumbuhan kredit juga menjadi faktor penting lainnya yang menopang kinerja BRI. Hery mengatakan, pihaknya tetap mempertahankan fokus pada segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dengan porsi pembiayaan ke segmen tersebut mencapai lebih dari 75%.
Ia menambahkan, pertumbuhan kredit mikro dan segmen small and medium enterprise (SME) terus meningkat. Di lain sisi, penyaluran kredit konsumer juga menunjukkan pertumbuhan.
“Dengan pertumbuhan kredit yang mulai membaik ini dan yield yang juga cukup baik itu membuat kita menjadi bank yang bisa mendukung pertumbuhan,” ujar Hery.
Hingga semester I 2026, BRI sukses menyalurkan total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.646 triliun atau meningkat 16,2% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 1.417 triliun.
Fee Based Income Ikut Didorong
Faktor berikutnya adalah peningkatan fee based income. BRI terus mengembangkan pendapatan berbasis komisi tersebut melalui peningkatan aktivitas transaksi nasabah, biaya administrasi, serta berbagai transaksi lainnya dalam ekosistem BRI.
“Kita dorong terus, baik itu dari transaksi maupun dari biaya administrasi, kemudian transaksi yang lain yang ada di BRI,” kata Hery.
Dengan kombinasi pertumbuhan NII, peningkatan fee based income, penguatan CASA, serta pertumbuhan kredit, BRI mampu membukukan pertumbuhan laba secara konsolidasi sebesar 17,52% (yoy) menjadi Rp Rp 31,18 triliun pada semester I 2026.
Pencapaian tersebut, kata Hery, menjadi momentum positif bagi bank berkode saham BBRI ini di tengah dinamika perekonomian yang masih menghadapi berbagai tantangan.
“Ini adalah satu berkah ya satu hal yang perlu kita syukuri. Kita mengerti bahwa di tengah dinamika ekonomi yang tidak terlalu menjanjikan tapi BRI mampu membangun momentum pertumbuhan yang sehat dan kualitas,” ucapnya.
