Eagle High (BWPT) Cetak Lompatan Laba 78%, Manajemen Ungkap Faktor Pendorong Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) berhasil membukukan lompatan laba bersih hingga kuartal III-2024 sebesar 78% menjadi Rp 185,15 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 104,29 miliar. Bahkan, capaian ini telah melampaui torehan sepanjang tahun 2023 senilai Rp 159,57 miliar.
Direktur Utama BWPT Henderi Djunaidi mengatakan, lompatan laba bersih ini berkat sejumlah strategi yang dilakukan perseroan, seperti perseroan konsisten menurunkan pinjaman bank, sehingga beban bunga pinjaman bisa dipangkas sebanyak 16% YoY.
Pertumbuhan laba yang pesat ini didukung konsistensi emiten yang dikendalikan Rajawali Group (BWPT) ini mempertahankan pertumbuhan EBITDA. Hingga kuartal III-2024, EBITDA bertumbuh 10% YoY dari Rp 840 miliar menjadi Rp 924 miliar hingga September 2024.
Baca Juga
Fokus Produktivitas, Efisiensi, dan Profitabilitas, Laba Eagle High (BWPT) Melonjak 96%
Pertumbuhan juga didukung penerapan kebijakan pembelian buah sawit dari luar secara selektif. BWPT fokus pada kualitas dan harga buah, sehingga kontribusi pembelian buah luar sampai September 2024 hanya 28%.
“Langkah strategis tersebut menciptakan efisiensi biaya operasional yang tercermin dari penurunan beban pokok penjualan sebesar 16% YoY, sehingga laba kotor BWPT bisa bertumbuh 15%,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima investortrust.id di Jakarta, Rabu (30/10/2024).
Penurunan beban pokok penjualan juga ditopang koreksi harga pupuk yang signifikan tahun 2024 dan bersamaan dengan efisiensi biaya pemeliharaan kebun. Penurunan biaya pemeliharaan ini diprediksi terus berlanjut setelah penerapan sistem digitalisasi dan mekanisasi di seluruh kegiatan operasional perusahaan.
Baca Juga
Prabowo Ingin B35 Dinaikkan ke B60, Bahlil Pastikan Pasokan Minyak Sawit Aman
Terkait pendapatan, dia mengatakan, terkoreksi tipis sepanjang Januari-September 2024 akibat pengurangan 1 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menjadi 7 PKS, sehingga membuat tingkat pembelian buah luar tahun ini turun, dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan mencatatkan penurunan pendapatan dari Rp 3,21 triliun menjadi Rp 2,93 triliun.
“Kami optimistis peningkatan produksi akan terjadi pada kuartal IV tahun 2024, mengingat keterlambatan musim hujan tahun ini. Hal ini diharapkan membuat target pendapatan tahun ini bisa melampaui. Pertumbuhan juga akan didukung peningkatan Oil Extraction Rate (OER) yang kini sudah mencapai 23,6%,” terangnya.
Rasio Membaik
Henderi mengatakan, BWPT berhasil mencetak pertumbuhan fundamental double digit secara berkelanjutan yang dicerminkan perbaikan rasio keuangan. Gross profit margin dan operating margin meningkat masing-masing menjadi 26% dan 36%. Begitu juga margin keuntungan bersih ikut terdongkrak.
“BWPT berhasil menerapkan strategi yang tepat dalam menghadapi kondisi yang menantang hingga kuartal III-2024 ini. Keberhasilan didukung tiga pilar, yaitu produktivitas, efisiensi, dan profitabilitas, sehingga laba bersih tumbuh pesat,” terangnya.
Baca Juga
Indonesia Butuh Waktu 10 Tahun Bisa Produksi CPO 100 Juta Ton per Tahun
Hingga kini, dia mengatakan, perseroan tengah melakukan penanaman lahan baru untuk meningkatkan produksi ke depan, termasuk peningkatan kapasitas pabrik untuk memperbesar produksi CPO. Pabrik tersebut ditargetkan beroperasi pada awal kuartal II-2025.
BWPT hingga kini telah memiliki 3 sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan 10 sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikat ini bagian dari realisasi atas Roadmap Certified Oil dan ramah lingkungan yang menjadi komitmen BWPT terhadap Environment, Social, and Governance (ESG).
Grafik Saham BWPT

