Likuiditas Perbankan Mengetat, Ekonom Permata Bank Wanti-wanti Risiko Bunga Kredit Naik Lebih Cepat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Likuiditas perbankan yang semakin mengetat berpotensi mempengaruhi efektivitas transmisi kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), khususnya terhadap suku bunga kredit. Kondisi tersebut bahkan dinilai dapat mempercepat respon perbankan dalam menaikkan bunga kredit apabila tekanan likuiditas semakin signifikan.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, transmisi suku bunga perbankan sangat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas. Ketika likuiditas semakin ketat, penyesuaian suku bunga perbankan berpotensi berlangsung lebih cepat.
“Semakin ketat likuiditas di perbankan tentu kecepatannya juga akan semakin cepat dalam hal kenaikannya. Sehingga kalau saya melihat dengan kondisi likuiditas yang makin mengetat saat ini justru malah risiko untuk kenaikan suku bunga lebih cepat itu bisa cukup terjadi,” ujarnya, dalam Virtual Media Briefing Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Review Kuartal II 2026, Senin (10/8/2026).
Menurut Josua, kondisi likuiditas yang mengetat justru meningkatkan risiko terjadinya transmisi kenaikan suku bunga. Dengan begitu, meskipun BI telah menurunkan suku bunga kebijakan, tekanan likuiditas dapat membuat penurunan bunga kredit tidak berlangsung secepat yang diharapkan.
Meski begitu, ia menilai BI masih memiliki instrumen untuk meredam dampak pengetatan likuiditas tersebut. Salah satunya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang memberikan insentif kepada perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Baca Juga
Transmisi Suku Bunga Berlanjut, Permintaan Kredit dan Kualitas Pembiayaan Jadi Perhatian
Namun, Josua tetap melihat adanya risiko terhadap suku bunga kredit. Terlebih, telah terjadi kenaikan suku bunga sekitar 100 basis poin pada periode Mei hingga Juni lalu.
“Adanya kenaikan bunga so far 100 basis poin dari bulan Mei-Juni, ini pun juga nantinya akan bisa mempercepat respon dari perbankan untuk meng-adjust suku bunga kreditnya kalau likuiditasnya mengetat cukup signifikan,” katanya.
Fundamental Ekonomi Kuat, Sentimen Pasar Belum Pulih
Di lain sisi, Josua menilai kuatnya fundamental ekonomi Indonesia belum otomatis membuat pasar keuangan domestik bebas dari tekanan. Penjualan saham dan pelemahan rupiah, menurutnya tidak semata-mata mencerminkan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri.
Ia menjelaskan, pergerakan rupiah dan pasar saham juga sangat dipengaruhi oleh sentimen investor, termasuk perkembangan global dan arah suku bunga global.
“Kalau berbicara rupiah bukan hanya faktor fundamental saja, tapi karena ada faktor sentimen,” ucap Josua.
Baca Juga
Menurutnya, secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia relatif masih baik. Namun dari sisi sentimen, masih terdapat sejumlah faktor yang membuat investor bersikap lebih berhati-hati. Salah satunya adalah arah suku bunga global yang turut menekan pergerakan aliran modal asing ke pasar domestik.
“Karena selai obligasi, pasar saham juga menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif nanti kalau misalkan suku bunga ini cenderung meningkat,” ujar Josua.
Selain faktor global, Josua menyoroti ketidakpastian terkait indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meskipun keputusan MSCI masih ditunda hingga November mendatang, penundaan tersebut berarti ketidakpastian belum sepenuhnya hilang dari pasar Indonesia.
“Artinya yang harus segera di solve oleh pemerintah, regulator, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) agar concern-concern dari MSCI ini bisa segera diselesaikan,” katanya.

