Ketahanan Fundamental Solid, BNI Masuk Nominasi The Best Investortrust Companies 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketahanan fundamental solid yang dibangun bertahun-tahun menghantarkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masuk nominasi peraih penghargaan The Best Investortrust Companies 2026, ajang apresiasi tahunan yang diselenggarakan Investortrust untuk emiten-emiten terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam ketidakpastian global dan kondisi geopolitik yang kurang kondusif, BNI menunjukkan ketahanan fundamental solid yang dibangun selama bertahun-tahun. Hal ini tecermin dari kondisi permodalan dan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang tetap resilien diiringi oleh level pencadangan yang memadai untuk menjaga profil risiko tetap terjaga. Selain itu, BNI senantiasa tetap menerapkan langkah antisipatif dan kesigapan untuk memastikan BNI dapat melewati ketidakpastian kondisi global yang masih berlangsung ini.
BNI terus memperkuat posisinya sebagai salah satu bank terbesar nasional di tengah tekanan likuiditas industri perbankan, perlambatan ekonomi domestik, dan meningkatnya kompetisi layanan digital. Emiten ini tidak hanya mengandalkan kekuatan bisnis korporasi dan wholesale banking, tetapi juga mulai agresif memperbesar basis nasabah ritel dan digital melalui transformasi aplikasi wondr by BNI yang kini menjadi motor pertumbuhan baru perseroan.
Transformasi tersebut mulai terlihat nyata dalam kinerja keuangan BNI sepanjang 2025 hingga kuartal I-2026. Perseroan berhasil menjaga pertumbuhan kredit, memperkuat dana murah (CASA), serta memperluas penetrasi digital banking di tengah tantangan tingginya biaya dana dan ketatnya kompetisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Ajang The Best Investortrust Companies 2026 mengusung tema Indonesia's Capital Market Leaders in the Age of Fiscal Discipline, Governance Reform, and Geopolitical Risk. Penilaian dilakukan berdasarkan delapan indikator utama, seperti return saham satu tahun, volatilitas, likuiditas perdagangan, pertumbuhan penjualan dan laba operasi tiga tahun, margin operasional, asset turnover, hingga ROE.
Selain aspek keuangan, penjurian mempertimbangkan tata kelola perusahaan, transparansi, keterbukaan informasi, serta kemampuan emiten menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Dari total 967 emiten di BEI, hanya 279 emiten atau sekitar 28,9% yang lolos tahap awal seleksi. Seleksi kemudian diperketat lagi melalui sejumlah indikator tambahan sehingga hanya 84 emiten yang berhasil melaju ke tahap lanjutan.
Rangkaian penjurian berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026, dari proses nominasi, polling pelaku pasar, wawancara, hingga rapat final dewan juri. Acara puncak penghargaan dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026.
Transformasi Berkelanjutan
Sepanjang 2025, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp Rp 20,04 triliun. Perseroan mencatat pertumbuhan penyaluran kredit dan ekspansi aset yang cukup solid. Kredit tumbuh mendekati Rp 900 triliun, sementara total aset menembus lebih dari Rp 1.360 triliun. Rasio kredit bermasalah atau NPL juga tetap terjaga di kisaran di bawah 2%, mencerminkan kualitas aset yang masih sehat di tengah perlambatan ekonomi.
Memasuki kuartal I-2026, kinerja BNI mulai menunjukkan penguatan yang lebih seimbang. Dana murah atau CASA tumbuh signifikan mencapai Rp 731,6 triliun atau naik 26,6% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan giro dan tabungan yang berasal dari akselerasi transaksi digital dan penguatan platform wholesale transaction banking. Perseroan mencatat laba bersih di kuartal I-2026 sebesar Rp 5,7 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ujar Putrama.
BNI kini tengah menjalankan transformasi bisnis yang difokuskan pada wilayah, area, dan cabang, melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment). Dengan semangat “empowerment”, transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas jaringan BNI hingga ke unit operasional terkecil, yaitu memberdayakan kantor cabang dan kantor cabang pembantu sebagai point of sale utama atas produk dan layanan perbankan.
Transformasi ini mulai dijalankan pada kuartal IV-2025 dengan model implementasi kapabilitas yang dilakukan secara bertahap. Ditargetkan, dengan implementasi BRAVE pertumbuhan kredit dan CASA dapat tumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan, kemudian diikuti peningkatan market share BNI di industri perbankan, dan berujung pada meningkatnya produktivitas cabang-cabang BNI yang saat ini berjumlah lebih dari 1.700 cabang di seluruh Indonesia.
Sekitar 6 bulan setelah inisiatif BRAVE dimulai, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga. Hingga Maret 2026, tercatat kredit BNI tumbuh 20,1% secara year on year, ditopang oleh struktur pendanaan CASA yang semakin kuat dengan pertumbuhan 26,6% secara year on year, sehingga mampu menopang efisiensi biaya dana (cost of funds) di tengah kondisi dinamika pasar yang penuh tantangan.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengatakan keberhasilan memperkuat CASA menjadi fondasi penting untuk menjaga efisiensi biaya dana sekaligus mendukung ekspansi kredit perseroan. Menurut dia, penguatan dana murah tersebut tidak lepas dari kontribusi digital ecosystem BNI, terutama wondr by BNI dan BNIdirect.
Pencapaian dana pihak ketiga (DPK) yang kuat menjadi salah satu penopang utama kinerja keuangan BNI sepanjang kuartal I 2026. Pertumbuhan dana murah (CASA) BNI mencapai 26,6% YoY menjadi Rp 731,6 triliun pada Maret 2026, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7% YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 10,4% YoY.
Pencapaian ini tidak diperoleh dengan singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI. Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1% di Maret 2025 menjadi 11,3% di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.
Di sisi digital banking, BNI saat ini memang tengah melakukan transformasi besar-besaran. Aplikasi wondr by BNI menjadi fokus utama perseroan untuk memperkuat basis nasabah ritel dan transaksi harian.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan bahwa transformasi digital BNI bukan sekadar migrasi teknologi, melainkan upaya membangun pengalaman nasabah yang lebih personal dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pengembangan fitur baru di wondr by BNI dilakukan agar nasabah memiliki alasan kuat untuk terus menggunakan platform tersebut dalam aktivitas finansial sehari-hari.
Selain retail banking, BNI juga terus memperkuat layanan korporasi melalui platform BNIdirect. Jumlah pengguna BNIdirect mencapai sekitar 188 ribu user dengan total transaksi tumbuh lebih dari 16%. Layanan ini menjadi salah satu tulang punggung BNI dalam mempertahankan dominasi pada segmen corporate banking dan transaction banking nasional.
Dukung Program Prioritas
BNI sebagai bank nasional yang memiliki kapabilitas global menegaskan peran sebagai kontributor aktif bagi ekonomi nasional, tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sejalan dengan prioritas pemerintah dan Asta Cita, kontribusi tersebut difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil yang menjadi penggerak utama penciptaan lapangan kerja dan pembangunan daerah.
Peran tersebut diwujudkan melalui pembiayaan yang terarah, penguatan layanan keuangan, serta optimalisasi digitalisasi guna memastikan program pembangunan berjalan efektif dan berdampak luas. Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), BNI berperan dengan menghadirkan solusi transaksi digital melalui Virtual Account dan BNIdirect untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi.
Pada Program Sekolah Rakyat, BNI menyediakan layanan perbankan digital yang terintegrasi, termasuk pembukaan rekening bagi siswa dan tenaga pendidik, serta penguatan ekosistem keuangan melalui Agen46. Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM, koperasi, dan desa juga terus diperkuat melalui pembiayaan untuk program KDMP yang terhubung dengan Agen46, serta partisipasi dalam Program 3 Juta Rumah melalui penyaluran KPR FLPP.
“BNI akan terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sekaligus memperkuat peran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tegas Putrama.
Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan nonbunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun hingga kuartal I-2026.
Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5% serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.
"Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” tutur Paolo.
Sedangkan Direktur Risk Management BNI David Pirzada menuturkan bahwa BNI terus mendorong penerapan strategi keberlanjutan secara menyeluruh, baik dalam aktivitas operasional maupun penyaluran pembiayaan.
Komitmen tersebut tercermin melalui penguatan inisiatif keuangan berkelanjutan, serta integrasi prinsip LST/ESG dan TJSL dalam kebijakan jangka panjang, guna memastikan keseimbangan antara kinerja bisnis dan kontribusi terhadap lingkungan serta masyarakat.
Komitmen tersebut tercermin dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp 5 triliun pada 2025 dengan peringkat “idAAA”, serta Green Bond Rp 5 triliun pada 2021, yang dananya digunakan untuk mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial sesuai standar nasional dan internasional.
“BNI berkomitmen untuk terus memperluas pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau,” kata David.
Di sisi pembiayaan, BNI terus memperluas portofolio berkelanjutan melalui Sustainability Linked Loan (SLL) dan skema green financing guna mendorong peningkatan kinerja ESG nasabah serta mendukung upaya penurunan emisi menuju target Net Zero Emission 2060.
Sebagai pionir Green Banking dan Agent of Development, BNI mengintegrasikan prinsip keuangan berkelanjutan ke dalam nilai, budaya kerja, strategi bisnis, dan kebijakan operasional. BNI juga berperan aktif mendorong transisi hijau nasional melalui pemanfaatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk mengarahkan investasi pada proyek-proyek berkelanjutan.
Dari sisi aksi korporasi, salah satu keputusan penting terbaru adalah persetujuan pembagian dividen sebesar Rp 13,03 triliun atau sekitar 65% laba bersih tahun buku 2025. Selain itu, RUPST juga menyetujui buyback saham senilai Rp 905 miliar sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan shareholder value.
Okki Rushartomo mengatakan keputusan strategis dalam RUPST tersebut merupakan bagian dari langkah menjaga kinerja berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi permodalan perusahaan ke depan.
Pandangan Analis
Di mata analis pasar modal, saham BBNI masih dipandang menarik sebagai salah satu big bank dengan valuasi relatif murah. Sejumlah analis menilai tekanan terhadap laba bersih BBNI dalam dua tahun terakhir lebih disebabkan kondisi likuiditas industri dan kenaikan cost of fund, bukan pelemahan fundamental bisnis inti.
Analis juga melihat pertumbuhan kredit BBNI masih termasuk yang terbaik di antara bank-bank besar nasional, terutama pada segmen korporasi dan consumer financing. Selain itu, dividend yield BBNI yang tinggi membuat saham ini tetap menarik bagi investor jangka panjang dan dividend hunter.
Di komunitas investor ritel Indonesia, BBNI cukup sering disebut sebagai salah satu saham bank BUMN yang undervalued dibanding kompetitornya. Banyak investor menilai transformasi digital melalui wondr by BNI dapat menjadi katalis penting untuk memperbesar valuasi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Namun secara keseluruhan, fundamental BNI dinilai masih sangat kuat. Dengan basis korporasi besar, jaringan internasional yang luas, pertumbuhan digital yang agresif, serta kemampuan menjaga kualitas aset, BBNI masih dipandang sebagai salah satu saham perbankan unggulan di Bursa Efek Indonesia untuk jangka panjang.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi saham bank incaran pemodal asing di saat bank besar lainnya menghadapi tekanan jual masif. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan BBNI menorehkan pembelian bersih dalam sebulan terakhir.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 4.700. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 1,0 kali. Target harga tersebut dihitung menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM) dengan asumsi cost of equity (CoE) rata-rata lima tahun sebesar 12,0% dan proyeksi return on equity (ROE) 2026 sebesar 11,8%.
Rekomendasi beli tersebut mempertimbangkan keberhasilan BBNI mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan solid di kuartal I-2026. Rekomendasi tersebut juga mereflekasikan panduan kinerja tahun 2026 dengan target pertumbuhan kredit mencapai 8–10%, NIM di kisaran 3,5-3,8%, CoC sebesar 1,0-1,2%, serta peningkatan opex yang dibatasi hingga 7%.
Begitu juga dengan Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa fundamental kinerja BNI tetap solid di tengah dinamika ekonomi global, sehingga saham ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.600. Solidnya kinerja ditunjukkan ekspansi kredit yang solid serta peningkatan pendapatan berbasis komisi. Dari sisi pendanaan, pertumbuhan dana murah (CASA) serta tren loan to deposit ratio (LDR) menunjukkan perbaikan.
Pandangan positif terhadap saham BBNI juga diberikan Analis MNC Sekuritas Indonesia Victoria Venny dalam riset terbarunya. Dia mengatakan, kinerja keuangan BBNI pada kuartal I-2026 telah melampaui ekspektasi, didorong oleh pertumbuhan kredit yang kuat meskipun margin bunga bersih (NIM) mengalami tekanan. Penyaluran kredit tumbuh signifikan sebesar 20,1% YoY, ditopang oleh segmen korporasi yang naik 23,5% YoY.
Kualitas aset BBNI juga menunjukkan kondisi yang tetap stabil dengan rasio kredit bermasalah (gross NPL) level 1,9%. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,6% atau turun 230 basis poin YoY, menunjukkan pengelolaan risiko yang lebih baik.
Dengan torehan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 5.100. Saat ini, saham BBNI diperdagangkan pada valuasi price to book value (PBV) sebesar 0,8 kali atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun, sehingga saham ini masih menarik.

