Masuk Nominasi The Best Investortrust Companies 2026, PAM Mineral (NICL) Tunjukkan Fundamental Solid di Tengah Dinamika Industri Nikel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT PAM Mineral Tbk (NICL) menjadi salah satu kandidat kuat peraih penghargaan The Best Investortrust Companies 2026, ajang apresiasi tahunan yang diselenggarakan Investortrust untuk emiten-emiten terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Emiten pertambangan nikel ini dinilai berhasil menjaga konsistensi pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri komoditas global. Dengan fundamental keuangan yang solid, profitabilitas yang tetap terjaga, serta strategi ekspansi jangka panjang yang terukur, NICL dinilai memiliki daya saing kuat di sektor pertambangan nasional.
Di tengah fluktuasi harga nikel dunia, perseroan justru terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan, dan pengembangan operasional berbasis keberlanjutan. Untuk tahun 2026, NICL membidik volume produksi dan penjualan mencapai 2,6 juta wet metric ton (wmt).
Direktur Utama Ruddy Tjanaka menegaskan bahwa eksplorasi dan pengeboran terus dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga kesinambungan operasi dan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya yang dimiliki perseroan.
“Kegiatan eksplorasi dan pengeboran terus kami lakukan sebagai langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan operasi serta peningkatan nilai ekonomi sumber daya yang dimiliki,” ujar Ruddy dalam paparan publik perseroan, baru-baru ini.
Saat ini, NICL mengoperasikan dua tambang utama yang menjadi tulang punggung produksi perusahaan. Tambang pertama berada di wilayah konsesi PAM Mineral di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan cadangan sekitar 8,25 juta ton. Sementara tambang kedua dikelola entitas anak, PT Indrabakti Mustika (IBM), di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan cadangan mencapai 91,82 juta ton.
Kekuatan cadangan tersebut menjadi modal strategis perseroan untuk menjaga kesinambungan produksi hingga jangka panjang. Perseroan juga telah menyiapkan roadmap eksplorasi hingga 2035 guna memastikan pertumbuhan cadangan dan keberlanjutan operasional tambang.
Baca Juga
Pengendali Ini Agresif Borong Saham PAM Mineral (NICL), Meski Harganya Terkerek
Sepanjang tahun buku 2025, NICL mencatatkan volume produksi dan penjualan sebesar 2,56 juta wmt. Kinerja tersebut menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,47 triliun atau tumbuh 2,12% secara tahunan.
Di sisi profitabilitas, laba bersih perseroan meningkat 8,27% menjadi Rp 345,14 miliar. Pertumbuhan volume penjualan sebesar 13% serta pengendalian biaya operasional menjadi faktor utama yang menopang penguatan margin perusahaan.
“Kinerja tersebut mencerminkan kemampuan perseroan menjaga kesinambungan operasional dan daya saing di tengah dinamika industri nikel global,” kata Ruddy.
Selain memperkuat bisnis inti, NICL juga mulai mengembangkan sistem digital terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Digitalisasi akan diterapkan pada berbagai lini, mulai dari perencanaan tambang, pengawasan logistik, hingga sistem manajemen kinerja.
Perseroan juga terus memperkuat implementasi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG). Pembaruan dokumen lingkungan, efisiensi penggunaan sumber daya, hingga penjajakan peluang akuisisi aset strategis menjadi bagian dari agenda pengembangan jangka panjang perusahaan.
Dari sisi pemasaran, NICL memperluas jaringan penjualan dari Sulawesi hingga Halmahera serta membuka peluang kemitraan strategis global. Perseroan juga mulai mempelajari diversifikasi produk pasca 2027 seiring pertumbuhan kapasitas smelter domestik dan meningkatnya permintaan nikel untuk industri kendaraan listrik dan energi hijau.
Baca Juga
Usai Sahamnya Melesat, PAM Mineral (NICL) Bagikan Dividen Ini
Ajang The Best Investortrust Companies 2026 mengusung tema Indonesia's Capital Market Leaders in the Age of Fiscal Discipline, Governance Reform, and Geopolitical Risk. Penilaian dilakukan berdasarkan delapan indikator utama, yakni return saham satu tahun, volatilitas, likuiditas perdagangan, pertumbuhan penjualan dan laba operasi tiga tahun, margin operasional, asset turnover, dan return on equity (ROE).
Selain kinerja keuangan, proses penjurian juga mempertimbangkan aspek tata kelola perusahaan, transparansi, keterbukaan informasi, serta kemampuan emiten menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Dari total 967 emiten yang tercatat di BEI, hanya 279 emiten atau sekitar 28,9% yang lolos tahap awal seleksi. Proses penyaringan kemudian diperketat hingga menyisakan 84 emiten terbaik yang melaju ke tahap lanjutan penjurian.
Rangkaian penjurian berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026 melalui proses nominasi, polling pelaku pasar, wawancara, hingga rapat final dewan juri. Puncak penghargaan The Best Investortrust Companies 2026 dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026.

