Hendra Lembong Sebut Perkembangan Teknologi di Perbankan Jadi Pisau Bermata Dua
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) sekaligus Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong menganalogikan perkembangan teknologi di industri perbankan saat ini sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi mampu meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan, namun di di sisi lain juga memunculkan risiko siber yang semakin kompleks.
Menurut dia, transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam industri perbankan. Layanan keuangan kini menjadi semakin cepat, mudah diakses, dan lebih personal berkat pemanfaatan teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pembelajaran mesin (machine learning), komputasi awan (cloud computing), termasuk model bahasa besar (large language model/LLM) atau robot kecerdasan buatan (bot AI) untuk layanan pelanggan.
“Saya lihat beberapa bulan terakhir, kami sudah memakai teknologi LLM yang kami develop sendiri. Tentu dengan bantuan vendor dari luar, tapi kami develop on prem. Impact LLM memang luar biasa,” ujar Hendra, dalam CxO Forum Banking Update 2026, di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga
Miris, Hanya 11% Perusahaan RI yang Siap Hadapi Serangan Siber
Hendra Lembong mengungkapkan, penggunaan LLM pada layanan call center dan WhatsApp banking BCA mampu menekan jumlah interaksi yang harus ditangani manusia hingga 60% hanya dalam waktu dua bulan.
Meski begitu, Hendra mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap agar tidak berdampak negatif terhadap kebutuhan lapangan kerja di Indonesia.
“Kami ingatkan juga ke tim project, jangan ketagihan. Kalau ketagihan semuanya mau di AI-kan, Indonesia ini butuh lapangan kerja cukup banyak. Jadi, harus pelan-pelan dan jangan sampai ini halusinasi dan sebagainya,” kata dia.
Hendra Lembong menilai, semakin luas digitalisasi yang dilakukan industri perbankan, semakin besar pula risiko yang harus dikelola. Risiko siber saat ini tidak lagi sekadar isu teknis, melainkan telah menjadi risiko bisnis, operasional, hingga reputasi.
“Kalau kita dengar dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), data yang masuk di Indonesia Anti Scam Center (IASC) itu triliunan dan kebanyakan tidak bisa di-recover. Kalau tidak salah yang di-recover 20-30%, mungkin juga tidak sampai. Jadi, ini uang tabungan masayrakat hilang, tidak diganti,” ucap Hendra.
Dia menambahkan, risiko tersebut, termasuk maraknya kasus rekayasa sosial (social engineering), menjadi salah satu tantangan besar bagi industri perbankan karena modusnya kerap sulit dideteksi, bahkan oleh pegawai bank sendiri.
Hendra juga menyoroti pentingnya penerapan standar keamanan siber yang proporsional sesuai kapasitas masing-masing bank. Tak semua bank harus menerapkan teknologi keamanan dengan standar tertinggi karena kebutuhan dan tingkat serangannya berbeda.
Baca Juga
Dorong Pergeseran Strategi Keamanan, OJK Perkuat Ketahanan Siber Industri Keuangan Digital
“Kalau semua suruh upgrade teknologinya dengan standar Rolls Royce, tidak kuat semua bank. Jadi memang harus dibikin matriksnya, demikian juga kalau bank yang kecil tentu tidak dapat serangan sebanyak bank besar. Jadi, mungkin tidak perlu juga invest seperti bank besar,” papar dia.
Hendra Lembong menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan industri telekomunikasi, untuk memperkuat perlindungan terhadap sistem perbankan nasional.
Ia mencontohkan, kasus penyalahgunaan base transceiver station (BTS) palsu yang digunakan untuk menyisipkan layanan pesan singkat (SMS) penipuan kepada nasabah. Persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan perbankan sendiri tanpa dukungan operator telekomunikasi.
“Kalau WhatsApp saja encrypted, kalau SMS tidak. Itu dengan mudah pakai parabola di-intercept, dimasukin message palsu, semuanya percaya. Tolong ramai-ramai telko juga harus upgrade semua infrastrukturnya untuk melindungi juga perbankan,” kata Hendra.

