PLN Ungkap Tantangan Transisi Energi: Dari Biaya Sampai Lapangan Pekerjaan
JAKARTA, investortrust.id - PT PLN (Persero) mendukung penuh rencana pemerintah dalam transisi energi guna mewujudkan target net zero emission (NZE) 2060. Namun begitu, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengimplementasian transisi energi ini.
EVP Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN, Warsono menyampaikan, salah satu tantangan yang muncul adalah terkait dengan biaya atau harga. Pasalnya, untuk mengembangkan dan mengimplementasikan energi baru terbarukan (EBT) tidaklah murah.
“Challenge-nya itu pertama dari price. Ini bagaimana supaya harganya tetap terjangkau. Karena biaya untuk membangun dari transmisi, super grid, smart grid, kemudian membangun CCS/CCUS dan sebagainya itu biayanya tidak murah,” papar Warsono dalam acara Power Brain Communications, Selasa (16/7/2024).
Baca Juga
Warsono mengungkapkan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk membangun itu semua bisa mencapai US$ 700 miliar hanya untuk keperluan kelistrikan. Angka tersebut termasuk untuk sektor industri, sektor transportasi, dan lainnya.
Selain itu, tantangan lainnya yang tidak kalah penting adalah terkait policy support dari pemerintah. Warsono menilai, belum semua aspek terkait transisi energi ini memiliki policy support.
“Kemudian ini yang terakhir tapi juga sangat penting, yaitu just transition (transisi berkeadilan). Jadi ketika kita mematikan ‘suatu pembangkit,’ itu kan ada ekonomi dari rakyat. Misalnya batu bara, tiba-tiba tidak ada, itu kan menyangkut ekonomi yang cukup besar. Ada tenaga kerja,” terang dia.
Baca Juga
Pemerintah Usulkan Revisi KEN, Bauran EBT Ditarget 70-72% di 2060
Menurut Warsono, harus dipikirkan juga agar masyarakat yang bekerja di sektor PLTU batu bara tidak kehilangan pekerjaan dengan adanya pembangkit listrik yang baru. Ia menilai hal ini bukan hanya tanggung jawab PLN, tetapi juga negara.
“Ini juga pekerjaan yang tentunya bukan hanya PLN, ini sudah menyangkut negara juga. Karena itu namanya just energy transition partnership. Just-nya itu di depan, bagaimana tetap berkeadilan,” sebutnya.
Lebih lanjut, Warsono menjelaskan bahwa tantangan juga hadir di lapangan. Di antaranya adalah terkait masalah pembangunan, izin dari pemerintah, land acquisition, investasinya, serta support dari masyarakat.
“Karena kadang-kadang pembangunan transmisi itu kan juga harus ada support dari masyarakat,” beber Warsono.

