Ngeri! Jutaan Lapangan Pekerjaan Akan Hilang, Pemerintah Siapkan Jurus Ini
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian membeberkan hampir sebanyak 70 - 80 juta lapangan pekerjaan di dunia akan hilang seiring dengan percepatan perkembangan disrupsi digital. Meski demikian hal tersebut juga akan diiringi dengan pertumbuhan 60 juta lapangan pekerjaan baru di dunia.
Menurut Asisten Deputi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Kemenko Perekonomian, Chairul Saleh, adaptasi dunia terhadap digitalisasi menimbulkan konsekuensi yakni otomatisasi sejumlah jenis pekerjaan yang menggantikan tenaga kerja konvensional.
"Kita tidak bisa menolak (percepatan digital) karena ini sudah menjadi keniscayaan," kata Chaerul di kantornya, Jakarta, Rabu (12/4/2024).
Dalam menghadapi tantangan tersebut pemerintah akan melakukan mitigasi dengan mempersiapkan tenaga kerja unggulan dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Chaerul mengatakan setidaknya Kemenko Perekonomian menyiapkan tiga strategi yang diperuntukkan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Baca Juga
Diminta Presiden, Sandi Uno Bidik 25 Juta Lapangan Kerja Parekraf
"Ketiga strategi itu berkaitan dengan pendidikan formal, pemberdayaan tenaga kerja dan budaya life-long learning," ungkap Chaerul.
Ia mengungkap ketiga strategi tersebut dirumuskan tidak hanya untuk mempersiapkan SDM menghadapi potensi lapangan pekerjaan baru, melainkan sebagai upaya yang juga in-line dengan tujuan keluar dari middle-income trap. Ia menambahkan untuk mencapai tujuan tersebut, produktivitas tenaga kerja menjadi sesuatu yang harus dikejar.
Terkait pendekatan strategi pendidikan formal, pemerintah tengah berupaya untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan dasar (K-12) dan perguruan tinggi melalui pemanfaatan teknologi digital. Lebih lanjut, Chaerul mengungkap Kemenko Perekonomian akan fokus terhadap kualitas pendidikan vokasi.
"Kenapa vokasi? Karena ini yang siap kerja, kemudian perlu ada satu pendekatan sistem yang elaboratif, bagaimana kita bisa set up skillset yang dibutukan oleh industri," sambung Chaerul.
Sementara terkait strategi pemberdayaan tenaga kerja, dijelaskan oleh Chaerul adalah pemerintah berupaya untuk menetapkan program pendidikan dan pelatihan digital bagi pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan berdasarkan sektor TIK.
Baca Juga
Apindo: Butuh Kepastian Hukum, Investasi TPT Harus Ditarik untuk Sediakan Lapangan Kerja
Dan yang terakhir adalah strategi budaya long-life learning, dimana hal ini bertujuan menciptakan masyarakat yang melek digital dengan memanfaatkan perangkat teknologi untuk penggunaan yang lebih produktif. Ia mencontohkan, salah satu implementasi strategi life-long learning adalah melalui program Kartu Prakerja.
"Ini menyasar masyarakat yang sedang dan tidak lagi menempuh pendidikan formal, sehingga memiliki skillset yang tetap terjaga dengan kebutuhan zaman," ucap Chaerul.
Pada kesempatan tersebut Kemenko Perekonomian tidak menjelaskan lebih detail terkait jenis pekerjaan yang akan hilang maupun tumbuh, seiring dengan percepatan perkembangan digital. Namun pemerintah meyakini, implementasi artificial intelligence (AI) menjadi salah satu sinyal yang harus diperhatikan seluruh pihak.
Sejumlah jenis pekerjaan yang memiliki sifat rutin, berulang dan administratif, disebut oleh Chaerul menjadi sangat rawan digantikan oleh implementasi AI. Menurutnya hal itu disebabkan oleh jenis-jenis pekerjaan tersebut dapat dengan mudah terbaca oleh algoritma.
"Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyiapkan tenaga kerja yg punya skillset untuk mengelola AI," tandas Chaerul.

