Trump Effect Makin Ngeri, Bos BI Siapkan Jurus Hadapi Menguatnya Ekonomi AS
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang pelantikan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 20 Januari 2025, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut, Indonesia mesti bersiap menghadapi divergensi pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin melebar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Menurut Perry, perekonomian AS dinilai akan tumbuh cenderung lebih kuat dari prakiraan. Selain Trump Effect, menguatnya perekonomian AS didukung stimulus fiskal sehingga meningkatkan permintaan domestik dan investasi teknologi yang mendorong peningkatan produktivitas.
Baca Juga
"Sebaliknya, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang masih melemah dipengaruhi menurunnya keyakinan konsumen dan lesunya produktivitas, sementara ekonomi India masih tertahan akibat sektor manufaktur yang terbatas," kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Sejalan dengan itu, lanjutnya, prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya menjadi 3,2%. Di sisi lain, arah kebijakan pemerintah dan bank sentral AS berpengaruh pada ketidakpastian pasar keuangan global. Kuatnya ekonomi AS serta kebijakan tarif, berdampak pada menguatnya ekspektasi penurunan fed funds rate (FFR) yang lebih terbatas. "Kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi, baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang," ungkapnya.
Perry menjelaskan, bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang meningkat, perkembangan tersebut menyebabkan preferensi investor global makin besar untuk memindahkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dolar AS naik tinggi sehingga menambah tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia.
"Berbagai perkembangan global ini memerlukan penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan global untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," ujarnya.
Instrumen moneter pro-market
Untuk menghadapi divergensi pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk menguatnya ekonomi AS, Perry mengungkapkan, bank sentral telah menyiapkan instrumen moneter pro-market yang dioptimalkan untuk memperkuat rupiah dan pencapaian sasaran inflasi. "Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas serta mendorong aliran masuk modal asing ke dalam negeri," bebernya.
Ia menuturkan, setidaknya hingga 14 Januari 2025, posisi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) masing-masing tercatat sebesar Rp 914,72 triliun, US$ 1,96 miliar dan US$ 436 juta. Penerbitan SRBI telah mendukung upaya peningkatan aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri dan penguatan nilai tukar Rupiah.
Baca Juga
Usai BI Rate Dipangkas 25 Bps, Saham Bank BUMN Dipimpin BBRI Terbang
Sementara itu, kepemilikan nonresiden dalam SRBI mencapai Rp 228,85 triliun (25,02% dari total outstanding). Implementasi diler utama (primary dealer) sejak Mei 2024 juga makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar, sehingga memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi.
"Ke depan, BI terus mengoptimalkan berbagai inovasi instrumen pro-market, baik dari sisi volume maupun sisi daya tarik imbal hasil guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong aliran masuk modal asing," tandasnya.

