Perubahan Iklim Ancam Pangkas Ekonomi Dunia Hingga US$ 23 Triliun Tahun 2050
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia Alue Dohong memaparkan bahwa menurut studi dari Penyedia Asuransi Global, perubahan iklim dapat memangkas perekonomian dunia hingga US$ 23 triliun pada tahun 2050. Pemangkasan output perekonomian di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis dapat mencapai 6-10%.
Sedangkan di negara berkembang, perubahan iklim dapat memangkas penurunan ekonomi hingga 20%. “Misalnya saja dari hasil studi di Malaysia dan Thailand, kedua negara ini melihat pertumbuhan ekonominya akan menurun sebesar 20% dari apa yang akan ditargetkan pada tahun 2050,” ujar Alue dalam acara International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Kamis (6/6/2024).
Baca Juga
Transparansi & Penurunan Emisi Korporasi Terbaik 2024, Dorong Pengurangan Emisi Karbon
Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani Perjanjian Paris berkomitmen untuk mengurangi emisi. Pada September 2022, lanjut dia, Kementerian LHK telah menyampaikan kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim mengenai Enhanced Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia, di mana Indonesia telah meningkatkan komitmen mitigasi klaim kami menjadi 31,89%.
“Ini setara dengan 915 juta ton CO2 yang harus kita kurangi pada tahun 2030. Ini adalah upaya kita sendiri. Jika ada dukungan internasional, pemerintah kita akan menjadikannya 43,2%. Jumlah ini setara dengan 1,2 gigaton CO2 yang harus kita kurangi pada tahun 2030. Ini merupakan komitmen besar Indonesia terhadap (penanganan) perubahan iklim,” ujarnya.
Kehutanan Paling Penting
Ia mengatakan, Indonesia menyadari bahwa kehutanan dan pemanfaatan lahan adalah sektor yang paling penting dalam pengendalian perubahan iklim. Oleh sebab itu, dalam Enhanced NDC, terdapat lima sektor yang akan difokuskan dalam penurunan emisi GRK, yaitu energi, limbah, industrial dan kegunaan produk, pertanian, dan kehutanan.
“Dua sektor utama, sektor kehutanan dan tata guna lahan, menyumbang sekitar 17,4% dari 31,89% atau setara dengan 500 juta ton yang harus dikurangi pada tahun 2030. Jika ada dukungan global, maka setara dengan 729 juta ton CO2 yang telah kita kurangi. Sedangkan dari sektor energi sekitar 12,5% atau setara dengan 359 juta ton CO2, atau kalau ada dukungan internasional akan menjadi 15,5% atau setara dengan 4 juta ton CO2,” ucapnya.

