Dompet Dhuafa Targetkan Kumpulkan Dana Rp30 Miliar untuk Pemulihan Bencana NTT
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Dompet Dhuafa menargetkan penghimpunan dana masyarakat sebesar Rp30 miliar dalam tiga bulan untuk mendukung penanganan dan pemulihan dampak gempa bumi yang menimpa wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus kemarin.
Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini mengatakan, dana tersebut nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan korban bencana, mulai dari kebutuhan darurat hingga pemulihan berbagai fasilitas masyarakat yang terdampak gempa.
"Secara umum kita menargetkan dalam tiga bulan ke depan kita bisa menghimpun dana dari masyarakat untuk bencana Nusa Tenggara Timur ini sebesar Rp30 miliar," ujar Ahmad dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, dari target tersebut sekitar Rp10 miliar akan dialokasikan untuk kebutuhan darurat dan sehari-hari para penyintas. Kebutuhan tersebut mencakup makanan, layanan kesehatan, obat-obatan, serta logistik lainnya.
Sementara itu, sekitar Rp20 miliar akan diarahkan untuk kebutuhan rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur masyarakat yang mengalami kerusakan akibat gempa. Dana tersebut, lanjut Ahmad, dapat digunakan untuk memperbaiki berbagai fasilitas yang terdampak, seperti rumah ibadah, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Baca Juga
Dompet Dhuafa Siap Distribusikan 81 Ton Bantuan Logistik untuk Korban Gempa NTT
"Rp20 miliar akan kita pakai untuk secara sarana infrastruktur kebutuhan masyarakat. Tadi ada misalnya bangunan kawasan peternakan, ada masjid, mungkin ada sekolah yang perlu diperbaiki juga, termasuk kalau nanti ada klinik yang perlu diperbaiki," jelasnya.
Ahmad menegaskan, Dompet Dhuafa tidak hanya akan melakukan penanganan pada fase tanggap darurat. Berdasarkan pengalaman menangani sejumlah bencana besar, proses pemulihan masyarakat dapat berlangsung dalam jangka panjang.
"Kami menyiapkan diri untuk menangani bencana dalam jangka panjang di Nusa Tenggara Timur ini bukan hitungannya hari, bukan hitungan minggu, bahkan kami menyiapkan diri untuk sampai tahunan, setidaknya sampai dua tahun," katanya.

