Embargo Logam Rusia dalam Transaksi LME, Efektifkah?
Oleh Hasan Zein Mahmud,
Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) 1991-1996
INVESTORTRUST.ID - Sahabat investor. Amerika Serikat dan Inggris menambah panjang daftar sanksi kepada Rusia. Kali ini, giliran logam yang jadi senjata 'para kutu' sekutu. Nikel, baja, dan aluminium - produksi baru - Rusia tidak boleh digunakan untuk menyelesaikan kontrak berjangka di London Metal Exchange (LME), Inggris.
Hal ini tak lepas dari Amerika Serikat masih memeluk erat iman pada doktrinnya. Amerika percaya bahwa seantero dunia akan menjadi kapitalis.
Baca Juga
Amerika yakin seluruh dunia akan membeli, mengonsumsi, dan tergantung pada produk budaya kapitalis. Semua negara akan menjadi pelayan dan 'abdi dalem' adidaya AS. Yang berusaha membangun negaranya mendekati kedigjayaan AS akan diberangus dengan segala cara.
Larangan Penjualan Chip
Sebelumnya, tahun 2019, AS melarang chips produksi AS cs untuk dijual ke China, yang sedang meluncur menyalip kemajuan teknologi AS. Kerja keras China mampu menghasilkan chips-nya sendiri dengan kecanggihan yang mengungguli. Eksekutif Huawei ditahan dengan tuduhan melakukan bisnis dengan Iran. Undang-undang (UU) AS memang dipaksakan diberlakukan kepada semua makhluk planet.
Kembali ke embargo logam Rusia dalam penyelesaian transaksi LME. Konon Rusia merupakan produsen utama dunia untuk ketiga jenis logam yang dijadikan sanksi itu. Dikabarkan Rusia memasok sekitar 36% nikel ke LME, 62% baja, dan 90% aluminium.
Baca Juga
Timur Tengah Bergolak, Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran
Sahabat investor, mari kita saksikan tiga hal. Pertama harga logam-logam itu akan mengalami lonjakan signifikan? Kedua, siapakah yang lebih menderita? Rusiakah atau LME?
Ketiga, masihkah dunia tetap mau menggunakan settlement price LME untuk logam-logam tersebut, sebagai kiblat harga dunia? ***

