Insentif dan Pilpres Damai, Momentum Kebangkitan Pasar Mobil Indonesia
Oleh Suwandi Wiratno,
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Kinerja industri pembiayaan di Indonesia sangat tergantung dinamika penjualan kendaraan bermotor di Tanah Air. Pasalnya, komposisi piutang masih didominasi segmen kendaraan bermotor baru yang mencapai 64%, terdiri atas roda empat 42% dan roda dua 22%. Untuk kendaraan bermotor bekas porsinya sebanyak 28%, terdiri atas roda empat 22% dan roda dua 6%.
Itulah sebabnya, kebangkitan kembali penjualan mobil baru di Tanah Air sangat dinanti-nanti. Penjualan mobil di Tanah Air sempat mencatatkan rekor tertinggi menembus sekitar 1,23 juta unit tahun 2013, melonjak 10,2% dari tahun 2012. Namun, hingga satu dekade kemudian, angka itu belum mampu diraih kembali.
Kalau dilihat dari data ekonomi makro, tahun 2013 ditandai dengan kinerja pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, menyentuh 5,56%, didorong booming komoditas waktu itu. Namun, dalam 10 tahun kemudian, level tersebut belum mampu digapai kembali.
Sementara itu, dilihat dari data produk domestik bruto (PDB) per kapita, trennya terus naik. Merujuk data World Bank, PDB per kapita Indonesia pada 2013 baru US$ 3.602,89, sementara tahun lalu sudah mencapai US$ 4.788.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar apakah sebenarnya jumlah kelas menengah kita tidak bertambah, sehingga penjualan mobil baru tidak bergerak? Apakah pertumbuhan ekonomi RI lebih banyak dinikmati kelompok teratas?
Insentif Mobil Baru
Kalau disimak ke belakang, pada 2019 sebelum didera pandemi Covid-19, penjualan mobil baru di Tanah Air sudah merosot. Bila pada 2018 masih sebanyak 1,15 juta unit lebih, tahun berikutnya anjlok 10,53% ke 1,03 juta unit.
Memasuki pandemi Covid-19 yang memukul semua sektor plus ada pembatasan mobilitas orang dan aktivitas ekonomi, pasar mobil hancur tahun 2020. Penjualan ambles ke 532,40 ribu, terpangkas 48,3% dari tahun sebelumnya.
Akhirnya, pemerintah memberikan insentif untuk membantu mendongkrak kembali penjualan mobil. Sejak 1 Maret 2021, pemerintah menerapkan kebijakan pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) terhadap pembelian mobil baru. Program ini dimulai untuk mobil penumpang 1.500cc dengan kandungan lokal tertentu. Skema awalnya, per tiga bulan diberlakukan perubahan potongan pajak, yakni Maret-Mei diskon 100%, Juli-Agustus 50%, dan Oktober-Desember 25%.
Seiring implementasi kebijakan tersebut, kinerja penjualan mobil di Indonesia langsung menunjukkan tren positif. Pada Maret 2021 saat awal diberlakukan diskon PPnBM, sudah ada kenaikan penjualan mobil baru hingga 28,85%. Bahkan, pada April 2021, lonjakan penjualan mencapai 227% dibanding periode yang sama tahun 2020 (year on year/yoy).
Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel secara akumulatif pada Januari–April 2021 naik 5,9% yoy menjadi 257.953 unit. Secara bulanan volume penjualan ritel telah mendekati level normal atau sekitar 80 ribu mobil.
Melihat respons positif konsumen kelas menengah atas tersebut, pemerintah melakukan perpanjangan fasilitas PPnBM DTP 100% untuk penjualan mobil 4x2 di bawah 1500cc hingga bulan Agustus 2021. Selanjutnya, periode untuk diskon PPnBM DTP 50% diperpanjang menjadi bulan Desember 2021.
Hasilnya, penjualan mobil baru rebound 66,6% menjadi 887,20 ribu unit pada 2021. Dampak positifnya masih berlanjut hingga tahun berikutnya, penjualan naik 18,1% ke sekitar 1,05 juta tahun 2022.
Pasar mobil juga mendapat angin segar di pengujung tahun, seiring pengumuman Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per 30 Desember 2022. Indonesia termasuk negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 sekaligus menjaga stabilitas ekonomi, dengan menerapkan kebijakan ‘gas dan rem’ secara seimbang.
Bunga The Fed Turun 2024
Untuk penjualan mobil tahun ini diperkirakan bisa mencapai 1 juta lebih, namun masih belum sepenuhnya pulih seperti level sebelum pandemi. Hal ini tak lepas dari tren kenaikan suku bunga global seiring Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) terus mengerek bunga acuan sejak Maret 2022, guna memerangi lonjakan inflasi kian tinggi menyusul pecah perang Rusia-Ukraina di Eropa Februari 2022.
Selama sekitar dua tahun terakhir ini, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya 11 kali, guna membawa inflasi negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu turun mendekati level sasaran 2%. Saat ini, Fed Funds Rate (FFR) tercatat 5,25–5,50%, dari 0,00-0,25% pada Februari 2022.
Alhasil, Bank Indonesia pun mau tidak mau bergerak menyesuaikan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), guna meredam aliran modal keluar dan menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu terpuruk. Saat ini, BI7DRR berada di level 6,00%, sudah naik tinggi dari 3,50% pada Februari 2022, namun hanya terpaut 50 basis poin dari FFR atau di bawah batas ideal minimal spread 100 bps.
Kini, dengan inflasi di AS mulai mereda dan The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunganya pada 2024, maka ada harapan besar akan berdampak mendorong kembali masuknya dana asing ke Indonesia dan ekonomi dalam negeri lebih bergairah. Artinya, pasar kendaraan bermotor di Indonesia bakal lebih baik tahun depan.
Bila tahun ini diperkirakan penjualan kendaraan roda empat baru sedikit di atas 1 juta, maka tahun depan kemungkinan menembus 1 juta lebih hingga 1,1 juta. Demikian pula penjualan kendaraan roda dua bisa meningkat menjadi 6,4 juta unit, dari perkiraan penjualan tahun ini 6,2-6,3 juta unit.
Mengingat mungkin Bank Indonesia belum bisa ikut menurunkan suku bunga acuannya guna menjaga nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya tekanan ketidakpastian global, maka harapan besar bertumpu pada peran pemerintah untuk lebih mendorong menggairahkan sektor riil. Pemerintah tidak perlu ragu untuk memberikan insentif menarik guna mendorong kelas menengah berbelanja lebih banyak, termasuk untuk stimulus penjualan mobil baru.
Ditambah dengan optimisme bahwa Pilpres 2024 akan berlangsung lancar dan positif mendorong ekonomi, maka tahun depan dipastikan bisa menjadi momentum kebangkitan pasar mobil dan prospek cerah industri pembiayaan nasional. Untuk itu, semua pihak perlu bergandengan tangan mendukung pemilu yang makin jujur, adil, dan aman, menyempurnakan historis 20 tahun pemilu kita yang damai. ***
