Menyambut Kedatangan Paus Fransiskus: Momentum Kebangkitan Umat Katolik Indonesia
Oleh Primus Dorimulu,
Chief Executive Officer PT Investortrust Indonesia Sejahtera
INVESTORTRUST.ID – Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia, 3-6 September 2024, diharapkan memberikan sebuah kegairahan baru bagi kehidupan beragama 8,5 juta umat Katolik di Tanah Air. Kegairahan untuk menjadi umat Katolik yang benar, yang berusaha mengikuti ajaran iman secara murni dan konsekuen.
Paus Fransiskus hadir dengan sejumlah gaya hidup Katolik yang mencolok. Setidaknya ada enam ajaran iman yang ditekankannya, yakni kesederhanaan, sikap tidak dilayani, kegembiraan, pentingnya menghadiri Misa hari Minggu, perhatian yang sangat besar terhadap kaum miskin, dan sesama yang terpinggirkan. Dia seperti hendak mengembalikan praktik kehidupan Gereja ke masa jemaat pertama.
Sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul, para jemaat pertama selalu bertekun dalam pengajaran para rasul. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti —merayakan Ekaristi—, merenungkan firman Tuhan, dan berdoa di rumah jemaat secara bergilir. Para jemaat berkumpul di Bait Allah, makan bersama dengan gembira dan dengan tulus hati. Mereka bersatu dan menjaga solidaritas. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.
Paus menekankan pentingnya umat Katolik ke gereja pada hari Minggu untuk bersama-sama merenungkan firman Allah dan menyantap Tubuh Tuhan. Seperti tanaman membutuhkan matahari dan pupuk, manusia membutuhkan energi baru, yakni Ekaristi pada hari Minggu. Pelaksanaan nilai moral Katolik sangat penting. Tapi, ke gereja pada hari Minggu tidak kalah penting.
“Kita menghadiri Misa hari Minggu bukan untuk memberikan sesuatu kepada Tuhan, melainkan untuk menerima sesuatu yang sangat kita perlukan dari Tuhan,” kata Paus. Misa Minggu adalah waktu bagi umat Katolik untuk menerima rahmat dan kekuatan agar tetap setia pada firman-Nya, mengikuti perintah-Nya untuk mengasihi sesama dan menjadi saksi Tuhan di dunia.
Tak Batasi dan Mengecualikan Kelompok Tertentu
Salah satu karakter penting Gereja adalah inklusivisme. Gereja hadir untuk mengumpulkan umat manusia, bukan untuk memecah belah. Injil diwartakan untuk mengundang seluruh penghuni bumi, bukan untuk membatasi dan mengecualikan kelompok tertentu. Gereja hadir untuk menjangkau semua orang dengan mengundang mereka untuk menjadi bagian dari perayaan “kehidupan”.
Solidaritas harus menembus batas. Tidak boleh ada sekat. Solidaritas tidak terbatas pada orang yang parcaya pada Injil. Nilai Injil harus ditransfer kepada sesama, membantu menciptakan jembatan solidaritas bagi semua orang. Setiap anggota Gereja harus tampil ke luar, menjadi garam dan terang bagi sesama.
| Paus memberikan berkat Urbi at Orbi di Vatikan. Foto: Istimewa. |
Paus tidak mengucilkan mereka yang menderita penyakit AIDS dan memiliki orientasi seksual menyimpang, yakni LGBTQ+ (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer/questioning, intersex, asexual/aromantic). Pernikahan sejenis jelas ditolak Paus. Gereja tidak akan memberikan pemberkatan terhadap perkawinan seslenis. Tapi, mereka, yang mengalami disorientasi seksual itu, adalah anggota Gereja. Jika mereka meminta berkat —untuk urusan di luar pernikahan—, Gereja harus mengabulkannya.
Ketika secara resmi meluncurkan pertemuan ratusan ribu anak muda Katolik di Lisabon, Portugal, 3 Agustus 2023, Paus Fransiskus menegaskan, semua orang diterima Gereja. “Ada ruang bagi semua orang di Gereja dan, jika tidak ada, mohon, kita harus memberi ruang, termasuk bagi mereka yang melakukan kesalahan, yang terjatuh atau berjuang,” kata Paus di hadapan sekitar 500.000 anak muda yang berkumpul di Taman Edward VII Lisbon pada upacara penyambutan resmi Hari Pemuda Sedunia.
“Tuhan tidak menunjuk satu jari pun, namun membuka lebar tangan-Nya: Yesus menunjukkan hal ini kepada kita di kayu salib,” kata Paus Fransiskus. “Dia tidak menutup pintu, tetapi mempersilahkan kita masuk. Dia tidak menjaga jarak, tetapi menyambut kita,” lanjut Paus.
Seorang Katolik, kata Paus, harus memiliki kepekaan terhadap sesama yang menderita dan berkekurangan. Sebagaimana Yesus, para pengikut-Nya harus cepat tergerak oleh belas kasihan. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36).
Pada saat konklaf —pertemuan para kardinal untuk memilih Paus baru—, Kardinal Claudio Hummes berbisik kepadanya, "Jangan melupakan orang miskin!" Menurut Paus Fransiskus, perkataan Hummes mengingatkannya pada Santo Fransiskus. Kardinal bernama Jorge Mario Bergoglio dari Ordo Serikat Jesus (SJ) itu pun memilih nama Fransiskus karena ketertarikannya pada pandangan dan cara hidup biarawan Italia yang hidup pada tahun 1181 hingga 1226.
Santo Fransiskus adalah santo pelindung hewan dan ekologi. Ia dikenang karena solidaritasnya terhadap orang miskin, kecintaannya pada hewan, dan upayanya dalam dialog antaragama dengan umat Islam. Setelah berziarah ke Roma, demikian legenda yang diceritakan turun-temurun, Kristus menampakkan diri kepadanya dan berkata, "Fransiskus, Fransiskus, pergilah dan perbaiki rumahku yang, seperti yang kamu lihat, yang sedang runtuh."
Kemiskinan, belas kasihan, dan kegembiraan merupakan tema teologis yang selalu disampaikan Paus Fransiskus pada setiap khotbahnya. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap orang kaya, Gereja harus memberikan perhatian besar terhadap orang miskin.
Pada wawancara pertamanya usai konklaf, Paus Fransiskus berkata, "Betapa saya mencintai Gereja yang miskin dan diperuntukkan bagi orang miskin." “Kemiskinan adalah daging Yesus yang malang,” tambah Paus.
Umat Harus Gembira
Dalam homili Prapaskah pada tahun pertamanya, Paus Fransiskus mengatakan, pesan Yesus yang paling kuat adalah “belas kasihan.” Kelembutan dan belas kasihan adalah “inti” Injil dan tanpa keduanya, “seseorang tidak akan memahami Yesus Kristus.” Bagi Fransiskus, Gereja tanpa sukacita atau kegembiraan adalah mustahil.
Harian New York Times pernah menulis, "Paus Fransiskus tahu cara tersenyum dan cara membuat orang lain tersenyum." Nasihat apostolik Paus Fransiskus yang pertama berjudul “Evangelii Gaudium”, “The Joy of the Gospel” atau "Kegembiraan Injil".
Paus Fransiskus mendorong 1,3 miliar umat Katolik di dunia untuk memulai babak baru evangelisasi yang ditandai dengan “kegembiraan". Paus Fransiskus adalah pemimpin yang ramah, hangat, dan ceria meski saat ini, di usia 88, fısiknya tampak kurang sehat. Foto Paus di media massa memperlihatkan penampilannya yang selalu ceria dan menebar senyum. Pada pidato Minggu Palma pertama sebagai Paus, ia menasihati umat untuk tidak menjadi "pria dan wanita yang bersedih".
Seorang Katolik tidak akan pernah bersedih! Ia mengingatkan umat untuk tidak menjadi orang yang suka berprasangka buruk. Hanya dengan berprasangka baik, seorang Katolik bisa hidup berdamai dengan semua orang sekaligus menyampaikan kabar gembira bagi sesama.
Selama menjadi Kardinal dan Uskup Agung Buenos Aires, ia tinggal di apartemen, memasak sendiri makanannya dan naik angkutan umum. Pada setiap perayaan Kamis Putih, ia membasuh kaki mereka yang terpinggirkan secara sosial, termasuk pasien AIDS dan narapidana yang ada di penjara.
Baca Juga
Paus Fransiskus: Industri Senjata ‘Ambil Untung dari Kematian’
Ketika terpilih menjadi Paus, pria yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio ini memilih untuk tidak mengenakan sepatu merah yang dibuat khusus untuknya. Ia lebih senang untuk terus mengenakan sepatu hitam usangnya dari Buenos Aires. Setelah terpilih sebagai Paus, ia memutuskan untuk kembali ke hotel tempat dia menginap dan membayar sendiri tagihannya. Ia memilih naik bus bersama para Kardinal lainnya, daripada naik limusin yang disediakan untuk dirinya.
Sejak terpilih menjadi Paus, 13 Maret 2013, ia tinggal di Casa Santa Marta bersama para pegawai Vatikan, bukan di Istana Kepausan sebagaimana biasanya. Ia ingin seperti masa sebelum menjadi Paus, yakni hidup sederhana dan malayani diri sendiri dengan penuh sukacita.
Momentum Kebangkitan Umat
Keenam aspek inilah yang kiranya dapat ditularkan Paus Fransiskus kepada umat Katolik di Indonesia pada kunjungannya, 3-6 September 2024. Uskup Roma ke-266 itu tidak saja berkhotbah, melainkan memberikan contoh nyata. Ia memimpin dengan suri teladan dan hal itulah yang membuat dirinya sangat populer di berbagai negara.
Kita berharap, cara hidup Paus Fransiskus menginspirasi umat Katolik di dunia. Jumlah orang Katolik di Eropa yang merosot dalam beberapa dekade terakhir kembali meningkat. Kehidupan umat Katolik di berbagai negara, termasuk di Indonesia, semakin bergairah. Enam aspek ajaran Yesus yang ditekankan Paus diikuti oleh seluruh umat Katolik.
Pada Buku Tahunan Kepausan 2024 dan Buku Tahunan Statistik Gereja 2022 yang diterbitkan Tahta Suci disebutkan, jumlah umat Katolik yang sudah dibaptis meningkat dari 1,376 miliar tahun 2021 menjadi 1,390 miliar tahun 2022 atau naik 1,0%. Afrika mencatat peningkatan mengesankan, yakni 3%. Jumlah umat Katolik di Benua Hitam itu meningkat dari 265 juta menjadi 273 juta pada periode yang sama.
Perkembangan umat Katolik di Amerika dan Asia cukup mengesankan. Jumlah umat Katolik di dua benua ini, masing-masing, meningkat 0,9% dan 0,6%. Sedangkan perkembangan umat Katolik di Eropa dan Oseania relatif tidak berubah. Umat Katolik di Eropa di tahun 2022 berjumlah 286 juta jiwa.
Jumlah Uskup di dunia pada tahun 2022 meningkat 0,25% menjadi 5.353, naik dari 5.340 tahun 2021. Kenaikan terbesar terjadi di Afrika dan Asia, dengan variasi relatif masing-masing sebesar 2,1% dan 1,4%. Jumlah yang stabil terjadi di Amerika, yakni 2.000 uskup dan Oseania 130 uskup. Jumlah uskup di Eropa menurun 0,6% ke 1.666.
Jumlah imam di dunia menunjukkan penurunan, yakni turun dari 407.872 tahun 2021 menjadi 407.730 tahun 2022. Penurunan terbesar terjadi di Eropa, yakni 1,7%, dan Oseania 1,5%. Sementara jumlah imam di Afrika dan Asia menunjukkan kenaikan, masing-masing, 3,2% dan 1,6%.
Penurunan jumlah imam terjadi seiring dengan penurunan panggilan terhadap anak muda. Pada 2022, pria yang mempersiapkan diri menjadi imam 108.481 orang atau atau turun 1,3% dibandingkan tahun 2021. Di Afrika, jumlah seminaris (calon imam) meningkat 2,1% selama 2022. Namun, di seluruh wilayah Amerika terjadi penurunan 3,2%. Di Asia, jumlah panggilan menurun 1,2% dibandingkan tahun 2021. Penurunan panggilan terbesar terjadi di Eropa. Pada tahun 2022, jumlah seminaris di Eropa turun 6%.
Baca Juga
Paus yang Serukan Hak Lingkungan Aman dan Berkelanjutan Menuju Indonesia
Penduduk Katolik RI Naik
Katolik menjadi agama terbesar ketiga di Indonesia setelah Islam dan Protestan. Menurut data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), sebanyak 8,6 juta penduduk Indonesia pada tahun 2023 memeluk agama Katolik, naik tipis dari 8,5 juta tahun 2022. Pada periode yang sama, Islam 86,8% dan Protestan 7,5%.
Pulau Jawa dihuni oleh 1,67 juta umat Katolik pada Juni 2022. Angka tersebut setara 1,08% dari jumlah penduduk di Jawa yang mencapai 154,34 juta jiwa. Pemeluk agama Katolik di Jawa paling banyak berada di DKI Jakarta, yakni mencapai 437.970 atau 26%.
Sekitar 35% atau 2,9 juta dari 8,5 juta pemeluk Katolik di Indonesia pada tahun 2022 berada di NTT. Peringkat kedua adalah Kalimantan Barat 1,2 juta (14,3%), Sumatra Utara 657.673 atau 7,7%, DKI Jakarta 439.803 atau 5,2%, dan Jawa Tengah 344.241 atau 4%. Umat Katolik tersebar di semua atau 38 provinsi, termasuk Aceh dan Banten.
Agama Katolik di Indonesia baru sekitar 6,5 abad. Saat ini, umat Katolik sudah mencapai 8,5 juta dan tersebar di 37 keuskupan, di antaranya 10 keuskupan agung. Keuskupan Agung Jakarta dipimpin oleh Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo.
Sejarah Gereja Katolik di Indonesia berawal dari kunjungan pastor Fransiskan bernama Mattiussi dari Padua, Italia. Pada abad ke-14, berangkatlah Pater Mattiussi OFM —nama Italianya adalah Odorico (Odericus) da Pordenone— ke wilayah Timur, yakni Indonesia dan Cina. Dalam bukunya, Travels of Friar Odoric of Pordenone, disebutkan bahwa Pater Mattiussi OFM mengunjungi Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin antara tahun 1318 dan 1330. Di Jawa, ia mengunjungi Majapahit yang saat itu mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Buddha.
Penyebaran agama Katolik dimulai pada abad ke-16 saat Portugis merebut Malaka tahun 1511. Mereka datang mencari rempah-rempah. Pada saat yang sama misionaris Katolik, terutama Santo Fransiskus Xaverius masuk ke Ambon, Ternate, Morotai, dan Halmahera, 1546-1547.
Pada akhir abad ke-19, misionaris Katolik darı Eropa berdatangan, di antaranya Pastor F Van Lith SJ yang datang ke Muntilan tahun 1896. Pada 1904 empat kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Pastor Van Lith meminta untuk diberikan pelajaran agama. Pada 15 Desember 1984, sebanyak 178 orang Jawa dibaptis.
Romo Van Lith mendirikan sekolah guru di Muntilan, Normaalschool tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1904. Pada tahun 1918, sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius. Pada 1911, Van Lith mendirikan Seminari Menegah. Pendidikan Katolik di Muntilan menghaslkan guru, imam, dan uskup.
Pendidikan imam tahun 1911-1914 melahirkan imam tahun 1926 dan 1928, yaitu Romo FX Satiman, SJ, A Djajasepoetra SJ, dan Albertus Soegijapranata SJ. Romo Soegijapranata SJ terkenal dengan motto "100% Katolik, 100% Indonesia".
Ordo SJ juga menjadi misionaris di Flores pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Namun, karya Ordo SJ di Flores kemudian dilanjutkan oleh Ordo SVD sejak 1915. Sebelum SJ, ada Orda Dominican yang sudah menjadi misionaris sejak 1630, bersama dengan masuknya saudagar Portugis ke Flores Timur, Timor Timur, dan Maluku.
Sudah banyak kontribusi yang diberikan Gereja Katolik terhadap kemajuan dan peradaban Indonesia. Selain pendidikan, kesehatan, dan panti asuhan, Gereja Katolik melahirkan para pejuang dan pemimpin bangsa Indonesia. Sebutlah WR Soepratman, Agustinus Adisoetjipto, Ignatius Slamet Rijadi, Jos Soedarso, Robert Wolter Mongonsidi, Jenderal Raden Oerip Soemohardjo, Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, Sadsuitubun atau KS Tubun, Fransiskus Seda, dan Beng Mangreng Say.
Korupsi Penyakit Sosial Terburuk
Sejak reformasi, 1998, banyak tokoh Katolik yang menjadi penyelenggara negara, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Kita bangga dengan kehadiran orang Katolik di pentas politik. Namun, kita prihatin melihat tingkah laku para pemimpin Katolik yang mengecewakan. Sebagian darı mereka terbukti melakukan tındak pidana korupsi.
Korupsi yang dilakukan saat sebagian rakyat hidup miskin adalah tındakan tanpa nurani. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 25,90 juta atau 7,3%. Sedang angka stunting masif 22%. Orang Katolik yang menjadi penyelenggara negara hendaknya menjadi lilin yang memberikan cahaya terang kepada sesama.
“Korupsi adalah penyakit sosial yang paling buruk. Korupsi adalah egoisme yang paling buruk. Korupsi berasal dari penyembahan uang dan menyesatkan orang yang beribadah,” kata Paus di Vatikan, 17 November 2016.
Korupsi, demikian Paus, adalah penipuan terhadap demokrasi. Korupsi membuka pintu bagi kejahatan yang mengerikan seperti narkoba, prostitusi, perdagangan manusia, perbudakan, penjualan organ tubuh, dan perdagangan senjata. “Korupsi adalah tındakan mengikuti iblis, bapak segala kebohongan,” demikian Paus.
Berbicara kepada ratusan pemimpin bisnis di Vatikan pada Konferensi Internasional Asosiasi Bisnis Katolik, 17-18 November 2016, Paus mengingatkan akan bahaya menempatkan uang sebagai pusat kehidupan. Sebagaimana dinyatakan oleh para Bapa Gereja, uang dan kekayaan adalah baik jika digunakan untuk kepentingan sesama.
Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia, 3-6 September 2024, diharapkan mampu membangkitkan kegirahan baru umat Katolik. Gairah untuk hidup sederhana, gairah untuk tidak dilayani, gairah untuk gembira dan penuh sikacita, gairah untuk menghadiri Misa hari Minggu, gairah untuk membantu kaum miskin, dan gairah untuk memperhatikan sesama yang terpinggirkan — kiranya menjadi gaya hidup umat Katolik Indonesia pascakunjungan Paus Fransiskus. ***

