Pengusaha Keluhkan Harga Garam RI Lebih Mahal Dibanding Australia
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengungkapkan harga garam di tingkat petani di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lainnya, seperti di antaranya Australia dan India.
Adhi menyebutkan, harga garam di tingkat petani Indonesia saat ini berkisar Rp2.500 per kilogram (Kg). Sementara itu, harga garam dari Australia diperkirakan dapat dipatok di bawah Rp1.000 per kilogram.
"Karena saingan kita kan Australia, India. Australia itu garam sangat murah sekali. Karena tinggal gali, garamnya sudah ada," ucap Adhi saat ditemui di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, perbedaan harga tersebut dipengaruhi metode produksi. Di Indonesia, produksi garam masih mengandalkan sistem evaporasi air laut secara tradisional. Petambak harus mengalirkan air laut ke tambak, menunggu proses pengeringan, lalu memanen yang dapat berlangsung 60 hingga 80 hari.
Baca Juga
Sentra Garam Raksasa di Rote Capai 13.000 Ha, Pemerintah Ajak Swasta Ikut Garap
Kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Australia, yang mana sebagian besar garam diproduksi dari tambang atau endapan alami dalam skala besar, sehingga prosesnya lebih sederhana dan biaya produksinya lebih rendah.
“Di Australia itu tinggal gali karena bentuknya tambang. Kalau di sini harus nebar air laut, dikeringkan, baru dipanen,” terang Adhi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita menyebutkan, salah satu penyebab tingginya harga garam di dalam negeri adalah karena terkendala masalah logistik dan distribusi, khususnya di kawasan sentra tambak garam.
"Salah satunya adalah jalur distribusi yang kurang bagus, perbaikan jalan, pelabuhan, itu kita harus menggandeng teman-teman di Kementerian PU, Kementerian Perhubungan untuk membangun pelabuhan, memperbaiki jalan,” ungkap Frista.

