Smartphone Bikin Pasar Laptop Lebih Spesifik, Kok Bisa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perkembangan smartphone dan tablet secara signifikan mengubah peta industri PC global. Jika pada 2010 pasar PC dunia masih berada di kisaran 350 juta unit, maka pada 2024 volumenya menyusut menjadi sekitar 250 juta unit, atau turun sekitar 100 juta unit dalam 14 tahun terakhir.
Penurunan tersebut terjadi seiring pergeseran perilaku konsumen yang kini mengandalkan smartphone untuk aktivitas konsumsi konten, mengakses media sosial, menonton video, hingga komunikasi harian. Fungsi yang sebelumnya menjadi domain utama laptop dan desktop, kini telah diambil alih perangkat mobile.
Country Commercial Product Marketing Asus Indonesia Aldy Ramadiansyah menilai, perubahan ini membuat laptop tidak lagi menjadi perangkat mass market bagi semua orang. Menurutnya, saat ini semakin jarang konsumen umum membeli laptop hanya untuk kebutuhan hiburan atau konsumsi konten.
“Sekarang orang mau nonton YouTube atau bikin konten sederhana sudah cukup pakai smartphone. Kini laptop kehilangan perannya sebagai perangkat utama bagi pengguna kasual," kata Aldy dalam acara Media Round Table di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Namun, Aldy menegaskan laptop tidak kehilangan relevansinya, melainkan bergeser ke 'market' yang lebih spesifik. Laptop kini menjadi perangkat esensial bagi kebutuhan yang tidak bisa digantikan smartphone, terutama di sektor pendidikan formal dan dunia kerja.
Aldy mencontohkan kebutuhan laptop di sektor pendidikan yang tetap menjadi kebutuhan utama karena sistem pembelajaran sekolah dan institusi tidak memungkinkan penggunaan smartphone sebagai perangkat utama. Setiap siswa membutuhkan perangkat yang kompatibel dengan sistem sekolah dan bisa digunakan secara terstruktur.
Baca Juga
Asus Catat 'Market Share' 11% di Segmen B2B-B2G, Tembus 3 Besar Nasional
“Untuk pelajar yang mengikuti sistem sekolah, laptop tetap wajib karena mereka tidak bisa memilih sendiri spesifikasinya dan tidak bisa digantikan smartphone,” jelasnya.
Perubahan serupa juga terjadi di dunia kerja dan profesional. Laptop kini lebih diposisikan sebagai alat produktivitas, bukan sekadar perangkat konsumsi, sehingga spesifikasi, daya tahan, keamanan, dan layanan purnajual menjadi faktor utama.
Aldy menilai konsumen saat ini tidak lagi membeli laptop berdasarkan spesifikasi semata, melainkan berdasarkan kebutuhan layanan dan ekosistem. Hal ini membuat perangkat komersial justru menjadi pilihan utama dibandingkan laptop consumer konvensional.
“Sekarang end user itu butuh service, bukan cuma spek,” ujarnya. Laptop komersial dinilai menawarkan solusi yang lebih lengkap, mulai dari sistem keamanan, durabilitas, hingga dukungan purnajual jangka panjang.
Secara struktur pasar, industri PC tidak lagi bertumpu pada volume besar, melainkan pada segmentasi yang lebih tajam. Laptop kini terbagi jelas antara kebutuhan pendidikan, profesional, korporasi, dan pemerintahan.
Dengan kata lain, penyusutan pasar PC global tidak mencerminkan melemahnya fungsi laptop, melainkan transformasi perannya. Dari perangkat serbaguna untuk semua orang, laptop kini menjadi alat kerja yang lebih fokus, bernilai tinggi, dan berbasis kebutuhan spesifik.
Ke depan, Asus melihat pertumbuhan pasar laptop akan ditopang oleh segmen-segmen tersebut, bukan oleh konsumen hiburan. Strategi industri pun bergeser dari mengejar volume ke memperkuat solusi dan layanan bernilai tambah.

