Menkomdigi Ajak Generasi Muda Tangkal Brainrot dengan Literasi Digital
YOGYAKARTA, investortrust.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pentingnya literasi digital dan keseimbangan aktivitas fisik dalam menghadapi fenomena brainrot, yakni penurunan kualitas mental akibat konsumsi konten digital berkualitas rendah.
Dalam kunjungannya ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (20/2/2025), Hafid menyerukan, gerakan nasional untuk menggunakan ruang digital dengan lebih bijak.
"Ketergantungan berlebihan terhadap gawai dan derasnya arus informasi dapat berdampak negatif pada kualitas mental. Oleh karena itu, saya mengajak generasi muda memoderasi konsumsi digital dengan aktivitas produktif, seperti membaca dan bersosialisasi,” ujar Meutya Hafid seusai menghadiri pengukuhan Guru Besar Prof Dr Rr Siti Murtiningsih, SHum, di Fakultas Filsafat, UGM dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (21/2/2025).
Baca Juga
Diketahui, fenomena brainrot menjadi perhatian utama di era digital, terutama dengan peningkatan konsumsi media sosial di kalangan anak muda. Menurut data We Are Social 2024, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan 3 jam 18 menit per hari di media sosial. Adapun TikTok, Instagram, dan YouTube merupakan platform yang paling banyak digunakan.
"Konsumsi konten secara berlebihan tanpa penyaringan, dapat menyebabkan penurunan daya pikir kritis, konsentrasi buyar, serta meningkatnya kecemasan dan stres," kata dia.
Meutya menegaskan bahwa pendidikan dan literasi digital kunci mengatasi dampak negatif era digital. Institusi pendidikan diharapkan berperan dalam membentuk kebiasaan sehat dalam berinteraksi dengan teknologi.
"Dengan literasi digital, kita bisa menghindari dampak buruk informasi yang berlebihan dan tak terkendali. Saya mengajak seluruh sivitas akademika UGM dan generasi muda lainnya untuk menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan produktif,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Siti Murtiningsih menyoroti perkembangan filsafat pendidikan di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dalam pidatonya bertajuk Mendidik Manusia Bersama Mesin: Filsafat dan Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan, ia mengajak masyarakat untuk reflektif terhadap peran AI dalam dunia pendidikan abad ke-21.
“Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk kualitas diri yang unggul melalui pemahaman dan pengetahuan. Meski AI dapat menyimpan dan menyajikan informasi, harapan serta nilai-nilai luhur tetap menjadi ranah manusia,” tutur Prof. Murtiningsih.
Baca Juga
Indonesia Siapkan Talenta AI Lokal untuk Bersaing di Ekonomi Digital Global
Ia menekankan bahwa teknologi harus tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran pendidik dalam membentuk karakter dan pemahaman siswa.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kolaborasi manusia dan mesin harus diarahkan untuk meningkatkan kreativitas dan kecerdasan manusia, bukan sekadar penyedia informasi. Pendidikan harus tetap berorientasi pada nilai, pemahaman mendalam, dan pengembangan karakter.
Melalui literasi digital yang baik dan kesadaran akan peran teknologi dalam pendidikan, Indonesia diharapkan dapat mencetak generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan era modern. (C-13)

