Trump Ingin Genjot Kebijakan 'Drill, Baby, Drill,' Ini Dampak Positif dan Negatif bagi RI
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan akan menggenjot aktivitas eksplorasi dan eksploitasi sektor energi seusai dirinya berulang kali mengucapkan slogan “Drill, Baby, Drill.” Hal ini dinilai memiliki dampak positif dan negatif bagi Indonesia.
Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebut, tujuan kebijakan tersebut melalui pengeboran minyak dan memberikan banyak insentif adalah agar aktivitas energi di Amerika tumbuh. Namun, ini akan berdampak pada turunnya harga minyak global.
Baca Juga
“Harga minyak akan turun itu, positif dan negatif buat Indonesia. Positifnya adalah subsidi akan turun, harga minyak, harga energi akan stabil,” ujar Sunarsip dalam acara diskusi terbatas bertema “Prospek, Masalah, dan Solusi Ekonomi 2025" di Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Menurut dia, saat ini Indonesia bisa menikmati inflasi yang rendah karena kontribusi inflasi energi yang berdasar. Bahkan, terjadi deflasi untuk harga listrik karena kenaikannya ditahan.
“Kita tidak tahu sampai kapan harga listrik itu akan ditahan, karena ini sudah lama harga listrik itu tidak naik-naik. Sudah hampir 7 tahun terakhir harga listrik itu tidak naik,” kata Sunarsip.
Sunarsip memandang, saat ini daya beli masyarakat masih cukup terjaga tertolong pemerintah yang tidak menaikkan harga energi. Apalagi, pemerintah menyiapkan kompensasi untuk sektor energi ini sebesar Rp 500 triliun.
Kendati demikian, dia tidak memungkiri bahwa turunnya harga minyak memiliki sisi negatif bagi Indonesia. Pasalnya, ini akan membuat aktivitas eksplorasi di Indonesia menjadi tidak menarik. Dengan demikian, target lifting minyak 605.000 barrel oil per day (BOPD) semakin sulit dicapai.
“Hari ini, kita selalu targetkan 600.000 BOPD. Dahulu saya waktu masih di Kementerian Keuangan, itu target 1 juta BOPD tidak pernah tercapai. Diturunkan 600.000 BOPD, tidak tercapai juga,” kata Sunarsip.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Keputusan Trump Terkait Tarif Kanada-Meksiko
Sunarsip menilai, harga minyak sekarang sudah relatif di tengah-tengah, yakni sekitar US$ 70 per barel. Angka itu sudah menguntungkan bagi dunia usaha, terutama di eksplorasi.
“Kalau harga minyak turun, maka kemungkinan besar aktivitas eksplorasi tidak akan menarik lagi. Implikasinya impor BBM kita, atau impor minyak kita akan naik lagi. Itu situasinya. Jadi itu memang, ini yang harus disiapkan dari sisi pemerintah,” ucap dia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, impor minyak Indonesia kini telah mencapai 1 juta barel per hari (bph) dengan konsumsi minyak di Indonesia saat ini telah tembus 1,6 juta barel per hari. Sementara, lifting minyak nasional berkisar di level 600.000 bph.
"Jadi kita impor kurang lebih sekitar 1 juta barel bph, dengan kita mengalokasikan uang kurang lebih sekitar Rp 500 triliun devisa kita hilang per tahun untuk membeli minyak," ujar Bahlil dalam acara perayaan HUT ke-65 Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) di Jakarta, dikutip Minggu (19/1/2025).

