Harga Komoditas Anjlok, Inilah Sisi Positif dan Negatif bagi Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Kejatuhan harga komoditas di pasar global menyusul penetapan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump menimbulkan dilema bagi Indonesia. Kondisi ini memberikan dampak positif dan negatif sekaligus terhadap perekonomian.
Sisi positifnya, menurut Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro, Sabtu (5/4/2025), adalah berkurangnya tekanan fiskal bagi pemerintah akibat penurunan harga minyak lantaran subsidi BBM berkurang.
Dampak positif lainnya, kenaikan harga emas dapat memberikan keuntungan besar bagi produsen emas Indonesia, termasuk sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia.
Di lain sisi, kata Andry Asmoro, penurunan harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) dapat menekan pendapatan ekspor dan neraca perdagangan Indonesia, yang pada akhirnya berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
„Permintaan tembaga dan nikel yang melemah dapat berdampak pada investasi di sektor pertambangan,“ tegasnya.
Secara menyeluruh, komoditas energi, logam, dan pertanian mengalami penurunan yang signifikan. Harga minyak anjlok, demikian pula logam industri seperti tembaga dan nikel melemah secara signifikan. Adapun komoditas pertanian menunjukkan pergerakan yang beragam namun secara umum negatif.
“Sentimen pasar bergeser ke arah kehati-hatian, mencerminkan kekhawatiran terhadap melambatnya perdagangan global dan melemahnya permintaan,” kata Andry.
Baca Juga
JP Morgan Prediksi Ekonomi AS Memasuki Resesi Semester II-2025 Akibat Kebijkan Resiprokal
Minyak Brent mencatat penurunan harian yang tajam pada 4 April 2025 sebesar 8,13% seiring munculnya kembali kekhawatiran terhadap permintaan. Harga batu bara lebih tahan, namun tetap turun sebesar 1,58%. Harga tembaga merosot lebih dari 5% dalam sehari, mencerminkan kekhawatiran terhadap melemahnya aktivitas industri.
Nikel juga mengikuti tren turun dengan penurunan sebesar 2,56%. Sementara itu, harga emas naik 0,38%, didukung oleh aksi beli aset yang aman (safe-haven). Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) turun 3,59% per hari, dipicu oleh ekspektasi konsumsi global yang lebih lemah.
Andry menekankan, jika perang dagang terus meningkat, pelemahan lebih lanjut pada minyak, batu bara, tembaga, nikel, dan komoditas pertanian seperti CPO diperkirakan akan terjadi akibat menurunnya permintaan global. Sebaliknya, harga emas kemungkinan akan terus menguat karena investor mencari aset yang lebih aman.
„Volatilitas komoditas kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang seiring pasar menilai kembali prospek pertumbuhan global,“ kata dia.
Baca Juga
Powell: Tindakan Trump Sulitkan The Fed Turunkan Bunga dan Membuat Prospek Sangat Tidak Pasti

