Ekonom Paparkan Dampak Negatif Konflik Iran - Israel Bagi Ekonomi Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, menyusul serangan balik yang dilakukan Israel terhadap Iran (19/4/2024).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, jika konflik ini terus berlanjut, akan menimbulkan sejumlah dampak negatif perekonomian dalam negeri.
Menurutnya, dampak utama yang akan timbul ialah naiknya harga minyak dunia. Ketika harga minyak naik, ancaman inflasi global juga membayangi perekonomian. Dan bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, dapat mengalami peningkatan tekanan inflasi impor.
“Dengan melemahnya ekonomi global dan normalisasi harga komoditas, yang berdampak negatif pada kinerja ekspor, surplus neraca perdagangan Indonesia dapat dengan cepat berubah menjadi defisit. Sehingga memicu pelebaran defisit transaksi berjalan dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah,” ujar Josua, kepada Investortrust.id, Senin (22/4/2024).
Baca Juga
Ketegangan Iran - Israel Secara Tidak Langsung Jadi Salah Satu Tantangan Bagi Aktuaris
Naiknya harga minyak mentah dunia, lanjut Josua, juga dapat memberikan tekanan fiskal bagi Indonesia, karena kebijakan fiskal akan bertindak sebagai peredam guncangan melalui subsidi energi dan kompensasi.
”Situasi ini dapat menyebabkan defisit fiskal yang melebar di tengah menurunnya penerimaan negara akibat normalisasi harga komoditas, sehingga meningkatkan pembiayaan anggaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan imbal hasil obligasi Indonesia,” katanya.
Dikatakan Josua, meningkatnya ancaman inflasi global dapat menghalangi bank-bank sentral utama untuk memangkas suku bunga. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed misalnya, mungkin akan terus mempertahankan kebijakan higher for longer secara terus menerus jika inflasi terus berada di target 2+ karena kenaikan harga energi.
“Tingginya suku bunga kebijakan global, ditambah dengan tekanan inflasi domestik dan defisit transaksi berjalan yang melebar akan mempersempit ruang gerak BI (Bank Indonesia) untuk menurunkan BI rate dalam waktu dekat,” jelasnya.
Baca Juga
Mengukur Kekuatan Ekonomi dan Militer Iran dan Israel, Siapa Lebih Kuat?
Ancaman naiknya inflasi juga akan menurunkan daya beli masyarakat yang akan berdampak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Ruang kebijakan fiskal yang menyempit akibat pelebaran defisit akan membatasi belanja pemerintah yang produktif.
Ruang kebijakan moneter yang menyempit, menurutnya, juga dapat menekan kondisi likuiditas perekonomian, termasuk perbankan. Sehingga suku bunga sulit turun yang dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha. Ujungnya, akan memperlambat kegiatan investasi.
“Kenaikan harga minyak dunia juga akan melemahkan ekspor neto. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terancam melemah atau melambat,” kata Josua.
Seperti diketahui, hubungan Iran dan Israel kian memanas usai Israel melancarkan serangan balik ke wilayah Iran (19/4/2024). Setelah pada akhir pekan sebelumnya (13/4/2024) sejumlah drone dan rudal dari Iran diarahkan ke Israel sebagai serangan balik atas apa yang dilakukan sebelumnya terhadap Kantor Konsulat Iran di Suriah.

