Ini 5 Dampak Konflik Iran-Israel ke Ekonomi Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adinegara mengungkap ada 5 dampak serius dari konflik Iran dan Israel ke ekonomi Indonesia. Sebagai negara penghasil minyak ke-7 terbesar di dunia, konflik tersebut bisa memengaruhi produksi dan distribusi minyak Iran.
Bhima menyebut dampak konflik Iran-Israel yang pertama adalah memicu lonjakan harga minyak mentah ke US$ 83 per barel atau meningkat 12% year on year.
“Harga minyak yang melonjak berimbas ke pelebaran subsidi energi hingga pelemahan kurs rupiah lebih dalam. Bagi APBN artinya ada kemungkinan penambahan belanja subsidi energi tahun ini atau dikhawatirkan BBM subsidi akan disesuaikan harga dan kuotanya. Dari sisi penerimaan negara belum tentu naiknya harga minyak menguntungkan APBN karena berbagai komoditas lain seperti batu bara justru harganya anjlok,” ujar Bhima kepada investortrust.id, Sabtu (27/4/2024).
Selanjutnya, dampak kedua adalah keluarnya aliran investasi asing dari negara berkembang karena meningkatnya risiko geopolitik. “Investor juga mencari aset yang aman baik emas dan dolar AS sehingga rupiah bisa saja melemah hingga 17.000 per dolar AS,” kata dia.
Baca Juga
Konflik Iran-Israel Picu Penguatan Harga Batubara, akan Sama Seperti saat Perang Rusia-Ukraina?
Bhima menyebut konflik Iran-Israel akan mengganggu kinerja ekspor Indonesia ke Timur Tengah, Afrika dan Eropa sehingga berakibat pertumbuhan ekonomi akan melambat di kisaran 4,6-4,8% tahun ini.
Dampak berikutnya, lanjut Bhima, konflik Iran-Israel menimbulkan dorongan inflasi karena naiknya harga energi sehingga tekanan daya beli masyarakat bisa semakin besar. “Rantai pasok global yang terganggu perang membuat produsen harus cari bahan baku dari tempat lain, tentu biaya produksi yang naik akan diteruskan ke konsumen,” jelas Bhima.
Terakhir, Bhima menyebut dampak serius dari konflik Iran-Israel menyebabkan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama bahkan ada risiko suku bunga naik.
“Masyarakat yang mau membeli kendaraan bermotor hingga rumah lewat skema kredit siap-siap bunganya akan lebih mahal,” saran Bhima.
Baca Juga
Konflik Iran-Israel, Bagaimana Proyeksi Harga Nikel Bulan Mei 2024?
Sementara dampaknya bagi dunia, Bhima mengatakan krisis global karena perang Israel-Iran bukan tidak mungkin karena sejarah pernah menunjukkan adanya resesi imbas konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, jika harga minyak terus naik dan melewati US$ 100 per barel dalam jangka panjang, Bhima mengatakan subsidi BBM tidak akan cukup sebelum Juni 2024. “Opsinya ditambah lewat realokasi anggaran atau menaikkan harga BBM bersubsidi,” saran Bhima.
Sebelumnya, pemerintah menegaskan akan mempertahankan harga BBM bersubsidi sampai Juni 2024 meski terjadi lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Iran-Israel.
Prediksi Harga Minyak
Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro memprediksi harga minyak bisa tembus US$ 100 per barel. Selain konflik Iran-Israel, pendorong harga minyak juga karena kondisi ekonomi dunia yang sedang tumbuh normal sehingga memicu kebutuhan energi. Sementara sumber-sumber dari energi baru terbarukan (EBT) belum bisa mencukupi kebutuhan.
“Konflik Iran-Israel bakal berlangsung panjang, sementara ekonomi dunia sedang normal sehingga meningkatkan kebutuhan energi di seluruh dunia,” ujar Komaidi, Sabtu (27/4/2024).
Untuk itu, Komaidi meminta pemerintah mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak ini terhadap ekonomi Indonesia.
Pertama, lanjut Komaidi, pemerintah harus mengantisipasi dari sisi fiskal dengan melakukan komunikasi informal ke parlemen terkait pembahasan anggaran subsidi untuk BBM. Sebab, kenaikan harga minyak akan memicu pembengkakan subsidi BBM.
Antisipasi yang lain adalah dengan mengutamakan pasar dalam negeri dengan mengurangi ekspor minyak dan gas bumi (migas) yang diproduksi di dalam negeri. “Artinya, kebutuhan untuk dalam negeri dipenuhi dulu, sisanya baru diekspor,” ujar dia.
Mengutip data Investing.com, harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (26/4/2024) sore. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni 2024 ditutup pada harga US$ 89,38 per barel, naik 0,42% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, untuk kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada harga US$ 83,66 per barel, naik 0,09%.
Dua Solusi Strategi yang Perlu Dilakukan
Sementara itu, terkait dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke sektor manufaktur dalam negeri, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan kondisi saat ini perlu dihadapi dengan dua solusi strategi.
“Pertama, solusi immediate, yakni semua upaya intervensi kebijakan perlu dilakukan untuk menstabilisasi rupiah segera. Pemerintah memang akan punya banyak keterbatasan untuk menciptakan stabilisasi nilai tukar dalam waktu dekat mengingat pemicu tekanan terhadap nilai tukar yang sifatnya eksternal (tidak bisa dikendalikan pemerintah). Namun, kami berharap upaya-upaya intervensi ini tetap terus dilakukan agar rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam dan cepat rebound,” kata Shinta, Sabtu (27/4/2024).
Untuk saat ini, lanjut dia, intervensi-intervensi tersebut harus diarahkan pada kendali terhadap foreign capital flight dan memaksimalkan penerimaan dana asing dari berbagai instrumen penerimaan.
Kedua, Shinta melihat momentum ini seharusnya secara paralel dipergunakan pemerintah untuk meningkatkan daya saing kualitas dan harga pasar produk-produk hulu dan semi-processed nasional agar dapat menciptakan domestic supply chain industri yang lebih kuat dan mendiversifikasi kebutuhan impor bahan baku/penolong.
“Ini memang bukan solusi yang secara immediate bisa mengoreksi tekanan pada industri manufaktur nasional, tapi harus tetap dilakukan sebagai bagian dari reformasi struktural penting untuk menyokong stabilitas rupiah secara tidak langsung,” kata Shinta.

