BPOM Targetkan Masuk di WHO Listed Authority demi Masuknya Aliran Investasi ke Sektor Farmasi
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menargetkan Indonesia diakui secara global dengan masuk dalam WHO Listed Authority (WLA). Menurutnya salah satu dampak positif jika BPOM masuk dalam daftar WLA, akan mampu menarik masuk investasi di bidang farmasi dan pada akhirnya dapat menurunkan harga obat di dalam negeri.
Taruna menjelaskan, jika Indonesia bisa masuk ke WHO Listed Authority (WLA), akan semakin membuka akses investasi masuk ke Indonesia, dan dapat memberikan dampak langsung ke industri farmasi, khususnya terhadap nilai atau biaya produksi obat.
“Jadi dengan demikian nanti secara bertahap patentnya dia sudah diproduksi di dalam negeri kita. Kan begitu, itu yang pertama. Yang kedua dengan cara seperti ini juga bisa menurunkan harga obat,” ucap Taruna saat ditemui di Equilab International, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2025).
Sekadar informasi, WHO Listed Authority (WLA) adalah sebuah pengakuan yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) kepada otoritas regulatori nasional di bidang kesehatan yang telah memenuhi standar tinggi dalam pengawasan kualitas, keamanan, dan efektivitas produk-produk kesehatan, termasuk obat-obatan, vaksin, dan alat kesehatan. Lembaga yang dapat masuk dalam daftar WLA adalah otoritas regulatori nasional bidang pengawasan makanan dan obat dari suatu negara yang memenuhi persyaratan yang ketat berdasarkan evaluasi WHO.
Baca Juga
Bagaimana Perkembangan Kemandirian Farmasi Tanah Air? Intip Penjelasan Kemenkes Ini
Jika suatu negara masuk dalam daftar WLA, maka negara tersebut diakui telah memiliki sistem regulasi kesehatan yang kuat dan dapat dipercaya oleh komunitas internasional, sehingga produk kesehatan seperti obat-obatan dan vaksin dari negara tersebut lebih mudah diterima di pasar internasional tanpa melalui proses evaluasi tambahan.
Negara dalam daftar WLA juga akan lebih mudah berpartisipasi dalam program WHO, seperti inisiatif ketersediaan vaksin atau pengendalian pandemi.
Namun yang masih menjadi kendala dalam pengadaan produk farmasi di Tanah Air adalah tingginya ketergantungan industri obat di Indonesia dari bahan baku impor. Taruna menyebut sekitar 90% bahan baku obat masih mengandalkan produk impor. Tak hanya soal bahan baku, produksi obat di Tanah Air juga harus ikut memperhitungkan paten yang dimiliki oleh perusahaan atau produsen utama dunia.
“Jadi dengan demikian maka caranya adalah kami membuka diri untuk perusahaan-perusahaan asing untuk berinvestasi membuat produksi obat di Indonesia. Kita nggak bisa ambil langsung produk mereka, ya kita minta mereka berinvestasi di negeri kita dan kita memberikan kemudahan regulasi dan sebagainya,” ujarnya.
“Jadi dengan demikian maka caranya adalah kami membuka diri untuk perusahaan-perusahaan asing untuk berinvestasi membuat produksi obat di Indonesia. Kita nggak bisa ambil langsung produk mereka, ya kita minta mereka berinvestasi di negeri kita dan kita memberikan kemudahan regulasi dan sebagainya,” ujarnya.
Untuk mengupayakan Indonesia masuk WHO Listed Authority (WLA), Taruna juga mengemukakan pentingnya keberadaan sebuah laboratorium uji klinis. Untuk itulah ia mengunjungi PT Equilab International, yang merupakan salah satu laboratorium uji klinis yang bisa digunakan para produsen obat lokal dalam memenuhi standarisasi, termasuk dalam konteks uji equivalent, uji bioavailability, uji pharmacokinetic, uji pharmacodynamic, termasuk uji klinik dan uji kosmetik.
Sementara itu Direktur Utama PT Equilab International Ronal Simanjuntak mendukung Badan POM. Sebagai lab pengujian, Ronal bertekad untuk menghasilkan produk-produk yang bermutu agar Indonesia bisa masuk ke dalam WHO Listed Authority (WLA).
“Sehingga jumlah produk fitofarmaka di Indonesia akan semakin banyak, dan juga uji klinik, vaksin, dan juga produk terapetik juga lebih banyak di Indonesia, dan Equilab disini kami sebagai provider yang melakukan uji-uji tersebut,” imbuh Ronal.
Sementara itu Direktur Utama PT Equilab International Ronal Simanjuntak mendukung Badan POM. Sebagai lab pengujian, Ronal bertekad untuk menghasilkan produk-produk yang bermutu agar Indonesia bisa masuk ke dalam WHO Listed Authority (WLA).
“Sehingga jumlah produk fitofarmaka di Indonesia akan semakin banyak, dan juga uji klinik, vaksin, dan juga produk terapetik juga lebih banyak di Indonesia, dan Equilab disini kami sebagai provider yang melakukan uji-uji tersebut,” imbuh Ronal.

