AI Jadi Kunci Indonesia Menuju 5 Besar Ekonomi Dunia pada 2045
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan ekonomi nasional. Pengembangan AI dan ekonomi digital menjadi pilar penting untuk mencapai visi Indonesia sebagai ekonomi terbesar kelima dunia pada 2045.
“Pemerintah telah menetapkan tiga pendorong utama, yaitu konsumsi domestik sebesar 5-6%, percepatan investasi hingga 10%, dan pertumbuhan ekspor sebesar 9%,” jelas Airlangga dalam acara "Alibaba Cloud Developer Summit 2025" di Jakarta, Selasa (21/1/2025).
Baca Juga
Telkom (TLKM) Gandeng Alibaba Perkuat Ekosistem Digital di Indonesia
Airlangga menyebut, ekonomi digital Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada 2024, nilai barang dagangan bruto ekonomi digital mencapai US$ 90 miliar, setara 6% dari produk domestik bruto (PDB). Sebagian besar kontribusi ini berasal dari sektor yang digerakkan oleh AI, seperti e-commerce (72%), transportasi, makanan, perjalanan online, dan media online.
“Dengan proyeksi bisnis seperti biasa, ekonomi digital kita akan berkontribusi hingga US$ 360 miliar pada 2030. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk terus memperkuat ekosistem digitalnya,” ujar dia.
Dalam konteks ASEAN, Airlangga menyebutkan, Kerangka Ekonomi Digital ASEAN (DEFA) menjadi landasan penting. “Ekonomi digital ASEAN diprediksi mencapai US$ 1 triliun pada 2030, tetapi dengan DEFA, angka ini bisa melesat hingga US$ 2 triliun,” tambahnya.
Baca Juga
Umumkan Kolaborasi dengan Alibaba, Saham GOTO malah Berbalik Turun, Kok Bisa?
Di sisi lain, Indonesia juga fokus pada pengembangan talenta digital sebagai pendorong transformasi. “Kita menargetkan 500.000 literasi digital per tahun hingga 2030, sehingga akan ada 9 juta talenta digital baru. AI akan menjadi salah satu keahlian utama yang dibutuhkan,” kata Menko Airlangga.
Sementara itu, Airlangga turut mengapresiasi dukungan Alibaba dalam pelatihan talenta digital di Indonesia. Secara global, AI diproyeksikan menyumbang US$ 15,7 triliun pada 2030, terdiri dari US$ 6,6 triliun dari produktivitas dan US$ 9,1 triliun dari konsumsi.
Airlangga juga menekankan bahwa pengembangan AI harus didukung infrastruktur, seperti pusat data dan semikonduktor. “Pengembangan AI tidak berdiri sendiri. Keamanan siber, kerja sama data lintas batas, dan teknologi semikonduktor adalah elemen kunci,” pungkasnya. (C-13)

