Mari Elka Sebut Langkah Mitigasi Perubahan Iklim Dunia Butuh Biaya US$ 6 Triliun
BAKU, investortrust.id – Pemerintah Indonesia menginisiasi Global Blended Finance Alliance (GBFA) bersama Perancis, Kanada, dan Kenya untuk berkolaborasi dalam pembiayaan transisi energi guna memitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan. Diketahui, total biaya yang dibutuhkan sebesar US$ 6 triliun.
Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu menjelaskan, GBFA bertujuan untuk membantu pembiayaan sebagai upaya mengurangi perubahan iklim dan SDGs.
''Perkiraan (pembiayaan) untuk aksi iklim saja berkisar antara US$ 1-2 triliun. Jika ditambahkan upaya SDGs ke dalamnya, jumlahnya akan mencapai sekitar US$ 6 triliun,” kata Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, dikutip Rabu (13/11/2024).
Dalam hal ini, lanjut Mari, negara berkembang termasuk Indonesia harus merancang strategi untuk menyiasati gap pendanaan tersebut. Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dibutuhkan sekitar US$ 280 miliar untuk seluruh aksi iklim Indonesia hingga tahun 2030, di mana sekitar 30% dari APBN, dan sisa dananya bersumber dari swasta ataupun pihak lainnya.
Baca Juga
10,6 Juta Pelanggan PLN Tak Layak Dapat Subsidi, Negara Rugi Rp 1,2 Triliun per Bulan
“Sebagaimana yang disampaikan Pak Hashim (Djojohadikusumo) dalam sambutannya kemarin, beliau menegaskan bahwa pemerintahan baru akan melanjutkan komitmen pemerintahan sebelumnya. Dan ini (GBFA), adalah salah satu komitmen yang kami harap dapat dilanjutkan,” imbuh Mari.
Sementara itu, Direktur Keuangan PT PLN (Persero) Sinthya Roesly, mengungkapkan bahwa perseroan telah mencanangkan beberapa inisiatif pembiayaan hijau dari lembaga publik, bilateral, multilateral hingga swasta melalui penyusunan Sustainable Linked Financing Framework (SLFF) dan Green Financing Framework (GFF).
Sinthya menyampaikan, PLN telah menargetkan pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sebesar 75%. Untuk mencapai target tersebut, lanjut dia, dibutuhkan estimasi pembiayaan lebih dari US$ 100 miliar hingga 2033.
“Untuk memperoleh pembiayaan transisi energi, salah satu yang paling utama menurut perspektif PLN adalah menyiapkan proyek yang tepat. Kami punya ratusan daftar proyek mulai dari pembangkitan, transmisi dan distribusi, termasuk juga smart grid,” imbuh dia.
Baca Juga
TGI Tandatangani Kerja Sama Pembangunan Pipa Hidrogen Indonesia - Singapura
Adapun beberapa partner institusi keuangan yang memberikan dukungan untuk transisi energi PLN di antaranya World Bank, Asian Development Bank (ADB) hingga Just Energy Transition Partnership (JETP).
“Dalam dua tahun terakhir, kami telah mendapatkan sekitar US$ 2,9 miliar, dan saat ini kami sedang berdiskusi dengan ADB untuk pembiayaan sekitar US$ 4,8 miliar. Kami juga tengah berbicara dengan beberapa investor lain dan total potensi pendanaan yang sudah kami miliki saat ini sebesar US$ 46,9 miliar,” tutup Sinthya.

