Peningkatan Daya Saing Pertanian Perlu Diiringi dengan Investasi
JAKARTA, investortrust.id - Peningkatan investasi untuk memperkuat daya saing sektor pertanian Indonesia menjadi hal yang penting. Saat ini, jumlah investasi di sektor pertanian, termasuk tanaman pangan, perkebunan, dan peternak, cenderung belum stabil.
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Sarah Firdausi mengatakan, potensi sektor pertanian Indonesia sangat besar, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun mendukung kebutuhan ekspor. Namun, berbagai upaya masih perlu dilakukan untuk mendukung petani dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.
Baca Juga
Mentan: Aturan Penghapusan Utang Macet UMKM bisa Tingkatkan Produktivitas Sektor Pertanian
“Masuknya investasi dapat membangun sektor pertanian yang resilien terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan, melalui pendanaan riset, teknologi, dan peningkatan kapasitas masyarakat,” ujarnya melalui keterangan resmi CIPS yang diterima investortrust.id, Minggu (10/11/2024).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya peningkatan investasi sektor pertanian pada 2023 yang mencapai US$ 43 juta, naik dari US$ 39 juta pada tahun sebelumnya. Meski ada peningkatan, jumlah ini masih perlu terus ditingkatkan mengingat berbagai faktor yang mempengaruhi daya saing dan produktivitas pertanian.
Pada 2021, jumlah investasi pertanian hanya mencapai US$ 29 juta atau lebih rendah dibandingkan pada 2020 dengan US$ 32 juta. Penyederhanaan regulasi investasi serta reformasi kebijakan pertanian dan perdagangan sangat penting untuk menjaga peningkatan investasi di sektor pertanian Indonesia.
“Kebijakan pertanian yang inovatif idealnya sejalan dengan kebijakan perdagangan produsen lokal lebih kompetitif. Saat ini, ongkos produksi beras di Indonesia 2,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Vietnam,” tuturnya.
Proses produksi yang belum efisien, ditambah tantangan perubahan iklim, membuat harga pangan lokal menjadi mahal dan kualitasnya kurang sesuai dengan permintaan pasar, sehingga sulit bersaing dengan pangan impor.
Faktor domestik yang menyebabkan harga tinggi perlu diatasi dengan kebijakan yang tepat, termasuk peningkatan riset dan pengembangan, akses terhadap input pertanian berkualitas, dan perbaikan infrastruktur.
“Meski sudah dilakukan berbagai upaya selama bertahun-tahun, efektivitasnya masih belum optimal,” ujar Sarah.
Sarah menambahkan, investasi juga akan membuka lapangan kerja, membawa transfer teknolog dan pengetahuan, serta membuka peluang ekspor baru.
“Namun, proses transfer teknologi harus memastikan bahwa para pekerja Indonesia mendapatkan manfaat dari para investor dan juga mengikuti ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku,” jelasnya.
Baca Juga
Ini Strategi Zulhas Targetkan Kembangkan Potensi Pertanian di Luar Jawa
Beberapa prioritas yang perlu dijaga dengan adanya peningkatan investasi di sektor pertanian antara lain transfer teknologi dan pengetahuan untuk mendukung modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas–terutama pada komoditas bernilai tinggi seperti kopi dan coklat. Penerapan good agriculture practice (GAP) atau sistem tanam berkelanjutan juga akan meningkatkan peluang penetrasi produk ke pasar Eropa.
Peran investasi dalam sektor pertanian menjadi semakin krusial dengan adanya perubahan iklim, yang dampaknya mengancam keberlanjutan sektor ini. Dampak perubahan iklim, seperti cuaca yang tidak menentu, kejadian ekstrim seperti banjir dan kemarau berkepanjangan, serta penurunan kualitas tanah akan mempengaruhi pola tanam, metode pertanian, dan hasil panen, yang pada akhirnya akan berdampak pada ketersediaan pangan.

