Mimpi Jadi Negara Maju, Kesenjangan Digital Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemerintah
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan kesenjangan digital masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mewujudkan Visi Indonesia Digital 2045.
Sebagai catatan, Visi Indonesia Digital 2045 yang diluncurkan pada 13 Desember 2023 merupakan strategi konkret untuk mencapai target nasional jangka panjang mewujudkan Indonesia Emas 2045. Strategi tersebut dijalankan melalui tiga pendekatan, yakni ekosistem, sektoral, dan kewilayahan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan permasalahan seperti kesenjangan akses internet, infrastruktur telekomunikasi, dan keterampilan digital masyarakat perlu menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam hal ini adalah kesenjangan yang terjadi antara wilayah perdesaan dan perkotaan.
Baca Juga
Indonesia Dorong Pendekatan Inklusif dalam Tata Kelola AI Global, Atasi Kesenjangan Digital
“Utamanya kesenjangan yang terjadi antara desa dan kota. Kelompok usia tua dan muda, serta kelompok antara gender laki-laki dan perempuan,” katanya saat membuka The 6th Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2024 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (12/8/2024).
Lebih lanjut, Nezar menyebut digitalisasi yang masif di wilayah perkotaan berhasil mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan profitabilitas bisnis, dan menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, digitalisasi juga berhasil meningkatkan akses bagi peningkatan teknologi untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
“Bagi Indonesia, untuk mencapai status high income economy (ekonomi dengan pendapatan tinggi) pada 2038, di mana pada tahun itu PDB per kapita nasional diproyeksi menjadi US$ 15.700 atau tiga kali lipat dari PDB per kapita nasional 2023. Hal itu dapat diwujudkan dengan asumsi kesenjangan harus diatasi,” tuturnya.
Proyeksi tersebut menurut Nezar sejalan dengan pesatnya digitalisasi secara global yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan 13,5%, menjadi US$ 964 juta pada 2030. Angka tersebut didorong oleh berbagai inovasi teknologi, khususnya teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga
Buka Tabungan Lewat Digital CS BRI Bisa Gratis Kopi Kekinian, Ini Caranya
Terkait dengan upaya untuk mengatasi kesenjangan digital, Nezar mengatakan pemerintah telah melalukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang komprehensif, mencakup tiga tingkatan utama, yaitu tulang punggung (backbone), middle mile, dan last mile.
Di tingkat backbone, pemerintah telah melakukan pergelaran jaringan kabel serat optik Palapa Ring sepanjang 12.229 km, baik di darat maupun di bawah laut.
Kemudian di tingkat middle mile, pemerintah sudah meluncurkan Satelit Republik Indonesia 1 (Satria 1) pada Juni 2023 dengan kapasitas 150 Gbps. Satelit tersebut telah beroperasi di 4.063 titik layanan publik dari target 37.000 titik hingga 2025.
Sementara di tingkat last mile, pemerintah bersama ekosistem telah melakukan pembangunan stasiun pemancar base transceiver station (BTS) di wilayah yang tidak tersentuh sinyal telekomunikasi (blankspot).
Baca Juga
Dorong Penguatan di Industri Kripto dan Aset Keuangan Digital, OJK Rilis Peta Jalan IAKD 2024-2028
Sebanyak 1.665 di antaranya merupakan BTS hasil dari dana pelayanan universal atau universal service obligation (USO) yang dibayarkan oleh operator telekomunikasi. Kemudian 5.198 titik lainnya adalah BTS 4G yang dibangun Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kemenkominfo.
"Pemerintah juga menyediakan 18.697 akses internet di berbagai titik layanan publik seperti sekolah, kantor pemerintahan, fasilitas layanan kesehatan, dan juga pertahanan," pungkas Nezar.

