INSA Sebut Biaya Kargo Naik hingga 63%, Ternyata Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto mengungkapkan, konflik di Laut Merah yang terjadi sejak Jumat, (12/1/2024) mengakibatkan biaya pengiriman kargo (freight) melonjak drastis.
“Ketegangan di Laut Merah telah mengganggu kelancaran kegiatan logistik dunia. Ini memang membuat (biaya) freight naik berkisar 56%-63%. Ada kemungkinan kenaikan masih akan terjadi jika konflik geopolitik dan ketegangan laut merah belum mereda,” kata Carmelita saat dihubungi investortrust.id, Senin (15/7/2024).
Dia menambahkan, kelancaran logistik global pasti berdampak pada kinerja ekspor dan impor Indonesia. Namun, kata Carmelita, persoalan angkutan kargo ini kembali lagi pada negara mana saja yang dibidik oleh Indonesia.
“Misalnya pada impor bahan baku makanan dari Eropa merasakan dampak, baik dari waktu yang terlambat maupun harga naik. Begitu juga pada bahan baku pupuk yang terdampak karena ketegangan di Laut Merah,” ujar Carmelita.
Baca Juga
Rights Issue Tuntas, Sejumlah Direksi Ini Borong Trans Power (TPMA)
“Namun untuk impor alat elektronik yang rantai pasoknya dari Asia tidak terpengaruh. Begitu juga ekspor kita yang mayoritas adalah ke China, tentunya tidak terganggu,” sambungnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun investortrust.id, Serangan yang digencarkan oleh militan Houthi terhadap kapal-kapal pro-Israel yang melintas di Laut Merah dan terusan Suez masih berlanjut. Hal ini berimbas pada pengiriman barang ataupun logistik, serta perdagangan global.
Sebelumnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerangkan, konflik di Laut Merah tersebut akan berakibat pada kenaikan biaya yang akan diperlukan untuk memastikan mengirimkan barang atau freight cost.
Baca Juga
Kendati demikian, Kemendag tidak menyebutkan perkiraan kenaikan biaya untuk pengiriman barang imbas konflik di laut merah tersebut. Ia hanya mengatakan kalau kenaikan harga itu diakibatkan rute perjalanan dari laut merah.
“Kemungkinan ada kenaikan freight cost karena perjalanannya akan memutar (lebih jauh),” ucap Pejabat Kemedag beberapa waktu lalu.
Di sisi dunia pengusaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan, konflik di Laut Merah membuat eksportir kewalahan. Pasalnya, konflik ini membuat kapal kontainer harus memutari Afrika (Tanjung Harapan), sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biayanya pun lebih mahal.
“Logistiknya itu sekarang mahalnya setengah mati karena dia mesti muter. Susah itu. Itu berat sekali buat kita. Jadi memang kondisi geopolitik ini juga gak bantu ya buat kita,” kata Shinta Kamdani beberapa waktu lalu.

